Rotating X-Steel Pointer

Selasa, 15 Juni 2010

AKUNTANSI KONSERVATISME, KUALITAS LABA DAN RETURN SAHAM

Stephen H. Tenman (Columbia University)
Xiao-Jun Zhang (University of California, Berkeley)

Abstrak

Ketika perusahaan mempraktikkan akuntansi konservatisme, perubahan dalam jumlah investasinya dapan mempengaruhi kualitas laba. Pertumbuhan dalam investasi mengurangi laba yang dilaporkan dan membentuk cadangan. Pengurangan investasi dengan melepaskan cadangan, meningkatkan laba. Jika perubahan investasi bersifat sementara, maka laba sekarang untuk sementara tertekan, dan itu tidak merupakan indikasi yang tidak baik bagi laba masa depan.
Penelitian ini mengembangkan dasar-dasar pengukuran dari gabungan pengaruh investasi dan akuntansi konservatif. Penelitian ini menemukan bahwa mengukur perbedaan ramalan dalam return masa depan pada net operating assets relative untuk return masa kini pada net operating assets. Selain itu, juga mengukur return saham-dengan mengindikasikan bahwa investor tidak menaruh perhatian bagaimana konservatisme dan mengubah kombinasi investasi untuk mengangkan pertanyaan tentang kualitas laba yang dilaporkan.

I. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Makalah ini memberikan kontribusi bagi penelitian atas bagaimana metode akuntansi mempengaruhi kualitas laba.
Banyak penelitian atas kualitas laba menitikberatkan pada pengaruh perubahan dalam estimasi akuntansi (lihat Healy dan Wahlen, 1999). Estimasi tersebut diaplikasikan dalam accrual, jadi untuk mengidentifikasi kualitas laba yang rendah, makalah ini meneliti total accrual (seperti dalam Healy, 1985), diskresi accrual (John, 1991), dan accrual yang ekstrim (Sloan, 1996).
Penelitian ini menunjukkan secara empiris bahwa kualitas concern timbul jika perusahaan menerapkan akuntansi konservatif secara konsisten tanpa banyak perubahan dalam estimasi dan metode akuntansi.
Denagn akontansi konservatif kita memaknai pemilihan metode dan estimasi akuntansi yang menjaga nilai buku aktiva bersih relative rendah. Bagaimanapun, akuntansi LIFO bagi persediaan relative konservatif daripada FIFO (jika biaya-biaya persediaan meningkat); Pengeluaran-pengeluaran beban penelitian dan pengembangan (R&D) dapat dikapitalisasi dan diamortisasi juga termasuk konservatif; metode penyusutan yang konsisten digunakan untuk aktiva umur pendek (sebagaimana mencatat penyusutan dalam dampak penyusutan ekonomi) adalah merupakan konservatif
Akuntansi konservatif berpengaruh tidak hanya pada kualitas angka-angka yang dilaporkan pada neraca, tapi juga pada kualitas laba yang dilaporkan pada laporan laba-rugi.

b. Rumusan Masalah:
1) Apakah akuntansi konservatif bertautan dengan perubahan dalam investasi mempengaruhi perubahan secara temporal dalam laba?
2) Apakah harga pasar laba sementara ini sebagaimana jika secara sungguh-sungguh tidak memungkinkan ?
Jawaban untuk pertanyaan pertama adalah mungkin”ya”, dan jawaban yang kedua adalah “tidak”. Untuk keperluan analisis, kita mengembangkan disain matriks untuk aktiva yang berdampak atas laba secara temporer, dan kita menyarankan bahwa matriks tersebut dapat membantu sebagai alat untuk analisis keuangan dan penelitian atas kualitas laba.

c. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap penelitian empiris atas analisis laporan keuangan dan analisis fundamental, sebagaimana Ou dan Penman (1989), Sloan (1996), Penman dan Sougiannis (1998), Lee et al. (1999), dan Nissim dan Penman (2001)

II. KONSERVATISME, INVESTASI, RATE OF RETURN, DAN KUALITAS LABA
a. Definisi Konservatisme
Watts (2003) mendefinisikan konservatisme sebagai perbedaan verifiabilitas yang diminta untuk pengakuan laba dibandingkan rugi. Watts juga menyatakan bahwa konservatisme akuntansi muncul dari insentif yang berkaitan dengan biaya kontrak, litigasi, pajak, dan politik yang bermanfaat bagi perusahaan untuk mengurangi biaya keagenan dan mengurangi pembayaran yang berlebihan kepada pihak – pihak seperti manajer, pemegang saham, pengadilan dan pemerintah. Selain itu, konservatisma juga menyebabkan understatement terhadap laba dalam periode kini yang dapat mengarahkan pada overstatement terhadap laba pada periode – periode berikutnya, sebagai akibat understatement terhadap biaya pada periode tersebut.
Bliss (dalam Watts, 2003) memberikan bentuk definisi yang paling ekstrim yaitu tidak mengantisipasi laba tetapi mengantisipasi semua kerugian. Basu (1997) juga menyatakan bahwa akuntansi konservatif sebagai praktik akuntansi yang mengurangi laba (menghapuskan aktiva bersih) dalam merespon bad news, tetapi tidak meningkat laba (meningkatkan aktiva bersih) dalam merespon good news.
Konsep konservatisme yang dikenal secara umum sebagai ”pengakuan bias” dibagi menjadi dua sub-konsep: conditional and unconditional conservatism (Ball and Shivakumar, 2005; Beaver and Ryan, 2005). Conditional conservatism mengarah pada pemikiran bahwa earnings direfleksikan dalam pengakuan rugi dan laba dalam kondisi asymmetric timeliness, dimana asimmetric timeliness timbul dari kecenderungan akuntan untuk menggunakan verifikasi tingkat tinggi atas pengakuan kabar baik daripada kabar buruk dalam laporan keuangan. Contoh dari conditional conservatism dapat dilihat pada akuntansi persediaan (LOCOM) dan akuntansi impairment untuk aset berwujud dan tidak berwujud jangka panjang.
Unconditional conservatism adalah munculnya bias akuntansi pelaporan nilai buku yang rendah terhadap akun stockholder’s equity. Menurut Watts dan Zimmerman, konservatisme jenis ini tidak melakukan spesifikasi secara kondisional terhadap ekuitas atau pendapatan yang rendah, dan oleh karena itu, tidak mengacu pada pengakuan kerugian yang berbasis waktu.

b. Pengaruh Konservatisme dan Investasi atas Rate of Return
Pengaruh akuntansi konservatisme atas pencatatan rate of return adalah jelas. Jika aktiva neto tidak berubah lebih satu periode, ketika akuntansi konsertaism tidak berpengaruh atas laba dalam penghitungan rate of return. Greenball (1969) menunjukkan bahwa akuntansi konservatisme (bias) berinteraksi dengan pertumbuhan; akuntansi konservatif mengurangi laba ketika ada pertumbuhan dalam aktiva netto sehingga pencatatan rate of return lebih rendah daripada dalam kasus yang tidak bertumbuh. Beaver dan Ryan (2000) dan Zhang (2001) membuat model interaksi konservatisme dan pertumbuhan dalam konteks penilaian.
Pembahasan kita tidak menekankan pada pengaruh konservatisme dan pertumbuhan atas pencatatan rate of return, tetapi dengan menekankan pengaruh interaksi antara konservatisme dan perubahan dalam pertumbuhan. Konservatisme dan pertumbuhan tidak memberikan pengaruh kualitas laba sebagaimana telah didefinisikan. Contoh, jika seseorang mengaharapkan sebuah perusahaan memelihara pertumbuhan dan aktiva netto pada tingkatan saat ini, ketika seseorang mengharapkan rate of return dimasa mendatang cateris paribus, sama sebagaimana rate of return saat ini. Bagaimanapun, mengharuskan manajemen mengurangi investasi dalam asset yang menjadi subyek akuntansi konservatif, rate of return perusahaan akan naik.

III. INDEKS KONSERVATISME DAN KUALITAS LABA
Kita menggunakan informasi dari laporan keuangan untuk membangun dua indikasi kualitas laba. Indeks pertama menilai tingakatan untuk perusahaan yang menerapkan akuntansi konservatif. Indeks kedua menilai kualitas laba dari gabungan pengaruh konservatisme dan perubahan aktivitas investasi.

a. Konservatism Index (C-Score)
C-score mengukur pengaruh akuntansi konservatif pada neraca. Kita mengukur C-score sebagaimana tingkatan estimasi yang dibuat dengan konservatisme, ER, Net Operating Assets relative:

Dimana I menunjukkan perusahaan dan t menunjukkan tanggal neraca. NOA adalah nilai buku dari operating asset dikurangi operating liability, NOA sama dengan aktyiva dikurangi hutang, tidak termasuk asset financial dan hutang financial.

b. Indikator Kualitas Laba / Quality Indicator (Q-Score)
Jika C-score mengukur pengaruh akuntansi konservatif pada neraca, maka Q-score mengukur pengaruh akuntansi konservatif atas laba dalam laporan laba-rugi. Q-score merupakan kombinasi dari dua pengukuran. Ukuran pertama, , dihitung sebagai berikut:
, = –


IV. PEMILIHAN SAMPEL DAN DEKRIPSI
Kita menghitung C-score dan Q-score untuk NYSE dan AMEX perusahaan-perusahaan non-keuangan atas Compustat Annual Industrial and Research Files untuk tahun 1975-1997. Kita mendapatkan Return saham bulanan dari data CRSP tahun 1997. Sampel penelitian ini dimulai tahun 1975 karena data-data akuntansi tahun sebelumnya dibutuhkan untuk membangun indicator yang tidak diperoleh dari Computat untuk sejumlah perusahaan yang signifikan.
Kita dapat menghitung NOA untuk 46.854 dari 46.955 perusahaan non-keuangan pada NYSE dan perusahaan AMEX dengan harga saham, saham yang beredar, dan nilai buku dari data saham biasa pada Computat pada setiap waktu dari tahun 1975 sampai 1997. Terdapat 46.122 perusahaan memiliki NOA positif, dan terdapat data yang cukup untuk menghitung C-score untuk 38.540 perusahaan. Kita menghapus perusahaan hanya jika kita tidak menghitung tiga subscore dari Compusat data. Ketika hanya ada satu atau dua subscore yang hinlang, kita menggunakan subscore industry menengah (untuk dua angka SIC kelompok industry) sebagai pengganti untuk menghitung C-score bagi perusahaan ini
Dari 38.540 perusahaan dimaksud, adalah sebagai berikut:
• Perusahaan dengan satu subscore 8.285
• Perusahaan dengan dua subscore 19.258
• Perusahaan dengan tiga subscore 10.997
Jumlah 38.540

V. RETURN UNTUK ANALISIS KUALITAS
Dalam setiap tahun mulai 1976 sampai 1995, dan dengan masing-masing dua digit kode SIC industry, kita mengurutkan perusahaan kedalam 10 kolompok ukuran yang sama yang didasarkan atas Q-score nya. Tahun ke-0 adalah tahun kita membentuk portofolio. Kumpulan formasi tanggal adalah tiga bulan setelah selesainya tahun fiscal, yang mana perusahaan harus menyusun laporan tahunan dengan SEC. Kita menghitung rata-rata jual-beli return untuk setiap portofolio pada setiap tahun, -2 sampai +5.
Rerata return untuk tahun +1 sampai +5 dalam table 5 menunjukkan hubungan yang positif untuk Q. penyesuaian ukuran return untuk portofolio 7-10 (Q portofolio yang tinggi) adalah positif, dan untuk tahun +1 adalah berbeda secara signifikan dari tahun ke-0. Untuk Q portofolio yang lebih rendah, beberapa menunjukkan negative. Perbedaan antara rerata kolom return portofolio untuk Q tertinggi dan Q terendah dalam tahun +1 adalah 9,03 % atas dasar size-adjusted, sebelum biaya transaksi, hingga strategi zero-net-investment dengan membatalkan posisi investasi jangka panjang dan jangka pendek dalam Q portofolio tertinggi dan terendah.
Kita menilai signifikan secara statistic dari return bagi perusahaan yang diambil secara random untuk Q portofolio dalam 5.000 replikasi dari strategi zero-net-investment. Dilaporkan tingkatan dignifikansi merupakan frekuensi relative dari perbedaan rerata nyata observasi, atau lebih tinggi dalam replikasi ini. Hasil dalam table 5 menampakkan bahwa return yang paling banyak dari saham Q tinggi dan saham Q rendah terjadi dalam tahun pertama setelah tahun ke-0. Gambar 2 menunjukkan bahwa strategi ini akan memiliki return positif sebelum biaya transaksi dalam setiap tahun kecuali pada tahun 1990.
Tidak hanya return untuk strategi zero-net-investmen yang positif setelah tahun ke-0, tetapi terdapat juga yang negative sebelumnya sampai tahun ke-0. Perbedaan dalam return antara kelompok tinggi dan rendah dalam tahun -2 hingga tahun ke-0 dan tahun +1 hingga +5 ditemukan perbedaan dalam perubahan grafik RNOA dalam gambar 1. Diatas tahun -2 hingga tahun ke-0 rerata median-adjusted core RNOA bertambah untuk perusahaan Q rendah, diabndingkan dengan penurunan untuk perusahaan Q tinggi. Jadi return yang terbalik ini konsisten dengan interpretasi pasar atas laba yang dilaporkan perusahaan tahun -2 hingga tahun ke-0, tetapi pembetulan kesalahan ini dan tahun-tahun berikutnya.

VII. KESIMPULAN
Banyak komentator menyatakan bahwa praktik konservatisme dalam akuntansi menciptakan kualitas laba yang lebih tinggi. Konservatisme menghasilkan laba yang lebih rendah, mereka menyatakan, dan juga yang utama laba konservatif ini adalah kualitas yang lebih tinggi. Bagaimanapun, akuntansi konservatif dengan pertumbuhan investasi menekan laba dan pencatatan rate of return, dan menyusun cadangan yang tidak dicatat. Perusahaan-perusahaan yang secara pelan-pelan mengumumkan cadangan ini, menghasilkan laba dan rate of return yang lebih tinggi. Jika perubahan dalam investasi bersifat sementara, maka pengaruh atas laba dan rate of return adalah bersifat sementara, mempengaruhi kualitas laba yang lebih rendah atau kurang dapat menopang laba.
Dengan menyusun indeks konservatisme akuntansi dan menyusun indeks kualitas laba, penelitian ini mengidentifikasi kualitas laba bahwa hasil dari perubahan dalam investasi bergandengan dengan akuntansi konservatif. Kualitas indeks meramalkan bagaimana pengembalian di masa yang akan dating atas net operating assets seperti mengubah tingkat saat ini, jadi indeks kita menyediakan sebuah alat analisis untuk mengidentifikasi kualitas laba yang rendah.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kenaikan kualitas skor memprediksi return saham dimasa mendatang, sebelum biaya-biaya transaksi. Setelah periode 1976-1995, setelah pengawasan untuk mengukur kebiasaan yang diduga sebagai proksi risiko, dan setelah mengawasi pertumbuhan net operating asset dan accrual. Penelitian ini menyarankan bahwa pasar saham tidak memenetrasi kualitas laba perusahaan dengan akuntansi konservatif selama periode sampel. Selaras dengan itu, dengan keberatan bahwa risiko mungkin tidak cukup dikontrol, penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas analisis dalam paper ini akan dimanfaatkan dengan return yang abnormal dalam pasar saham selama periode sampel.

Komunitas Blogger Ngawi