HITOPADESA
Dari semua hal, pengetahuan adalah yang paling baik, karena tidak kena tanggung jawab maupun tidak dapat dicuri, karena tidak dapat dibeli, dan tidak dapat dihancurkan.
W.A. NANCE
Kegagalan dapat dibagi menjadi dua sebab. Yakni, orang yang berpikir tapi tidak pernah bertindak, dan orang yang bertindak tapi tidak pernah berpikir.
Tampilkan postingan dengan label ALK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ALK. Tampilkan semua postingan
Jumat, 22 Juli 2011
Jumat, 24 Juni 2011
Rabu, 22 Juni 2011
Sabtu, 14 Mei 2011
Minggu, 08 Mei 2011
CASE - FINANCIAL STATEMENT ANALYSIS
11.02
M AGUS SUDRAJAT
Silahkan download Case - Analisis Laporan Keuangan di bawah ini :
http://www.ziddu.com/download/14909502/CHAPTER_6.xls.html
Materi Perkuliahan ALK or FSA (Financial Statement Analysis) :
http://www.ziddu.com/download/14909613/FSA_of_SUBRAMANYAM.zip.html
Selasa, 22 Juni 2010
Analisis Penilaian Investasi
10.48
M AGUS SUDRAJAT
KRITERIA PENILAIAN INVESTASI
Dalam pemilihan usulan investasi, manajemen memerlukan informasi akuntansi sebagai salah satu dasar penting untuk menentukan pilihan investasi. Informasi akuntansi dimasukkan dalam suatu model pengambilan keputusan yang berupa kriteria penilaian investasi untuk memungkinkan manajemen memilih investasi terbaik di antara alternatif investasi yang tersedia.
Ada beberapa metode untuk menilai perlu tidaknya suatu investasi atau untuk memilih berbagai macam alternatif investasi.
Pay back method
Average return on investment
Present value
Discounted cash flow (Internal Rate of Return)
Modified Internal Rate of Return (MIRR)
Profitability Index (PI)
Pay back Method
Dalam metode ini faktor yang menentukan penerimaan atau penolakan suatu usulan investasi adalah jangka waktu yang diperlukan untuk menutup kembali investasi. Oleh karena itu, dengan metode ini setiap usulan investasi dinilai berdasarkan apakah dalam jangka waktu tertentu yang diinginkan oleh manajemen , jumlah kas masuk atau penghematan tunai yang diperoleh dari investasi dapat menutup investasi yang direncanakan.
Investas
Pay back period =
Kas masuk bersih
Kelemahan pay back method:
1. Metode ini tidak memeperhitungkan nilai waktu uang.
2. Metode ini tidak memperlihatkan pendapatan selanjutnya setelah investasi pokok kembali.
Kebaikan pay back method:
1. Untuk investasi yang besar resikonya dan sulit diperkirakan, maka metode ini dapat mengetahui jangka waktu yang diperlukan untuk pengembalian investasi.
2. Metode ini dapat digunakan untuk menilai dua investasi yang mempunyai rate of return dan resiko yang sama, sehingga dapat dipilih investasi yang jangka waktu pengembaliannya paling cepat.
3. Metode ini merupakan alat yang paling sederhana untuk penilaian usulan investasi
PV Investasi
Pay back period =
PV Kas masuk bersih
Average Return on Investment
Metode ini sering disebut Financial statement method, karena dalam perhitungannya digunakan angka laba akuntansi
Rata-rata Laba sesudah pajak
Rata-rata kembalian investasi =
Rata-rata investasi
Kriteria pemilihan investasi dengan metode ini adalah: Suatu investasi akan diterima jika tarif kembalian investasinya dapat memenuhi batasan yang telah ditetapkan oleh manajemen.
Kelemahan metode rata-rata kembalian investasi:
1. Belum memperhitungkan nilai waktu uang.
2. Menitik beratkan maslah akuntansi, sehingga kurang memperhatikan data aliran kas dari investasi
3. Merupakan pendekatan jangka pendek.
Present Value Method
Teknik net present value (NPV) merupakan teknik yang didasarkan pada arus kas yang didiskontokan. Ini merupakan ukuran dari laba dalam bentuk rupiah yang diperoleh dari suatu investasi dalam bentuk nilai sekarang. NPV dari suatu proyek ditentukan dengan menhitung nilai sekarang dari arus kas yang diperoleh dari operasi dengan menggunakan tingkat keuntungan yang dikehendaki dan kemudian menguranginya dengan pengeluaran kas neto awal.
NPV = present value dari arus kas operasi – pengeluaran kas neto awal
At Io = nilai investasi atau outlays
NPV = -Io + ∑ ————– At = aliran kas neto pada periode t
( 1 + r ) t r = diacount rate
t = umur proyek.
Jikalau NPV dari suatu proyek positif, hal ini berarti bahwa proyek tersebut diharapkan akan menaikkan nilai perusahaan sebesar jumlah positif dari NPV yang dihitung dari investasi tersebut dan juga bahwa investasi tersebut diharpkan akan menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi daripada tingkat keuntungan yang dikehendaki.
Discounted Cash Flows Method (IRR)
Pada dasarnya metode ini sama dengan metode present value, perbedaanya adalah dalam present value tarif kembalian sudah ditentukan lebih dahulu, sedangkan dalam discounted cash flow justru tarif kembalian yang dihitung sebagi dasar untuk menerima atau menolak suatu usulan investasi. Penentuan tarif kembalian dilakukan dengan metode trial and error, dengan cara sbb;
1. Mencari nilai tunai aliran kas masuk bersih pada tarif kembalian yang dipilih secara sembarang di atas atau dibawah tarif kembalian investasi yang diharapkan.
2. Mengiterpolasikan kedua tarif kembalian tersebut untuk mendapatkan tarif kembalian sesungguhnya.
Modified Internal Rate of Return (MIRR)
MIRR adalah suatu tingkat diskonto yang menyebabkan persent value biaya sama dengan present value nilai terminal,dimana nilai terminal adalah future value dari kas masuk yang digandakan dengan biaya modal.
Nilai terminal CIFt (1 + k ) n-t
PV Biaya = =
(1 + MIRR )n (1 + MIRR )n
dimana:
CIF t : aliran kas masuk pada periode t
MIRR : modified IRR
n : usia proyek
k : biaya modal proyek/tingkat keuntungan diinginkan
Nilai terminal : future value dari aliran kas masuk yang digandakan dengan biaya modal/return diinginkan.
Profitability Index (PI)
PI adalah nilai tunai semua kas masuk yang diterima sesudah investasi awal dibagi dengan investasi awal.
Nilai tunai penerimaan sesudah investasi awal
PI =
Investasi awal
Bila ada beberapa alternatif proyek, manajemen sebaiknya memilih proyek yang memiliki PI lebih besar dari satu dan yang paling tinggi.
Penilaian Investasi dengan Umur (Usia) Ekonomis Berbeda
Untuk memilih usulan investasi yang memiliki umur ekonomis berbeda dapat dilakukan dengan dua pendekatan: Chain method atau Replacement method dan Equivalent annual cost.
Langkah-langkah chain method:
1. Mencari angka kelipatan persekutuan terkecil yang dapat dibagi oleh kedua umur usulan investasi.
2. Menghitung present value biaya dari masing-masing usulan investasi
Langkah-langkah equivalent annual cost :
1. Menghitung present value dari biaya usulan investasi dengan discount rate tertentu.
2. Mencari annuity factor dari discounted rate yang digunakan untuk menghitung present value investasi yang bersangkutan.
3. Membagi present value masing-masing usulan investasi (poin 1) dengan (poin 2).
4. Usulan investasi yang memiliki biaya ekuivalen tahunan terkecil merupakan usulan yang dipilih.
Pengaruh Inflasi pd Capital Budgeting
Apabila laju inflasi cukup signifikan, maka perlu diperimbangkan dalam keputusan capital budgeting.
Ada dua komponen yang terpengaruh oleh inflasi, yaitu aliran kas masuk dan tingkat penghasilan (rate of return) atau cost of capital yang diinginkan. Oleh karena itu kedua komponen tersebut perlu disesuaikan. Pedoman penyesuaiannya adalah sbb:
1. Kalikan indeks harga dengan aliran kas yang diukur berdasarkan nilai rupiah riil untuk mendapatkan arus kas dengan nilai nominal.
2. Hitung tingkat penghasilan nominal :
(1 + tingkat inflasi ) ( 1 + tingkat penghasilan ) – 1
Soal Konflik NPV dan IRR
Suatu perusahaan menghadapi dua pilihan investasi yang sifatnya mutually exclusive, yaitu proyek A dan B. Perkiraan aliran kas neto untuk kedua usulan adalah sebagai berikut:
Proyek Aliran kas neto per tahun (Rp)
Tahun 0 1 2 3 4
Proyek A (40.000.000) 15.000.000 15.000.000 15.000.000 15.000.000
Proyek B (40.000.000) 0 5.000.000 25.000.000 40.000.000
Apabila tingakt pengembalian yang disyaratkan 10%, buatlah keputusan manakah investasi yang layak diterima jika dinilai dengan metoda NPV dan IRR.
Analisis Investasi Penggantian
Kasus 1
Suatu perusahaan sedang mempertimbangkan penggantian salah satu mesin produksinya dengan mesin yang lebih baru dengan alasan untuk penghematan biaya (efisiensi). Mesin lama mempunyai umur ekonomis 10 tahun dan telah digunakan selama 5 tahun. Informasi tentang kedua mesin tersebut adalah sebagai berikut:
Mesin Lama Mesin Baru
Harga mesin Rp 160.000.000 Rp 210.000.000
Umur ekonomis 10 th 5 th
Nilai sisa Rp 10.000.000 Rp 20.000.000
Harga jual mesin lama Rp 95.000.000
Penghematan penggunaan mesin baru diperkirakan Rp 40.000.000 per tahun. Tingkat keuntungan yang layak adalah Rp 20% dan tingkat pajak sebesar 30%. Apakah sebaiknya perusahaan mengganti mesin lama dengan mesin baru dengan menggunakan metoda NPV dan IRR.
Kasus 2
Suatu perusahaan sedang mempertimbangkan membeli mesin baru, yaitu mesinA dan mesin B. Kedua mesin tersebut diharapkan memberikan return yang sama besar. Spesifikasi kedua mesin adalah sebagai berikut:
Mesin A Mesin B
Harga beli Rp 100.000.000 Rp 80.000.000
Umur ekonomis 3 th 2 th
Biaya tunai per tahun Rp 30.000.000 Rp 36.000.000
Apabila discount rate yang diperhitungkan 10 % mesin mana yang akan dipilih.
Dampak Inflasi
Suatu perusahaan melakukan investasi pada jasa pengakutan. Investasi kendaraan senilai Rp 500.000.000,- dengan umur ekonomis 5 tahun. Kendaraan tersebut didepresiasi dengan garis lurus tanpa residu. Pendapatan rata-rata per tahun sebesar Rp 200.000.000,- dan biaya tunai per tahun Rp 40.000.000,-. Tingkat keuntungan yang dianggap layak adalah 14% dan pajak sebesar 20%.
a. Apakah investasi tersebut layak dilakukan apabila dengan kiteria NPV dan IRR
b. Apabila tingkat inflasi diestimasi 8% per tahun apakah investasi tesebut juga layak dilakukan.
Soal Latihan:
1. Pada awal tahun 2000 manajemen PT Pantang Mundur merencanakan mengganti mesin lama dengan mesin baru. Alasan penggantian ini didasarkan pertimbangan penghematan biaya. Perbandingan biaya mesin lama dengan mesin baru dalam satu tahun adalah sebagai berikut.
Keterangan Mesin Lama Mesin Baru
Biaya bahan bakar 40.000 lt (premium) Rp 40.000.000
Biaya bahan bakar 30.000 lt (solar) Rp 16.500.000
Biaya pemeliharaan dan operasional Rp 15.000.000 Rp 10.000.000
Harga beli mesin lama adalah Rp 100.000.000 dan akumulasi depresiasinya Rp 80.000.000,-. Taksiran harga jual mesin lama sebesar Rp 15.000.000,-. Harga beli mesin baru ditaksir Rp 120.000.000 dengan umur ekonomis 10 tahun yang akan didepresiasi dengan garis lurus tanpa nilai residu. Tingkat pajak yang berlaku 15% dan tingkat keuntungan yang diharapkan 10%.
Diminta:
Berdasarkan data tersebut apakah rencana penggantian mesin dapat diterima.
2. PT Maju Terus mempertimbangkan untuk mengganti mesin A. Nilai buku mesin A adalah Rp 4.000.000,- dan memiliki sisa umur ekonomis 4 tahun tanpa nilai residu. Bila mesin A dijual pada saat sekarang, harga pasarnya sebesar Rp 1.000.000,-. Manajemen PT Maju Terus tidak berani membeli mesin baru yang memiliki umur panjang mengingat perkembangan teknologi yang peKsat. Oleh sebab itu manajemen PT Maju Terus mempertimbangkan membeli mesin B yang memiliki umur ekonomis 4 tahun. Harga mesin B Rp 10.000.000,- dengan nilai residu pada akhir tahun ke-4 sebesar Rp 1.000.000,- Dengan mesin baru biaya operasional per tahun Rp 7.000.000,- sedang dengan mesin A Rp 10.000.000,- . Bila manajemen tetap menggunakan mesin A pada akhir tahun ke-2 manajemen harus melakukan perbaikan besar yang diduga memerlukan biaya Rp 2.000.000,-. Tingkat pajak yang berlaku 10% dan biaya penggunaan modal sebesar 15%.
Diminta:
a. Berdasarkan data diatas apakah rencana penggantian mesin dapat diterima bila digunakan kriteria investasi dengan net present value.
b. Apabila tingkat inflasi sebesar 10%, bagaimana pengaruhnya terhadap rencana investasi tersebut.
Dalam pemilihan usulan investasi, manajemen memerlukan informasi akuntansi sebagai salah satu dasar penting untuk menentukan pilihan investasi. Informasi akuntansi dimasukkan dalam suatu model pengambilan keputusan yang berupa kriteria penilaian investasi untuk memungkinkan manajemen memilih investasi terbaik di antara alternatif investasi yang tersedia.
Ada beberapa metode untuk menilai perlu tidaknya suatu investasi atau untuk memilih berbagai macam alternatif investasi.
Pay back method
Average return on investment
Present value
Discounted cash flow (Internal Rate of Return)
Modified Internal Rate of Return (MIRR)
Profitability Index (PI)
Pay back Method
Dalam metode ini faktor yang menentukan penerimaan atau penolakan suatu usulan investasi adalah jangka waktu yang diperlukan untuk menutup kembali investasi. Oleh karena itu, dengan metode ini setiap usulan investasi dinilai berdasarkan apakah dalam jangka waktu tertentu yang diinginkan oleh manajemen , jumlah kas masuk atau penghematan tunai yang diperoleh dari investasi dapat menutup investasi yang direncanakan.
Investas
Pay back period =
Kas masuk bersih
Kelemahan pay back method:
1. Metode ini tidak memeperhitungkan nilai waktu uang.
2. Metode ini tidak memperlihatkan pendapatan selanjutnya setelah investasi pokok kembali.
Kebaikan pay back method:
1. Untuk investasi yang besar resikonya dan sulit diperkirakan, maka metode ini dapat mengetahui jangka waktu yang diperlukan untuk pengembalian investasi.
2. Metode ini dapat digunakan untuk menilai dua investasi yang mempunyai rate of return dan resiko yang sama, sehingga dapat dipilih investasi yang jangka waktu pengembaliannya paling cepat.
3. Metode ini merupakan alat yang paling sederhana untuk penilaian usulan investasi
PV Investasi
Pay back period =
PV Kas masuk bersih
Average Return on Investment
Metode ini sering disebut Financial statement method, karena dalam perhitungannya digunakan angka laba akuntansi
Rata-rata Laba sesudah pajak
Rata-rata kembalian investasi =
Rata-rata investasi
Kriteria pemilihan investasi dengan metode ini adalah: Suatu investasi akan diterima jika tarif kembalian investasinya dapat memenuhi batasan yang telah ditetapkan oleh manajemen.
Kelemahan metode rata-rata kembalian investasi:
1. Belum memperhitungkan nilai waktu uang.
2. Menitik beratkan maslah akuntansi, sehingga kurang memperhatikan data aliran kas dari investasi
3. Merupakan pendekatan jangka pendek.
Present Value Method
Teknik net present value (NPV) merupakan teknik yang didasarkan pada arus kas yang didiskontokan. Ini merupakan ukuran dari laba dalam bentuk rupiah yang diperoleh dari suatu investasi dalam bentuk nilai sekarang. NPV dari suatu proyek ditentukan dengan menhitung nilai sekarang dari arus kas yang diperoleh dari operasi dengan menggunakan tingkat keuntungan yang dikehendaki dan kemudian menguranginya dengan pengeluaran kas neto awal.
NPV = present value dari arus kas operasi – pengeluaran kas neto awal
At Io = nilai investasi atau outlays
NPV = -Io + ∑ ————– At = aliran kas neto pada periode t
( 1 + r ) t r = diacount rate
t = umur proyek.
Jikalau NPV dari suatu proyek positif, hal ini berarti bahwa proyek tersebut diharapkan akan menaikkan nilai perusahaan sebesar jumlah positif dari NPV yang dihitung dari investasi tersebut dan juga bahwa investasi tersebut diharpkan akan menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi daripada tingkat keuntungan yang dikehendaki.
Discounted Cash Flows Method (IRR)
Pada dasarnya metode ini sama dengan metode present value, perbedaanya adalah dalam present value tarif kembalian sudah ditentukan lebih dahulu, sedangkan dalam discounted cash flow justru tarif kembalian yang dihitung sebagi dasar untuk menerima atau menolak suatu usulan investasi. Penentuan tarif kembalian dilakukan dengan metode trial and error, dengan cara sbb;
1. Mencari nilai tunai aliran kas masuk bersih pada tarif kembalian yang dipilih secara sembarang di atas atau dibawah tarif kembalian investasi yang diharapkan.
2. Mengiterpolasikan kedua tarif kembalian tersebut untuk mendapatkan tarif kembalian sesungguhnya.
Modified Internal Rate of Return (MIRR)
MIRR adalah suatu tingkat diskonto yang menyebabkan persent value biaya sama dengan present value nilai terminal,dimana nilai terminal adalah future value dari kas masuk yang digandakan dengan biaya modal.
Nilai terminal CIFt (1 + k ) n-t
PV Biaya = =
(1 + MIRR )n (1 + MIRR )n
dimana:
CIF t : aliran kas masuk pada periode t
MIRR : modified IRR
n : usia proyek
k : biaya modal proyek/tingkat keuntungan diinginkan
Nilai terminal : future value dari aliran kas masuk yang digandakan dengan biaya modal/return diinginkan.
Profitability Index (PI)
PI adalah nilai tunai semua kas masuk yang diterima sesudah investasi awal dibagi dengan investasi awal.
Nilai tunai penerimaan sesudah investasi awal
PI =
Investasi awal
Bila ada beberapa alternatif proyek, manajemen sebaiknya memilih proyek yang memiliki PI lebih besar dari satu dan yang paling tinggi.
Penilaian Investasi dengan Umur (Usia) Ekonomis Berbeda
Untuk memilih usulan investasi yang memiliki umur ekonomis berbeda dapat dilakukan dengan dua pendekatan: Chain method atau Replacement method dan Equivalent annual cost.
Langkah-langkah chain method:
1. Mencari angka kelipatan persekutuan terkecil yang dapat dibagi oleh kedua umur usulan investasi.
2. Menghitung present value biaya dari masing-masing usulan investasi
Langkah-langkah equivalent annual cost :
1. Menghitung present value dari biaya usulan investasi dengan discount rate tertentu.
2. Mencari annuity factor dari discounted rate yang digunakan untuk menghitung present value investasi yang bersangkutan.
3. Membagi present value masing-masing usulan investasi (poin 1) dengan (poin 2).
4. Usulan investasi yang memiliki biaya ekuivalen tahunan terkecil merupakan usulan yang dipilih.
Pengaruh Inflasi pd Capital Budgeting
Apabila laju inflasi cukup signifikan, maka perlu diperimbangkan dalam keputusan capital budgeting.
Ada dua komponen yang terpengaruh oleh inflasi, yaitu aliran kas masuk dan tingkat penghasilan (rate of return) atau cost of capital yang diinginkan. Oleh karena itu kedua komponen tersebut perlu disesuaikan. Pedoman penyesuaiannya adalah sbb:
1. Kalikan indeks harga dengan aliran kas yang diukur berdasarkan nilai rupiah riil untuk mendapatkan arus kas dengan nilai nominal.
2. Hitung tingkat penghasilan nominal :
(1 + tingkat inflasi ) ( 1 + tingkat penghasilan ) – 1
Soal Konflik NPV dan IRR
Suatu perusahaan menghadapi dua pilihan investasi yang sifatnya mutually exclusive, yaitu proyek A dan B. Perkiraan aliran kas neto untuk kedua usulan adalah sebagai berikut:
Proyek Aliran kas neto per tahun (Rp)
Tahun 0 1 2 3 4
Proyek A (40.000.000) 15.000.000 15.000.000 15.000.000 15.000.000
Proyek B (40.000.000) 0 5.000.000 25.000.000 40.000.000
Apabila tingakt pengembalian yang disyaratkan 10%, buatlah keputusan manakah investasi yang layak diterima jika dinilai dengan metoda NPV dan IRR.
Analisis Investasi Penggantian
Kasus 1
Suatu perusahaan sedang mempertimbangkan penggantian salah satu mesin produksinya dengan mesin yang lebih baru dengan alasan untuk penghematan biaya (efisiensi). Mesin lama mempunyai umur ekonomis 10 tahun dan telah digunakan selama 5 tahun. Informasi tentang kedua mesin tersebut adalah sebagai berikut:
Mesin Lama Mesin Baru
Harga mesin Rp 160.000.000 Rp 210.000.000
Umur ekonomis 10 th 5 th
Nilai sisa Rp 10.000.000 Rp 20.000.000
Harga jual mesin lama Rp 95.000.000
Penghematan penggunaan mesin baru diperkirakan Rp 40.000.000 per tahun. Tingkat keuntungan yang layak adalah Rp 20% dan tingkat pajak sebesar 30%. Apakah sebaiknya perusahaan mengganti mesin lama dengan mesin baru dengan menggunakan metoda NPV dan IRR.
Kasus 2
Suatu perusahaan sedang mempertimbangkan membeli mesin baru, yaitu mesinA dan mesin B. Kedua mesin tersebut diharapkan memberikan return yang sama besar. Spesifikasi kedua mesin adalah sebagai berikut:
Mesin A Mesin B
Harga beli Rp 100.000.000 Rp 80.000.000
Umur ekonomis 3 th 2 th
Biaya tunai per tahun Rp 30.000.000 Rp 36.000.000
Apabila discount rate yang diperhitungkan 10 % mesin mana yang akan dipilih.
Dampak Inflasi
Suatu perusahaan melakukan investasi pada jasa pengakutan. Investasi kendaraan senilai Rp 500.000.000,- dengan umur ekonomis 5 tahun. Kendaraan tersebut didepresiasi dengan garis lurus tanpa residu. Pendapatan rata-rata per tahun sebesar Rp 200.000.000,- dan biaya tunai per tahun Rp 40.000.000,-. Tingkat keuntungan yang dianggap layak adalah 14% dan pajak sebesar 20%.
a. Apakah investasi tersebut layak dilakukan apabila dengan kiteria NPV dan IRR
b. Apabila tingkat inflasi diestimasi 8% per tahun apakah investasi tesebut juga layak dilakukan.
Soal Latihan:
1. Pada awal tahun 2000 manajemen PT Pantang Mundur merencanakan mengganti mesin lama dengan mesin baru. Alasan penggantian ini didasarkan pertimbangan penghematan biaya. Perbandingan biaya mesin lama dengan mesin baru dalam satu tahun adalah sebagai berikut.
Keterangan Mesin Lama Mesin Baru
Biaya bahan bakar 40.000 lt (premium) Rp 40.000.000
Biaya bahan bakar 30.000 lt (solar) Rp 16.500.000
Biaya pemeliharaan dan operasional Rp 15.000.000 Rp 10.000.000
Harga beli mesin lama adalah Rp 100.000.000 dan akumulasi depresiasinya Rp 80.000.000,-. Taksiran harga jual mesin lama sebesar Rp 15.000.000,-. Harga beli mesin baru ditaksir Rp 120.000.000 dengan umur ekonomis 10 tahun yang akan didepresiasi dengan garis lurus tanpa nilai residu. Tingkat pajak yang berlaku 15% dan tingkat keuntungan yang diharapkan 10%.
Diminta:
Berdasarkan data tersebut apakah rencana penggantian mesin dapat diterima.
2. PT Maju Terus mempertimbangkan untuk mengganti mesin A. Nilai buku mesin A adalah Rp 4.000.000,- dan memiliki sisa umur ekonomis 4 tahun tanpa nilai residu. Bila mesin A dijual pada saat sekarang, harga pasarnya sebesar Rp 1.000.000,-. Manajemen PT Maju Terus tidak berani membeli mesin baru yang memiliki umur panjang mengingat perkembangan teknologi yang peKsat. Oleh sebab itu manajemen PT Maju Terus mempertimbangkan membeli mesin B yang memiliki umur ekonomis 4 tahun. Harga mesin B Rp 10.000.000,- dengan nilai residu pada akhir tahun ke-4 sebesar Rp 1.000.000,- Dengan mesin baru biaya operasional per tahun Rp 7.000.000,- sedang dengan mesin A Rp 10.000.000,- . Bila manajemen tetap menggunakan mesin A pada akhir tahun ke-2 manajemen harus melakukan perbaikan besar yang diduga memerlukan biaya Rp 2.000.000,-. Tingkat pajak yang berlaku 10% dan biaya penggunaan modal sebesar 15%.
Diminta:
a. Berdasarkan data diatas apakah rencana penggantian mesin dapat diterima bila digunakan kriteria investasi dengan net present value.
b. Apabila tingkat inflasi sebesar 10%, bagaimana pengaruhnya terhadap rencana investasi tersebut.
Sabtu, 12 Juni 2010
Analisis BEP
10.29
M AGUS SUDRAJAT




Manfaat Break-Even Point :
1.Menentukan posisi laba-rugi perusahaan
2.Menentukan penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian
3.Menentukan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu
Persamaan BEP :
Y=cx – bx – a
Y = laba
c = harga jual per unit
x = jumlah produk
b = biaya variabel satuan
a =biaya tetap total
cx = hasil penjualan
bx = biaya variabel total
X(BEP dalam unit) = a/(c-b)
CX(BEP dalam unit) = ac/(c-b) = a/(1 - b/c)
MATERI LEBIH LENGKAP AKAN DISAMPAIKAN
PADA WAKTU PERKULIAHAN "ALK" SELASA JAM 13.00 WIB
TERIMA KASIH...
Analisis Perubahan Pendapatan
10.23
M AGUS SUDRAJAT
Pengertian Pendapatan
Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi (selama periode) yang timbul dalam rangka kegiatan usaha dari suatu badan bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, selain yang berkaitan dengan meningkatkan kontribusi dari ekuitas peserta. (IAS 18,7).
Pendapatan harus diukur pada nilai wajar dengan pertimbangan diterimanya piutang.(IAS 18,9)
Pengakuan Pendapatan
Pencatatan jumlah rupiah pendapatan secara formal ke dalam sistem pembukuan sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statement keuangan.
Dua konsep penting:
Pembentukan pendapatan (earning of revenue)
Realisasi pendapatan (realization of revenue)
Saat Pengakuan Pendapatan
Berbagai gagasan:
Saat kontrak penjualan disepakati
Selama proses produksi secara bertahap
Saat produksi selesai
Saat penjualan
Saat kas terkumpul
A. Permintaan
Permintaan adalah keinginan konsumen untuk membeli suatu komoditi pada berbagai tingkat harga selama periode waktu tertentu
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan :
Harga barang yang bersangkutan (Px)
Harga barang lain yang terkait (substitusi / komplemen / Pz)
Tingkat pendapatan (I)
Selera / kebiasaan (T)
Jumlah penduduk (Pen)
Perkiraan harga komoditi yang bersangkutan dimasa mendatang (Pxe)
Distribusi pendapatan (Dist)
Usaha-usaha produsen dalam meningkatkan penjualan (Prom)
Hukum permintaan
Permintaan suatu barang akan meningkat jika harga barang tersebut turun dan permintaan barang akan turun jika harga barang tersebut naik, ceterisparibus.
(Ceterisparibus berarti faktor selain harga komoditi yang bersangkutan dipertahankan konstan / tidak berubah)
Kasus – kasus pergeseran kurva permintaan
Berubahnya harga komoditi substitusi
Berubahnya harga komoditi komplemen
Berubahnya pendapatan masyarakat
Berubahnya selera
Berubahnya jumlah penduduk
perkiraan harga X dimasa mendatang
Upaya produsen meningkatkan penjualan
B. Penawaran (Supply-Sx)
Penawaran adalah jumlah barang yang produsen ingin tawarkan (jual) pada berbagai tingkat harga selama satu periode tertentu
Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran :
Harga barang yang bersangkutan (Px)
Harga barang lain yang terkait (substitusi / komplemen / Pz)
Harga faktor produksi (Pi)
Biaya produksi (Bp)
Teknologi (Ti)
Jumlah pedagang (Jp)
Tujuan perusahaan (Tp)
Kebijakan pemerintah (Kp)
Kasus perubahan penawaran (pergeseran kurva penawaran):
Biaya produksi naik (jumlah penawaran berkurang dan kurva penawaran bergeser ke kiri)
Diskusikan di kelas untuk kasus:
Harga barang substitusi naik
Terdapat kemajuan teknologi produksi
Harga bahan baku naik
Harga barang komplemen turun
Keseimbangan pasar (market equilibrium):
Keseimbangan pasar adalah suatu kondisi dimana ditandai dengan tidak terjadinya kelebihan penawaran (excess suplly) karena harga terlalu tinggi atau kelebihan permintaan (excess demand) karena harga terlalu rendah
Secara matematik, QSx = QDx
Secara grafis terjadi pada titik potong antara kurva permintaan dengan kurva penawaran
Pertemuan Selanjutnya "ANALISIS BEP"
Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi (selama periode) yang timbul dalam rangka kegiatan usaha dari suatu badan bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, selain yang berkaitan dengan meningkatkan kontribusi dari ekuitas peserta. (IAS 18,7).
Pendapatan harus diukur pada nilai wajar dengan pertimbangan diterimanya piutang.(IAS 18,9)
Pengakuan Pendapatan
Pencatatan jumlah rupiah pendapatan secara formal ke dalam sistem pembukuan sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statement keuangan.
Dua konsep penting:
Pembentukan pendapatan (earning of revenue)
Realisasi pendapatan (realization of revenue)
Saat Pengakuan Pendapatan
Berbagai gagasan:
Saat kontrak penjualan disepakati
Selama proses produksi secara bertahap
Saat produksi selesai
Saat penjualan
Saat kas terkumpul
A. Permintaan
Permintaan adalah keinginan konsumen untuk membeli suatu komoditi pada berbagai tingkat harga selama periode waktu tertentu
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan :
Harga barang yang bersangkutan (Px)
Harga barang lain yang terkait (substitusi / komplemen / Pz)
Tingkat pendapatan (I)
Selera / kebiasaan (T)
Jumlah penduduk (Pen)
Perkiraan harga komoditi yang bersangkutan dimasa mendatang (Pxe)
Distribusi pendapatan (Dist)
Usaha-usaha produsen dalam meningkatkan penjualan (Prom)
Hukum permintaan
Permintaan suatu barang akan meningkat jika harga barang tersebut turun dan permintaan barang akan turun jika harga barang tersebut naik, ceterisparibus.
(Ceterisparibus berarti faktor selain harga komoditi yang bersangkutan dipertahankan konstan / tidak berubah)
Kasus – kasus pergeseran kurva permintaan
Berubahnya harga komoditi substitusi
Berubahnya harga komoditi komplemen
Berubahnya pendapatan masyarakat
Berubahnya selera
Berubahnya jumlah penduduk
perkiraan harga X dimasa mendatang
Upaya produsen meningkatkan penjualan
B. Penawaran (Supply-Sx)
Penawaran adalah jumlah barang yang produsen ingin tawarkan (jual) pada berbagai tingkat harga selama satu periode tertentu
Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran :
Harga barang yang bersangkutan (Px)
Harga barang lain yang terkait (substitusi / komplemen / Pz)
Harga faktor produksi (Pi)
Biaya produksi (Bp)
Teknologi (Ti)
Jumlah pedagang (Jp)
Tujuan perusahaan (Tp)
Kebijakan pemerintah (Kp)
Kasus perubahan penawaran (pergeseran kurva penawaran):
Biaya produksi naik (jumlah penawaran berkurang dan kurva penawaran bergeser ke kiri)
Diskusikan di kelas untuk kasus:
Harga barang substitusi naik
Terdapat kemajuan teknologi produksi
Harga bahan baku naik
Harga barang komplemen turun
Keseimbangan pasar (market equilibrium):
Keseimbangan pasar adalah suatu kondisi dimana ditandai dengan tidak terjadinya kelebihan penawaran (excess suplly) karena harga terlalu tinggi atau kelebihan permintaan (excess demand) karena harga terlalu rendah
Secara matematik, QSx = QDx
Secara grafis terjadi pada titik potong antara kurva permintaan dengan kurva penawaran
Pertemuan Selanjutnya "ANALISIS BEP"
ANALISIS MODAL KERJA
10.15
M AGUS SUDRAJAT
Oleh :
M. Agus Sudrajat
A. Pengertian Modal Kerja
Banyak perusahaan mengalami kesulitan karena pimpinan perusahaan kurang
mengetahui pergertian modal kerja dan fungsinya dalam suatu perusahaan, dimana
modal kerja sering sekali digunakan untuk membeli aktiva tetap sehingga akan menimbulkan
kesulitan bagi perusahaan. Untuk menghindari hal yang demikian, maka perlu
diketahui pengertian dari modal kerja.
J.Fred Weston dan Thomas E.Copeland memberikan pengertian modal kerja
sebagai berikut :
“Working capital is defined as curreilt assets minus current liabilities. Thus, working
capital represents the firm's investment in cash, marketable securities, accounts
receivable, and inventories less the current liabilities used to finance the current
assets.”
Dari pengertian diatas, modal kerja adalah selisih antara aktiva lancar dan hutang
lancar. Dengan demikian modal kerja merupakan investasi dalam kas, surat-surat
berharga, piutang dan persediaan dikurangi hutang lancar yang digunakan untuk
melindungi aktiva lancar.
Bambang Riyanto mengemukakan modal kerja dapat dibagi menurut konsep
sebagai berikut :
1. Konsep Kwantitatif
2. Konsep Kwalitatif
3. Konsep Fungsional
1. Konsep Kwantitatif
Modal kerja menurut konsep kwalitatif menggambarkan keseluruhan atau
jumlah dari aktiva lancar seperti kas, surat-surat berharga, piutang persediaan atau
keseluruhan dari pada jumlah aktiva lancar dimana aktiva lancar ini sekali berputar
dan dapat kembali ke bentuk semula atau dana tersebut dapat bebas lagi dalam
waktu yang relatif pendek atau singkat. Konsep ini biasanya disebut modal kerja
bruto (gross working capital).
Berdasarkan konsep tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa konsep
tersebut hanya menunjukkan jumlah dari modal kerja yang digunakan untuk menjalankan
kegiatan operasi perusahaan sehari-hari yang sifatnya rutin, dengan tidak
mempersoalkan dari mana diperoleh modal kerja tersebut, apakah dari pemilik
hutang jangka panjang ataupun hutang jangka pendek.
Modal kerja yang besar belum tentu menggambarkan batas keamanan atau
margin of safety yang baik atau tingkat keamanan para kreditur jangka pendek yang
tinggi. Jumlah modal kerja yang besar belum tentu menggambarkan likuiditas
perusahaan yang baik sekaligus belum tentu menggambarkan jaminan kelangsungan
operasi perusahaan pada periode berikutnya.
2. Konsep Kwalitatif
Menurut konsep kwalitatif modal kerja merupakan selisi antara aktiva lancar
diatas hutang lancar. Digunakan kerja ini merupakan sebahagian dari aktiva lancar
yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahan tanpa
menunggu likuiditasnya. Konsep ini biasa disebut dengan modal kerja netto (net
working capital).
Defenisi ini bersifat kwalitatif karena menunjukkan tersedianya aktiva lancar yang
lebih besar dari pada hutang lancar dan menunjukkan tingkat keamanan bagi
kreditur jangka pendek serta menjamin kelangsungan operasi di mana mendatang
dan kemampuan perusahaan untuk memperoleh tambahan jangka pendek dengan
jaminan aktiva lancar.
3. Konsep Fungsional
Modal kerja menurut konsep ini menitikberatkan pada fungsi dari pada dana
dalam menghasilkan pendapatan (income) dari usaha pokok perusahaan. Setiap
dana yang digunakan dalam perusahaan dimaksudkan untuk menghasilkan
pendapatan. Ada sebagian dana yang digunakan dalam satu periode akuntansi
tertentu yang menghasilkan pendapatan pada periode tersebut. Sementara itu, ada
pula dana yang dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan pada periode-periode
selanjutnya atau dimasa yang akan datang, misalnya bangunan, mesin-mesin, alatalat
kantor dan aktiva tetap lainnya yang disebut future income. Jadi modal kerja
menurut konsep ini adalah dana yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan
pada saat ini sesuai dengan maksud utama didirikannya perusahaan.
Pengendalian jumlah modal kerja yang tepat akan menjamin kontinuitas
operasi dari perusahaan secara efisien dan ekonomis. Bilamana modal kerja terlalu
besar, maka dana yang tertanam dalam modal kerja melebihi kebutuhan, sehingga
terjadilah idle fund. Padahal dana itu sendiri sebenarnya dapat digunakan untuk
keperluan lain dalam rangka peningkatan laba. Tetapi bilamana modal kerja terlalu
kecil atau kurang, maka perusahaan akan kurang mampu memenuhi permintaan
langganan seperti membeli bahan mentah, membayar gaji pegawai dan upah buruh
ataupun kewajiban-kewajiban lainnya yang segera harus dilunasi.
Dengan demikian kebaikan dan keburukan modal kerja dalam perusahaan
dapat dilihat sebagai berikut :
! Kelebihan atas modal kerja mengakibatkan kemampuan laba menurun
sebagai akibat lambatnya perputaran dana perusahan.
! Menimbulkan kesan bahwa manajemen tidak mampu mengunakan modal
kerja secara efisien.
! Kalau Modal kerja tersebut dipinjam dari bank maka perusahaan mengalami
kerugian dalam membayar bunga.
Tetapi bilamana modal kerja cukup, akan dapat memberikan keuntungankeuntungan
bagi perusahaan, seperti :
a. Melindungi kemungkinan terjadinya krisis keuangan guna membenahi modal kerja
yang diperlukan.
b. Merencanakan dan mengawasi rencana perusahaan menjadi rencana keuangan di
dalam jangka pendek.
c. Menilai kecepatan perputaran modal kerja dalam arti yang menyeluruh.
d. Membayar atau memenuhi kewajiban jangka pendek sesuai dengan jatuh tempo.
e. Memperoleh kredit sebagai sumber dana guna memperbesar pemenuhan
kebutuhan kekayaan aktiva lancar.
f. Memberikan pedoman yang baik sehingga tidak terdapat keraguan manajemen
guna memperoleh efisiensi yang baik.
B. Berbagai kebijaksanaan Modal Kerja
Pada dasarnya kerja bersifat sangat fleksibel yang berarti bahwa modal kerja
dapat dengan mudah diperbesar ataupun diperkecil, sesuai dengan kebutuhan
perusahaan. Sebagai sebuah subsistem, perusahaan tidak dapat terlepas dari sistem
perekonomian pada umunya. Oleh karena itu konjungtur perekonomian sangat
mempengaruhi jumlah kebutuhan akan modal kerja yang dioperasikan.
Disamping itu masing-masing perusahaan memiliki tipe modal kerja sendirisendiri
sesuai dengan jenis bidang usaha maupun levelnya masing-masing. Tipe
modal kerja perusahaan dapat dipengaruhi, misalnya memiliki sifat musiman atau
konstan setiap saat. Bagi perusahaan yang memiliki musim penjualan, dengan
sendirinya akan membutuhkan modal kerja relatif lebih besar dari masa tidak
musim. Sehingga karena tipe-tipe tersebut juga mengakibatkan penentuan sumbersumber
dana yang akan dipergunakan atau yang akan dioperasikan.
Pada umumnya tipe modal kerja berdasarkan sifat bekerjanya dapat
digolongkan sebagai berikut :
1. Modal kerja permanen (Permanen Working Capital) yaitu modal kerja yangnharus
tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya atau dengan kata
lain modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha.
Permanen Working Capital ini dapat dibedakan dalam :
! Modal kerja primer (Primary Working Capital) yaitu jumlah modal kerja
minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas
usahanya.
! Modal kerja normal (Normal Working Capital) yaitu jumlah modal kerja yang
diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal.
2. Modal kerja variabel (Variabel Working Capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya
berobah-obah sesuai dengan perobahan keadaan, dan modal kerja ini dibedakan
antara :
! Modal kerja musiman (Seasonal Working Capital) yaitu modal kerja yang
jumlahnya berobah-obah disebabkan karena fluktuasi musim.
! Modal kerja siklis (Cyclical Working Capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya
berobah-obah disebabkan karena fluktuasi konyungtur.
! Modal kerja darurat (Emergency Working Capital) yaitu modal kerja yang
besarnya berubahubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui
sebelumnya (misalnya adanya pemogokan buruh, banjir, perobahan keadaan
ekonomi yang mendadak.
Modal kerja dapat dibiayai dengan modal sendiri. Hutang jangka pendek
maupun hutang jangka panjang. Sistem pembelanjaan yang akan dipilih haruslah
didasarkan pada pertimbngan mengenai laba dan resiko.
Untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, sebaiknya dibiayai dengan modal
yang seminimal mungkin. Akan tetapi agar perputaran modal perusahaan dapat
ditingkatkan seringkali perusahaan harus mencari dana dari luar guna menutup
kebutuhan modal kerja.
Untuk itu perusahaan dapat menggunakan prinsip-prinsip pembelanjaan yaitu :
! Modal yang diperoleh sebagai pinjaman jangka pendek hanya dapat
digunakan untuk membiayai modal kerja.
! Modal yang diperoleh sebagai pinjaman jangka panjang dapat dipakai untuk
modal kerja atau investasi.
Apabila modal yang diperoleh dari pinjaman jangka pendek digunakan untuk
membiayai investasi, maka akan sangat membahayakan karena di samping
bunganya sangat tinggi, pada saat harus mengembalikan pinjaman ternyata
investasi belum menghasilkan. Untuk menentukan berapa jumlah modal yang
dibutuhkan dalam pinjaman jangka panjang, atau jangka pendek, maka terlebih
dahulu dihitung jangka-jangka waktu kritisnya.
Lawrence D.Schall dan Charles W.Haley dalam bukunya Introduction to
Financial Management menyatakan :
" Finance short term needs with short term sources and finance long term needs with
long term sources."
Dengan demikian kebutuhan modal kerja permanen sebaiknya dibiayai dengan
modal sendiri. Semakin besar jumlah modal sendiri maka akan semakin baik bagi
perusahaan karena akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk memperoleh
kredit dan semakin besar jaminan bagi kreditur jangka pendek. Disamping itu
kebutuhan modal kerja yang permanen dapat juga dibiayai dengan penjualan
obligasi atau jenis hutang jangka panjang lainnya, tetapi dalam hal ini perusahaan
harus mempertimbangkan jatuh tempo dari hutang jangka panjang tersebut dan
beban bunga yang harus dibayar oleh perusahaan. Sedangkan modal kerja variabel
dapat dibiayai dengan hutang jangka pendek yang jangka waktunya tidak lebih dari
pada kebutuhan modal kerja.
C. Cara-cara Mengestimasi Kebutuhan Modal kerja
Dengan tersedianya modal kerja yang cukup memungkinkan perusahaan
untuk beroperasi secara ekonomis, efisien, clan terhindar dari resiko kesulitan
likuiditas. Untukmenentukan modal kerja yang cukup pada suatu perusahaan perlu
terlebih dahulu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya modal kerja.
Menurut Bambang Riyanto, besar kecilnya kebutuhan modal kerja terutama
tergantung kepada dua faktor, yaitu :
1. Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja, dan
2. Pengeluaran kas rata-rata setiap harinya.
Periode perputaran yang tetap, dengan makin besarnya jumlah pengeluaran
kas setiap harinya mengakibatkan jumlah kebutuhan modal kerja menjadi semakin
besar pula. Jumlah pengeluaran setiap harinya yang tetap, dengan makin lamanya
periode perputarannya mengakibatkan jumlah modal kerja yang dibutuhkan adalah
semakin besar.
Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja adalah merupakan
keseluruhan jumlah dari periode-periode aktivitas perusahaan yang meliputi jangka
waktu pemberian kredit beli, lama penyimpanan bahan mentah di gudang, lamanya
proses produksi, lamanya barang jadi simpanan di gudang dan jangka waktu
penerimaan piutang. Pengeluaran setiap harinya merupakan jumlah pengeluaran kas
rata-rata setiap harinya untuk keperluan pembelian bahan mentah, bahan
pembantu, pembayaran upah buruh, dan biaya-biaya lainnya.
Periode perputaran
! Lamanya proses produksi = 10 hari
! Lamanya barang disimpan di gudang = 10 hari
! Jangka waktu penerimaan piutang = 10 hari
! Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja = 30 hari
Pengeluaran setiap harinya
! Bahan mentah = Rp. 4.000,-
! Bahan pembantu = Rp. 2.000,-
! Upah buruh = Rp. 3.000,-
! Pengeluaran-pengeluaran lain = Rp. 1.000,-
! Jumlah pengeluaran setiap harinya = Rp.10.000,-
Kebutuhan modal kerja bagi perusahaan yang menjalankan aktivitas usaha setiap
harinya untuk dapat menjamin kontinuitas usahanya dibutuhkan modal kerja sebesar
minimal Rp. 10.000 x 30 = Rp. 300.000,-
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa kebutuhan modal kerja
perusahaan dapat di bedakan dalam 2 kategori kebutuhan yaitu : kebutuhan yang
bersifat permanen dan kebutuhan yang bersifat musiman atau dikenal sebagai
kebutuhan variabel. Kebutuhan modal kerja variabel akan berubah-ubah sesuai
dengan kebutuhannya diatas kebutuhan permanen. Hal ini bisa terjadi misalnya jika
suatu saat terjadi kenaikan permintaan barang sehingga diperlukan tambahan dana.
Kebutuhan yang bersifat temporer ini perlu diestimasikan agar perusahaan dapat
terhindar dari resiko kesulitan likuiditas.
Ada 3 pendekatan yang dibutuhkan untuk membelanjai kebutuhan dana yang
bersifat campuran (financing mix) yaitu :
1. Aggresive approach
2. Conservative approach
3. Trade-off keduanya.
Pendekatan yang bersifat agresif kebutuhan dana jangka pendek dibelanjai
dengan sumber dana jangka pendek dan kebutuhan dana jangka panjang dibelanjai
dengan sumber dana jangka panjang. Kebutuhan dana yang bersifat variabel atau
musiman dipenuhi dengan sumber dana jangka pendek. Sedangkan pembelanjaan
permanen dipenuhi dari sumber dana jangka panjang. Berdasarkan pendekatan ini
perusahaan harus memiliki net working capital dalam jumlah yang sama dengan
bagian current assets yang dibelanjai dengan sumber dana jangka panjang. Strategi
ini mengundang resiko karena harus mempertahankan net working capital yang
rendah. Namun demikian, profit yang diperoleh dalam jumlah yang tinggi karena
total costnya yang rendah.
Berdasarkan pendekatan konservatir, semua kebutuhan dana dibelanjai
dengan sumber dana jangka panjang dan sumber dana jangka pendek digunakan
hanya dalam keadaan darurat. Pendekatan konservatif mempunyai resiko yang
rendah karena net working capitalnya yang besar. Akan tetapi profit yang diperoleh
juga rendah karena total costnya yang tinggi.
Kebanyakan perusahaan menggunakan rencana pembelanjaan yang terletak
di antara pendekatan profit tinggi-resiko tinggi (agresive approach) dan profit
rendah-resiko rendah (conservative approach), sehingga keuntungan yang diperoleh
cukup layak (moderat) tetapi resiko yang dihadapi juga tidak terlalu tinggi.
Pendekatan diantara keduanya (trade-off approach) ini menggunakan net working
capital yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar, sehingga resiko yang dihadapi
lebih rendah dari pada pendekatan agresif dan profit yang diperoleh juga lebih tinggi
dari profit berdasarkan pendekatan konservatif.
Penentuan pendekatan mana yang terbaik dari antara ketiga pendekatan
tersebut bagi suatu perusahaan tergantung kepada kondisi yang ingin dicapai oleh
perusahaan tersebut, dan kondisi yang ada pada perusahaan itu sendiri. Walaupun
pendekatan yang agresif misalnya, lebih menguntungkan ditinjau dari segi profit
yang dihasilkan, namun faktor-faktor seperti fluktuasi penjualan dan kemampuan
mengestimasikan penerimaan sangat menentukan pendekatan mana yang sebaiknya
dilakukan oleh perusahaan.
D. Rasio-Rasio Modal Kerja
Dalam menganalisa modal kerja suatu perusahaan, seseorang menganalisa
memerlukan adanya suatu ukuran tertentu, ukuran tersebut diperoleh dengan
menggunakan analisa ratio, yaitu suatu cara untuk menganalisa hubungan dari
berbagai pos dalam suatu laporan keuangan. Hasil dan analisa ini merupakan dasar
untuk dapat menginterpretasikan kondisi kuangan dan hasil operasi perusahaan.
Perhitungan rasio sangat penting bagi pihak luar yang ingin menilai laporan
keuangan suatu perusahaan. Penilaian dititikberatkan pada kemampuan perusahaan
untuk memenuhi kewajiban jangka pendek atau likuiditas, salvobilitas, rentabilitas,
dan prospek perusahaan di masa depan. Analisa rasio ini berguna juga bagi pihak
perusahaan untuk membantu manajer dalam membuat evaluasi mengenai hasil
operasi, memperbaiki kesalahan yang terjadi akibat penyimpangan atas rencana
yang telah disusun dan menghindari hal-hal lain yang bersifat merugikan
perusahaan.
Banyak macam rasio yang dapat dihitung dari informasi yang terdapat dalam
laporan keuangan. Pada dasarnya angka-angka rasio itu dapat dikelompokkan
menjadi dua golongan. Golongan yang pertama adalah rasio yang didasarkan pada
sumber data keuangan dan golongan kedua adalah rasio yang disusun berdasarkan
tujuan penganalisa dalam mengevaluasi perusahaan.
Berdasarkan sumber datanya, rasio-rasio dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :
1. Ratio-ratio neraca (balance sheet ratios) yaitu ratio-ratio disusun dari data
yang berasal dari neraca, misalnya ratio lancar (current ratio), ratio tunai
(quick ratio), ratio modal sendiri dengan total aktiva, ratio aktiva tetap
dengan hutang jangka panjang dan sebagainya.
2. Ratio-ratio laporan laba rugi (income statement ratios), yaitu ratio-ratio yang
disusun dari data yang berasal dari laporan perhitungan laba rugi, misalnya
ratio laba bruto dengan penjualan netto, ratio laba usaha dengan penjualan
netto, operating ratio, dan lain sebagainya.
3. Ratio-ratio antar laporan (intern statement ratios), yaitu ratio-ratio yang
disusun dari data yang berasal dari neraca dan laporan laba rugi , misalnya
ratio penjualan netto dengan aktiva usaha, ratio penjualan kredit dengan
piutang rata-rata, ratio harga pokok penjualan dengan persediaan rata-rata,
dan lain sebagainya.
Ada berbagai pendapat tentang kategori ratio berdasarkan tujuan penganalisa
dalam mengevaluasi suatu perusahaan berdasarkan laporan keuangannya.
E. Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Analisa sumber dan penggunaan modal kerja sangat penting bagi penganalisa
intern dan ekstern. Maksud utama dari anakisa ini adalah untuk mengetahui dari
mana modal tersebut dipergunakan. Dengan kata lain, analisa sumber dan
penggunaan modal kerja erat kaitannya dengan dana yang diperoleh dan dapat
dipergunakan oleh perusahaan dalam kegiatan operasinya sehari-hari dalam suatu
periode tertentu. Laporan yang menggambarkan dari mana datangnya modal kerja
dan untuk apa modal kerja itu digunakan disebut laporan sumber dan penggunaan
modal kerja.
Dalam laporan sumber dan penggunaan modal kerja tercantum sumbersumber
dan penggunaan dana yang berasal dari unsur-unsur modal kerja sendiri,
karena perubahan-perubahan yang hanya menyangkut unsur-unsur aktiva lancar
dan hutang lancar tidak akan mempengaruhi jumlah aktiva tetapi tidak
mempengaruhi modal kerja antara lain :
! Pembelian barang dagangan atau bahan-bahan baku secara tunai. Jadi
mengeluarkan kas tetapi di pihak lain persediaan bertambah dalam jumlah
yang sama.
! Adanya perubahan dari bentuk ke bentuk piutang yang lain dari piutang
dagang menjadi piutang wesel dan seterusnya. Dengan demikian tetap
merupakan satu bagian dari modal kerja
Dengan demikian maka jumlah modal kerja hanya berubah kalau ada
perubahan unsur-unsur selain current account yang disebut non current seperti
aktiva tetap, hutang jangka panjang, dan modal sendiri yang mempunyai effek netto
terhadap modal kerja.
Perubahan unsur-unsur rekening tidak lancar yang mempunyai pengaruh
memperbesar modal kerja (netto) adalah :
! Berkurangnya aktiva tidak lancar;
! Bertambahnya hutang jangka panjang;
! Bertambahnya modal saham;
! Adanya keuntungan dari operasi perusahaan.
Sedangkan perubahan unsur-unsur rekening tidak lancar yang mempunyai
pengaruh memperkecil modal kerja (netto) adalah :
! Bertambahnya aktiva tidak lancar;
! Berkurangnya hutang jangka panjang;
! Berkurangnya modal saham;
! Pembayaran dividen tunai;
! Adanya kerugian dalam operasi perusahaan.
` Perubahan-perubahan dari unsur-unsur non current account yang mempunyai
efek memperbesar modal kerja disebut sumber modal kerja (sources of working
capital) dan perubahan-perubahan dari unsur-unsur non current yang mempunyai
efek memperkecil modal kerja disebut penggunaan modal kerja (application of
working capital).
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan sumber kerja perusahaan pada
umumnya diperoleh dari :
1. Penambahan non current liabilities. Pengeluaran obligasi misalnya akan
mengakibatkan pertambahan kas (harta lancar) tanpa diikuti oleh
pertambahan dalam hutang jangka pendek.
2. Penambahan modal saham. Pengeluaran saham biasanya akan
mengakibatkan pertambahan kas atau harta lancar tanpa dibarengi oleh
pertambahan dalam hutang jangka pendek. Pengecualian dalam hal ini ialah
bila pengeluaran saham baru disertai dengan penurunan dalam hutang
jangka panjang misalnya obligasi dikonversikan kepada modal saham.
3. Penambahan jumlah laba yang ditahan. Suatu pertambahan dalam jumlah
laba yang ditahan akan mengakibatkan penambahan dalam modal kerja.
Dalam hal ini pendapatan atau laba bersih merupakan sumber modal kerja.
4. Pengurangan harta tidak lancar. Suatu pengurangan dalam jumlah harta
tidak lancar biasanya akan merupakan suatu pertambahan dalam jumlah
modal kerja. Penjualan gedung, mesin, dan peralatan berat lainnya akan
mengakibatkan pertambahan kas tanpa diikuti oleh pertambahan dalam
jumlah hutang jangka pendek.
Sedangkan penggunaan-penggunaan modal kerja meliputi :
1. Pengurangan jumlah hutang tidak lancar. Pengurangan dalam jumlah hutang
tidak lancar biasanya akan mengurangi jumlah modal kerja. Misalnya
pelunasan hutang jangka panjang akan mengurangi kas tanpa diikuti oleh
pengurangan dalam hutang jangka pendek. Pengkonversian obligasi kepada
modal saham merupakan pengecualian dalam hal ini.
2. Pengurangan jumlah modal saham. Suatu pengurangan jumlah modal saham
akan mengakibatkan berkurangnya modal kerja. Pembelian dan pemilikan
kembali saham-sahamnya oleh perusahaan akan memerlukan penggunaan
modal kerja.
3. Pengurangan jumlah laba yang tidak dibagi. Pengurangan dalam jumlah laba
yang tidak dibagi biasanya mengakibatkan pengurangan jumlah modal kerja.
Misalnya pembayaran dividen akan mengurangi modal kerja, tetapi
pengeluaran stock dividen tidak akan mempengaruhi jumlah modak kerja
karena hanya akan mengurangi jumlah laba yang tidak dibagi di satu pihak
dan penambahan modal saham di lain pihak dengan jumlah yang sama.
4. Penambahan harta tidak lancar. Suatu pertambahan dalam harta tidak lancar
akan mengakibatkan pengurangan modal kerja, misalnya pembelian mesin
dan peralatan-peralatan baru akan mengurangi kas atau harta lancar tanpa
diikuti pengurangan yang sama dalam jumlah hutang jangka pendek.
Jika jumlah modal kerja pada suatu saat lebih besar dari pada jumlah modal
kerja pada saat sebelumnya berarti ada kenaikan modal kerja. Hal ini disebabkan
karena sumber-sumbernya lebih besar dari penggunaannya sehingga mempunyai
efek netto yang positif terhadap modal kerja. Sebaliknya kalau penggunaannya lebih
besar dari sumbernya maka efek nettonya akan memperkecil modal kerja. Kalau
besarnya sumber persis sama dengan besarnya penggunaan berarti tidak ada efek
nettonya terhadap modal kerja sehingga besarnya modal kerja tidak berubah.
Untuk menyusun laporan sumber dan penggunaan modal kerja sehingga
dapat dilakukan daftar neraca untuk dua periode atau dua titik waktu. Laporan
tersebut menggambarkan perubahan dari masing-masing elemen neraca antar
kedua titik waktu itu dan setiap perobahan elemen tersebut mencerminkan adanya
sumber dan penggunaan modal kerja.
Adapun langkah-langkah dalam menyusun
laporan sumber atau penggunaan modal kerja adalah sebagai berikut :
1. Menyusun laporan perubahan modal kerja
Laporan ini menggambarkan perubahan dari masing-masing unsur modal
kerja atau unsur current account antara dua titik waktu. Dengan laporan
tersebut dapat diketahui adanya kenaikan atau penurunan modal kerja serta
besarnya perubahan modal kerja.
2. Mengelompokkan perubahan-perubahan dari unsur-unsur non current
accounts antara dua titik waktu tersebut kedalam golongan yang mempunyai
efek memperbesar modal kerja dan golongan yang mempunyai efek
memperkecil modal kerja.
3. Mengelompokkan unsur-unsur dalam laporan laba ditahan kedalam golongan
yang mempunyai efek memperbesar modal kerja dan golongan yang
mempunyai efek memperkecil.
4. Menyusun laporan sumber dan penggunaan modal kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Syafaruddin. 1993. Alat-alat Analisis Dalam Pembelanjaan. Edisi ketiga,
cetakan pertama. Yogyakarta : Andi Ofset
Gitosdarmo, Indriyo dan Basry. 1989. Manajemen Keuangan. Edisi kedua, cetakan
pertama. Yogyakarta : BPFE.
Munawir, S. 1988. Analisa Laporan Keuangan. Edisi ketiga, cetakan pertama.
Yogyakarta : Liberty.
Djarwanto, PS. 1989. Pokok-pokok Analisa Laporan Keuangan. Edisi pertama,
cetakan kedua. Yogyakarta : BPFE.
Riyanto Bambang. 1995. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi keempat.
Yogyakarta : Yayasan Badan Penerbit Gadjah Mada.
Samosir, Anton. 1985. Kebijakan Manajemen Pembelanjaan. Medan : Universitas
HKBP Nomensen.
Schall Lawrence D, Charles W. Harley. 1988. Introduction to Financial Management.
Fifth Edition. United Nation of America : Mc. Graw-Hill
Weston, J. Fred, Thomas Copeland. Managerial Finance. Edisi 8th. CBS International :
Driden Press.
M. Agus Sudrajat
A. Pengertian Modal Kerja
Banyak perusahaan mengalami kesulitan karena pimpinan perusahaan kurang
mengetahui pergertian modal kerja dan fungsinya dalam suatu perusahaan, dimana
modal kerja sering sekali digunakan untuk membeli aktiva tetap sehingga akan menimbulkan
kesulitan bagi perusahaan. Untuk menghindari hal yang demikian, maka perlu
diketahui pengertian dari modal kerja.
J.Fred Weston dan Thomas E.Copeland memberikan pengertian modal kerja
sebagai berikut :
“Working capital is defined as curreilt assets minus current liabilities. Thus, working
capital represents the firm's investment in cash, marketable securities, accounts
receivable, and inventories less the current liabilities used to finance the current
assets.”
Dari pengertian diatas, modal kerja adalah selisih antara aktiva lancar dan hutang
lancar. Dengan demikian modal kerja merupakan investasi dalam kas, surat-surat
berharga, piutang dan persediaan dikurangi hutang lancar yang digunakan untuk
melindungi aktiva lancar.
Bambang Riyanto mengemukakan modal kerja dapat dibagi menurut konsep
sebagai berikut :
1. Konsep Kwantitatif
2. Konsep Kwalitatif
3. Konsep Fungsional
1. Konsep Kwantitatif
Modal kerja menurut konsep kwalitatif menggambarkan keseluruhan atau
jumlah dari aktiva lancar seperti kas, surat-surat berharga, piutang persediaan atau
keseluruhan dari pada jumlah aktiva lancar dimana aktiva lancar ini sekali berputar
dan dapat kembali ke bentuk semula atau dana tersebut dapat bebas lagi dalam
waktu yang relatif pendek atau singkat. Konsep ini biasanya disebut modal kerja
bruto (gross working capital).
Berdasarkan konsep tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa konsep
tersebut hanya menunjukkan jumlah dari modal kerja yang digunakan untuk menjalankan
kegiatan operasi perusahaan sehari-hari yang sifatnya rutin, dengan tidak
mempersoalkan dari mana diperoleh modal kerja tersebut, apakah dari pemilik
hutang jangka panjang ataupun hutang jangka pendek.
Modal kerja yang besar belum tentu menggambarkan batas keamanan atau
margin of safety yang baik atau tingkat keamanan para kreditur jangka pendek yang
tinggi. Jumlah modal kerja yang besar belum tentu menggambarkan likuiditas
perusahaan yang baik sekaligus belum tentu menggambarkan jaminan kelangsungan
operasi perusahaan pada periode berikutnya.
2. Konsep Kwalitatif
Menurut konsep kwalitatif modal kerja merupakan selisi antara aktiva lancar
diatas hutang lancar. Digunakan kerja ini merupakan sebahagian dari aktiva lancar
yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahan tanpa
menunggu likuiditasnya. Konsep ini biasa disebut dengan modal kerja netto (net
working capital).
Defenisi ini bersifat kwalitatif karena menunjukkan tersedianya aktiva lancar yang
lebih besar dari pada hutang lancar dan menunjukkan tingkat keamanan bagi
kreditur jangka pendek serta menjamin kelangsungan operasi di mana mendatang
dan kemampuan perusahaan untuk memperoleh tambahan jangka pendek dengan
jaminan aktiva lancar.
3. Konsep Fungsional
Modal kerja menurut konsep ini menitikberatkan pada fungsi dari pada dana
dalam menghasilkan pendapatan (income) dari usaha pokok perusahaan. Setiap
dana yang digunakan dalam perusahaan dimaksudkan untuk menghasilkan
pendapatan. Ada sebagian dana yang digunakan dalam satu periode akuntansi
tertentu yang menghasilkan pendapatan pada periode tersebut. Sementara itu, ada
pula dana yang dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan pada periode-periode
selanjutnya atau dimasa yang akan datang, misalnya bangunan, mesin-mesin, alatalat
kantor dan aktiva tetap lainnya yang disebut future income. Jadi modal kerja
menurut konsep ini adalah dana yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan
pada saat ini sesuai dengan maksud utama didirikannya perusahaan.
Pengendalian jumlah modal kerja yang tepat akan menjamin kontinuitas
operasi dari perusahaan secara efisien dan ekonomis. Bilamana modal kerja terlalu
besar, maka dana yang tertanam dalam modal kerja melebihi kebutuhan, sehingga
terjadilah idle fund. Padahal dana itu sendiri sebenarnya dapat digunakan untuk
keperluan lain dalam rangka peningkatan laba. Tetapi bilamana modal kerja terlalu
kecil atau kurang, maka perusahaan akan kurang mampu memenuhi permintaan
langganan seperti membeli bahan mentah, membayar gaji pegawai dan upah buruh
ataupun kewajiban-kewajiban lainnya yang segera harus dilunasi.
Dengan demikian kebaikan dan keburukan modal kerja dalam perusahaan
dapat dilihat sebagai berikut :
! Kelebihan atas modal kerja mengakibatkan kemampuan laba menurun
sebagai akibat lambatnya perputaran dana perusahan.
! Menimbulkan kesan bahwa manajemen tidak mampu mengunakan modal
kerja secara efisien.
! Kalau Modal kerja tersebut dipinjam dari bank maka perusahaan mengalami
kerugian dalam membayar bunga.
Tetapi bilamana modal kerja cukup, akan dapat memberikan keuntungankeuntungan
bagi perusahaan, seperti :
a. Melindungi kemungkinan terjadinya krisis keuangan guna membenahi modal kerja
yang diperlukan.
b. Merencanakan dan mengawasi rencana perusahaan menjadi rencana keuangan di
dalam jangka pendek.
c. Menilai kecepatan perputaran modal kerja dalam arti yang menyeluruh.
d. Membayar atau memenuhi kewajiban jangka pendek sesuai dengan jatuh tempo.
e. Memperoleh kredit sebagai sumber dana guna memperbesar pemenuhan
kebutuhan kekayaan aktiva lancar.
f. Memberikan pedoman yang baik sehingga tidak terdapat keraguan manajemen
guna memperoleh efisiensi yang baik.
B. Berbagai kebijaksanaan Modal Kerja
Pada dasarnya kerja bersifat sangat fleksibel yang berarti bahwa modal kerja
dapat dengan mudah diperbesar ataupun diperkecil, sesuai dengan kebutuhan
perusahaan. Sebagai sebuah subsistem, perusahaan tidak dapat terlepas dari sistem
perekonomian pada umunya. Oleh karena itu konjungtur perekonomian sangat
mempengaruhi jumlah kebutuhan akan modal kerja yang dioperasikan.
Disamping itu masing-masing perusahaan memiliki tipe modal kerja sendirisendiri
sesuai dengan jenis bidang usaha maupun levelnya masing-masing. Tipe
modal kerja perusahaan dapat dipengaruhi, misalnya memiliki sifat musiman atau
konstan setiap saat. Bagi perusahaan yang memiliki musim penjualan, dengan
sendirinya akan membutuhkan modal kerja relatif lebih besar dari masa tidak
musim. Sehingga karena tipe-tipe tersebut juga mengakibatkan penentuan sumbersumber
dana yang akan dipergunakan atau yang akan dioperasikan.
Pada umumnya tipe modal kerja berdasarkan sifat bekerjanya dapat
digolongkan sebagai berikut :
1. Modal kerja permanen (Permanen Working Capital) yaitu modal kerja yangnharus
tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya atau dengan kata
lain modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha.
Permanen Working Capital ini dapat dibedakan dalam :
! Modal kerja primer (Primary Working Capital) yaitu jumlah modal kerja
minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas
usahanya.
! Modal kerja normal (Normal Working Capital) yaitu jumlah modal kerja yang
diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal.
2. Modal kerja variabel (Variabel Working Capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya
berobah-obah sesuai dengan perobahan keadaan, dan modal kerja ini dibedakan
antara :
! Modal kerja musiman (Seasonal Working Capital) yaitu modal kerja yang
jumlahnya berobah-obah disebabkan karena fluktuasi musim.
! Modal kerja siklis (Cyclical Working Capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya
berobah-obah disebabkan karena fluktuasi konyungtur.
! Modal kerja darurat (Emergency Working Capital) yaitu modal kerja yang
besarnya berubahubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui
sebelumnya (misalnya adanya pemogokan buruh, banjir, perobahan keadaan
ekonomi yang mendadak.
Modal kerja dapat dibiayai dengan modal sendiri. Hutang jangka pendek
maupun hutang jangka panjang. Sistem pembelanjaan yang akan dipilih haruslah
didasarkan pada pertimbngan mengenai laba dan resiko.
Untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, sebaiknya dibiayai dengan modal
yang seminimal mungkin. Akan tetapi agar perputaran modal perusahaan dapat
ditingkatkan seringkali perusahaan harus mencari dana dari luar guna menutup
kebutuhan modal kerja.
Untuk itu perusahaan dapat menggunakan prinsip-prinsip pembelanjaan yaitu :
! Modal yang diperoleh sebagai pinjaman jangka pendek hanya dapat
digunakan untuk membiayai modal kerja.
! Modal yang diperoleh sebagai pinjaman jangka panjang dapat dipakai untuk
modal kerja atau investasi.
Apabila modal yang diperoleh dari pinjaman jangka pendek digunakan untuk
membiayai investasi, maka akan sangat membahayakan karena di samping
bunganya sangat tinggi, pada saat harus mengembalikan pinjaman ternyata
investasi belum menghasilkan. Untuk menentukan berapa jumlah modal yang
dibutuhkan dalam pinjaman jangka panjang, atau jangka pendek, maka terlebih
dahulu dihitung jangka-jangka waktu kritisnya.
Lawrence D.Schall dan Charles W.Haley dalam bukunya Introduction to
Financial Management menyatakan :
" Finance short term needs with short term sources and finance long term needs with
long term sources."
Dengan demikian kebutuhan modal kerja permanen sebaiknya dibiayai dengan
modal sendiri. Semakin besar jumlah modal sendiri maka akan semakin baik bagi
perusahaan karena akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk memperoleh
kredit dan semakin besar jaminan bagi kreditur jangka pendek. Disamping itu
kebutuhan modal kerja yang permanen dapat juga dibiayai dengan penjualan
obligasi atau jenis hutang jangka panjang lainnya, tetapi dalam hal ini perusahaan
harus mempertimbangkan jatuh tempo dari hutang jangka panjang tersebut dan
beban bunga yang harus dibayar oleh perusahaan. Sedangkan modal kerja variabel
dapat dibiayai dengan hutang jangka pendek yang jangka waktunya tidak lebih dari
pada kebutuhan modal kerja.
C. Cara-cara Mengestimasi Kebutuhan Modal kerja
Dengan tersedianya modal kerja yang cukup memungkinkan perusahaan
untuk beroperasi secara ekonomis, efisien, clan terhindar dari resiko kesulitan
likuiditas. Untukmenentukan modal kerja yang cukup pada suatu perusahaan perlu
terlebih dahulu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya modal kerja.
Menurut Bambang Riyanto, besar kecilnya kebutuhan modal kerja terutama
tergantung kepada dua faktor, yaitu :
1. Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja, dan
2. Pengeluaran kas rata-rata setiap harinya.
Periode perputaran yang tetap, dengan makin besarnya jumlah pengeluaran
kas setiap harinya mengakibatkan jumlah kebutuhan modal kerja menjadi semakin
besar pula. Jumlah pengeluaran setiap harinya yang tetap, dengan makin lamanya
periode perputarannya mengakibatkan jumlah modal kerja yang dibutuhkan adalah
semakin besar.
Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja adalah merupakan
keseluruhan jumlah dari periode-periode aktivitas perusahaan yang meliputi jangka
waktu pemberian kredit beli, lama penyimpanan bahan mentah di gudang, lamanya
proses produksi, lamanya barang jadi simpanan di gudang dan jangka waktu
penerimaan piutang. Pengeluaran setiap harinya merupakan jumlah pengeluaran kas
rata-rata setiap harinya untuk keperluan pembelian bahan mentah, bahan
pembantu, pembayaran upah buruh, dan biaya-biaya lainnya.
Periode perputaran
! Lamanya proses produksi = 10 hari
! Lamanya barang disimpan di gudang = 10 hari
! Jangka waktu penerimaan piutang = 10 hari
! Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja = 30 hari
Pengeluaran setiap harinya
! Bahan mentah = Rp. 4.000,-
! Bahan pembantu = Rp. 2.000,-
! Upah buruh = Rp. 3.000,-
! Pengeluaran-pengeluaran lain = Rp. 1.000,-
! Jumlah pengeluaran setiap harinya = Rp.10.000,-
Kebutuhan modal kerja bagi perusahaan yang menjalankan aktivitas usaha setiap
harinya untuk dapat menjamin kontinuitas usahanya dibutuhkan modal kerja sebesar
minimal Rp. 10.000 x 30 = Rp. 300.000,-
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa kebutuhan modal kerja
perusahaan dapat di bedakan dalam 2 kategori kebutuhan yaitu : kebutuhan yang
bersifat permanen dan kebutuhan yang bersifat musiman atau dikenal sebagai
kebutuhan variabel. Kebutuhan modal kerja variabel akan berubah-ubah sesuai
dengan kebutuhannya diatas kebutuhan permanen. Hal ini bisa terjadi misalnya jika
suatu saat terjadi kenaikan permintaan barang sehingga diperlukan tambahan dana.
Kebutuhan yang bersifat temporer ini perlu diestimasikan agar perusahaan dapat
terhindar dari resiko kesulitan likuiditas.
Ada 3 pendekatan yang dibutuhkan untuk membelanjai kebutuhan dana yang
bersifat campuran (financing mix) yaitu :
1. Aggresive approach
2. Conservative approach
3. Trade-off keduanya.
Pendekatan yang bersifat agresif kebutuhan dana jangka pendek dibelanjai
dengan sumber dana jangka pendek dan kebutuhan dana jangka panjang dibelanjai
dengan sumber dana jangka panjang. Kebutuhan dana yang bersifat variabel atau
musiman dipenuhi dengan sumber dana jangka pendek. Sedangkan pembelanjaan
permanen dipenuhi dari sumber dana jangka panjang. Berdasarkan pendekatan ini
perusahaan harus memiliki net working capital dalam jumlah yang sama dengan
bagian current assets yang dibelanjai dengan sumber dana jangka panjang. Strategi
ini mengundang resiko karena harus mempertahankan net working capital yang
rendah. Namun demikian, profit yang diperoleh dalam jumlah yang tinggi karena
total costnya yang rendah.
Berdasarkan pendekatan konservatir, semua kebutuhan dana dibelanjai
dengan sumber dana jangka panjang dan sumber dana jangka pendek digunakan
hanya dalam keadaan darurat. Pendekatan konservatif mempunyai resiko yang
rendah karena net working capitalnya yang besar. Akan tetapi profit yang diperoleh
juga rendah karena total costnya yang tinggi.
Kebanyakan perusahaan menggunakan rencana pembelanjaan yang terletak
di antara pendekatan profit tinggi-resiko tinggi (agresive approach) dan profit
rendah-resiko rendah (conservative approach), sehingga keuntungan yang diperoleh
cukup layak (moderat) tetapi resiko yang dihadapi juga tidak terlalu tinggi.
Pendekatan diantara keduanya (trade-off approach) ini menggunakan net working
capital yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar, sehingga resiko yang dihadapi
lebih rendah dari pada pendekatan agresif dan profit yang diperoleh juga lebih tinggi
dari profit berdasarkan pendekatan konservatif.
Penentuan pendekatan mana yang terbaik dari antara ketiga pendekatan
tersebut bagi suatu perusahaan tergantung kepada kondisi yang ingin dicapai oleh
perusahaan tersebut, dan kondisi yang ada pada perusahaan itu sendiri. Walaupun
pendekatan yang agresif misalnya, lebih menguntungkan ditinjau dari segi profit
yang dihasilkan, namun faktor-faktor seperti fluktuasi penjualan dan kemampuan
mengestimasikan penerimaan sangat menentukan pendekatan mana yang sebaiknya
dilakukan oleh perusahaan.
D. Rasio-Rasio Modal Kerja
Dalam menganalisa modal kerja suatu perusahaan, seseorang menganalisa
memerlukan adanya suatu ukuran tertentu, ukuran tersebut diperoleh dengan
menggunakan analisa ratio, yaitu suatu cara untuk menganalisa hubungan dari
berbagai pos dalam suatu laporan keuangan. Hasil dan analisa ini merupakan dasar
untuk dapat menginterpretasikan kondisi kuangan dan hasil operasi perusahaan.
Perhitungan rasio sangat penting bagi pihak luar yang ingin menilai laporan
keuangan suatu perusahaan. Penilaian dititikberatkan pada kemampuan perusahaan
untuk memenuhi kewajiban jangka pendek atau likuiditas, salvobilitas, rentabilitas,
dan prospek perusahaan di masa depan. Analisa rasio ini berguna juga bagi pihak
perusahaan untuk membantu manajer dalam membuat evaluasi mengenai hasil
operasi, memperbaiki kesalahan yang terjadi akibat penyimpangan atas rencana
yang telah disusun dan menghindari hal-hal lain yang bersifat merugikan
perusahaan.
Banyak macam rasio yang dapat dihitung dari informasi yang terdapat dalam
laporan keuangan. Pada dasarnya angka-angka rasio itu dapat dikelompokkan
menjadi dua golongan. Golongan yang pertama adalah rasio yang didasarkan pada
sumber data keuangan dan golongan kedua adalah rasio yang disusun berdasarkan
tujuan penganalisa dalam mengevaluasi perusahaan.
Berdasarkan sumber datanya, rasio-rasio dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :
1. Ratio-ratio neraca (balance sheet ratios) yaitu ratio-ratio disusun dari data
yang berasal dari neraca, misalnya ratio lancar (current ratio), ratio tunai
(quick ratio), ratio modal sendiri dengan total aktiva, ratio aktiva tetap
dengan hutang jangka panjang dan sebagainya.
2. Ratio-ratio laporan laba rugi (income statement ratios), yaitu ratio-ratio yang
disusun dari data yang berasal dari laporan perhitungan laba rugi, misalnya
ratio laba bruto dengan penjualan netto, ratio laba usaha dengan penjualan
netto, operating ratio, dan lain sebagainya.
3. Ratio-ratio antar laporan (intern statement ratios), yaitu ratio-ratio yang
disusun dari data yang berasal dari neraca dan laporan laba rugi , misalnya
ratio penjualan netto dengan aktiva usaha, ratio penjualan kredit dengan
piutang rata-rata, ratio harga pokok penjualan dengan persediaan rata-rata,
dan lain sebagainya.
Ada berbagai pendapat tentang kategori ratio berdasarkan tujuan penganalisa
dalam mengevaluasi suatu perusahaan berdasarkan laporan keuangannya.
E. Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Analisa sumber dan penggunaan modal kerja sangat penting bagi penganalisa
intern dan ekstern. Maksud utama dari anakisa ini adalah untuk mengetahui dari
mana modal tersebut dipergunakan. Dengan kata lain, analisa sumber dan
penggunaan modal kerja erat kaitannya dengan dana yang diperoleh dan dapat
dipergunakan oleh perusahaan dalam kegiatan operasinya sehari-hari dalam suatu
periode tertentu. Laporan yang menggambarkan dari mana datangnya modal kerja
dan untuk apa modal kerja itu digunakan disebut laporan sumber dan penggunaan
modal kerja.
Dalam laporan sumber dan penggunaan modal kerja tercantum sumbersumber
dan penggunaan dana yang berasal dari unsur-unsur modal kerja sendiri,
karena perubahan-perubahan yang hanya menyangkut unsur-unsur aktiva lancar
dan hutang lancar tidak akan mempengaruhi jumlah aktiva tetapi tidak
mempengaruhi modal kerja antara lain :
! Pembelian barang dagangan atau bahan-bahan baku secara tunai. Jadi
mengeluarkan kas tetapi di pihak lain persediaan bertambah dalam jumlah
yang sama.
! Adanya perubahan dari bentuk ke bentuk piutang yang lain dari piutang
dagang menjadi piutang wesel dan seterusnya. Dengan demikian tetap
merupakan satu bagian dari modal kerja
Dengan demikian maka jumlah modal kerja hanya berubah kalau ada
perubahan unsur-unsur selain current account yang disebut non current seperti
aktiva tetap, hutang jangka panjang, dan modal sendiri yang mempunyai effek netto
terhadap modal kerja.
Perubahan unsur-unsur rekening tidak lancar yang mempunyai pengaruh
memperbesar modal kerja (netto) adalah :
! Berkurangnya aktiva tidak lancar;
! Bertambahnya hutang jangka panjang;
! Bertambahnya modal saham;
! Adanya keuntungan dari operasi perusahaan.
Sedangkan perubahan unsur-unsur rekening tidak lancar yang mempunyai
pengaruh memperkecil modal kerja (netto) adalah :
! Bertambahnya aktiva tidak lancar;
! Berkurangnya hutang jangka panjang;
! Berkurangnya modal saham;
! Pembayaran dividen tunai;
! Adanya kerugian dalam operasi perusahaan.
` Perubahan-perubahan dari unsur-unsur non current account yang mempunyai
efek memperbesar modal kerja disebut sumber modal kerja (sources of working
capital) dan perubahan-perubahan dari unsur-unsur non current yang mempunyai
efek memperkecil modal kerja disebut penggunaan modal kerja (application of
working capital).
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan sumber kerja perusahaan pada
umumnya diperoleh dari :
1. Penambahan non current liabilities. Pengeluaran obligasi misalnya akan
mengakibatkan pertambahan kas (harta lancar) tanpa diikuti oleh
pertambahan dalam hutang jangka pendek.
2. Penambahan modal saham. Pengeluaran saham biasanya akan
mengakibatkan pertambahan kas atau harta lancar tanpa dibarengi oleh
pertambahan dalam hutang jangka pendek. Pengecualian dalam hal ini ialah
bila pengeluaran saham baru disertai dengan penurunan dalam hutang
jangka panjang misalnya obligasi dikonversikan kepada modal saham.
3. Penambahan jumlah laba yang ditahan. Suatu pertambahan dalam jumlah
laba yang ditahan akan mengakibatkan penambahan dalam modal kerja.
Dalam hal ini pendapatan atau laba bersih merupakan sumber modal kerja.
4. Pengurangan harta tidak lancar. Suatu pengurangan dalam jumlah harta
tidak lancar biasanya akan merupakan suatu pertambahan dalam jumlah
modal kerja. Penjualan gedung, mesin, dan peralatan berat lainnya akan
mengakibatkan pertambahan kas tanpa diikuti oleh pertambahan dalam
jumlah hutang jangka pendek.
Sedangkan penggunaan-penggunaan modal kerja meliputi :
1. Pengurangan jumlah hutang tidak lancar. Pengurangan dalam jumlah hutang
tidak lancar biasanya akan mengurangi jumlah modal kerja. Misalnya
pelunasan hutang jangka panjang akan mengurangi kas tanpa diikuti oleh
pengurangan dalam hutang jangka pendek. Pengkonversian obligasi kepada
modal saham merupakan pengecualian dalam hal ini.
2. Pengurangan jumlah modal saham. Suatu pengurangan jumlah modal saham
akan mengakibatkan berkurangnya modal kerja. Pembelian dan pemilikan
kembali saham-sahamnya oleh perusahaan akan memerlukan penggunaan
modal kerja.
3. Pengurangan jumlah laba yang tidak dibagi. Pengurangan dalam jumlah laba
yang tidak dibagi biasanya mengakibatkan pengurangan jumlah modal kerja.
Misalnya pembayaran dividen akan mengurangi modal kerja, tetapi
pengeluaran stock dividen tidak akan mempengaruhi jumlah modak kerja
karena hanya akan mengurangi jumlah laba yang tidak dibagi di satu pihak
dan penambahan modal saham di lain pihak dengan jumlah yang sama.
4. Penambahan harta tidak lancar. Suatu pertambahan dalam harta tidak lancar
akan mengakibatkan pengurangan modal kerja, misalnya pembelian mesin
dan peralatan-peralatan baru akan mengurangi kas atau harta lancar tanpa
diikuti pengurangan yang sama dalam jumlah hutang jangka pendek.
Jika jumlah modal kerja pada suatu saat lebih besar dari pada jumlah modal
kerja pada saat sebelumnya berarti ada kenaikan modal kerja. Hal ini disebabkan
karena sumber-sumbernya lebih besar dari penggunaannya sehingga mempunyai
efek netto yang positif terhadap modal kerja. Sebaliknya kalau penggunaannya lebih
besar dari sumbernya maka efek nettonya akan memperkecil modal kerja. Kalau
besarnya sumber persis sama dengan besarnya penggunaan berarti tidak ada efek
nettonya terhadap modal kerja sehingga besarnya modal kerja tidak berubah.
Untuk menyusun laporan sumber dan penggunaan modal kerja sehingga
dapat dilakukan daftar neraca untuk dua periode atau dua titik waktu. Laporan
tersebut menggambarkan perubahan dari masing-masing elemen neraca antar
kedua titik waktu itu dan setiap perobahan elemen tersebut mencerminkan adanya
sumber dan penggunaan modal kerja.
Adapun langkah-langkah dalam menyusun
laporan sumber atau penggunaan modal kerja adalah sebagai berikut :
1. Menyusun laporan perubahan modal kerja
Laporan ini menggambarkan perubahan dari masing-masing unsur modal
kerja atau unsur current account antara dua titik waktu. Dengan laporan
tersebut dapat diketahui adanya kenaikan atau penurunan modal kerja serta
besarnya perubahan modal kerja.
2. Mengelompokkan perubahan-perubahan dari unsur-unsur non current
accounts antara dua titik waktu tersebut kedalam golongan yang mempunyai
efek memperbesar modal kerja dan golongan yang mempunyai efek
memperkecil modal kerja.
3. Mengelompokkan unsur-unsur dalam laporan laba ditahan kedalam golongan
yang mempunyai efek memperbesar modal kerja dan golongan yang
mempunyai efek memperkecil.
4. Menyusun laporan sumber dan penggunaan modal kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Syafaruddin. 1993. Alat-alat Analisis Dalam Pembelanjaan. Edisi ketiga,
cetakan pertama. Yogyakarta : Andi Ofset
Gitosdarmo, Indriyo dan Basry. 1989. Manajemen Keuangan. Edisi kedua, cetakan
pertama. Yogyakarta : BPFE.
Munawir, S. 1988. Analisa Laporan Keuangan. Edisi ketiga, cetakan pertama.
Yogyakarta : Liberty.
Djarwanto, PS. 1989. Pokok-pokok Analisa Laporan Keuangan. Edisi pertama,
cetakan kedua. Yogyakarta : BPFE.
Riyanto Bambang. 1995. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi keempat.
Yogyakarta : Yayasan Badan Penerbit Gadjah Mada.
Samosir, Anton. 1985. Kebijakan Manajemen Pembelanjaan. Medan : Universitas
HKBP Nomensen.
Schall Lawrence D, Charles W. Harley. 1988. Introduction to Financial Management.
Fifth Edition. United Nation of America : Mc. Graw-Hill
Weston, J. Fred, Thomas Copeland. Managerial Finance. Edisi 8th. CBS International :
Driden Press.
Penelitian Analisis Rasio Keuangan
10.11
M AGUS SUDRAJAT
ANALISIS RASIO LIKUIDITAS, PROFITABILITAS, AKTIVITAS,
SOLVABILITAS DAN INVESTMENT OPPORTUNITY SET DALAM
TAHAPAN SIKLUS KEHIDUPAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA (BEJ) TAHUN 2001 – 2005.
ARDI HAMZAH
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi, Universitas Trunojoyo, Madura
ABSTRACT
The objective of this research is to analysis of liquidity, profitability, activity and
solvency ratios on investment opportunity set (IOS) in the stages of life cycle of
manufacturing firms that are listed on the Jakarta Stock Exchange. The sample of the study
are manufacture firms listed on the Jakarta Stock Exchange that distributed dividend
successively in 2001 – 2005. Sample size consists of total is 135 firms.
This study indicates that on the start-up stage, activity and solvency ratios have effect
on IOS. On the initial expansion stage, activity ratio has effect on IOS and on the final
expansion no ratio has effect on IOS. For mature and decline stages, also no ratio has effect
on IOS. Therefore, financial ratios can be used manufacture firm analysis tools at start-up
and initial expansion stages, but not at final expansion, mature and decline stages.
Keyword: liquidity, profitability, activity, solvency, investment opportunity set,
manufacturing firms
SIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN, DAN SARAN
Hasil pengujian dengan regresi berganda antara variabel-variabel independen
berupa rasio likuiditas, profitabilitas, aktivitas, dan solvabilitas terhadap variabel
dependen berupa investment opportunity set (IOS) berpengaruh secara signifikan pada
tahap pendirian (start-up) dan ekspansi awal (initial expansion), sedangkan pada
tahap ekspansi akhir (final expansion), kedewasaan (mature), dan decline tidak
berpengaruh secara signifikan. Untuk pengujian regresi secara parsial pada tahap
pendirian hanya rasio aktivitas dan solvabilitas yang berpengaruh secara signifikan
pada IOS, sedangkan pada tahap ekspansi awal hanya rasio aktivitas yang berpengaruh secara signifikan pada IOS. Pada tahap ekspansi akhir, kedewasaan, dan
decline tidak ada satu pun rasio keuangan dalam penelitian ini yang berpengaruh
secara signifikan terhadap IOS. Dengan adanya hal itu, maka rasio-rasio keuangan
dapat digunakan sebagai alat analisis perusahaan manufaktur yang dijadikan sample
penelitian ini pada tahap pendirian dan ekspansi awal, tetapi tidak pada tahap ekspansi
akhir, kedewasaan, dan decline.
Proksi-proksi tunggal investment opportunity set (IOS) yang digunakan pada
penelitian ini hanya 1 dan berbasiskan pada investasi, yaitu perubahan nilai aktiva
tetap dibagi dengan total aktiva. Proksi dari rasio keuangan yang berupa rasio
likuiditas, profitabilitas, aktivitas, dan solvabilitas juga hanya diwakili 1 saja.
Pengembangan lebih lanjut dari penelitian ini dapat dilakukan dengan
menambahkan sampel dengan jenis industri selain perusahaan manufaktur sehingga
dapat dilihat perbedaan antara rasio-rasio keuangan terhadap perusahaan manufaktur
dan nonmanufaktur dalam tahapan siklus kehidupan perusahaan. Penelitian
berikutnya dapat meneliti rasio-rasio keuangan pada IOS dalam siklus tahapan
kehidupan perusahaan dengan menggunakan proksi pertumbuhan perusahaan yang
berbasis harga atau berbasis investasi dengan formula yang lain dan proksi yang
berbasis variance. Selain itu, proksi dari rasio-rasio keuangan berupa rasio likuiditas,profitabilitas, aktivitas, dan solvabilitas dapat lebih dari satu atau proksi tersebut diganti dengan proksi lainnya.
SOLVABILITAS DAN INVESTMENT OPPORTUNITY SET DALAM
TAHAPAN SIKLUS KEHIDUPAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA (BEJ) TAHUN 2001 – 2005.
ARDI HAMZAH
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi, Universitas Trunojoyo, Madura
ABSTRACT
The objective of this research is to analysis of liquidity, profitability, activity and
solvency ratios on investment opportunity set (IOS) in the stages of life cycle of
manufacturing firms that are listed on the Jakarta Stock Exchange. The sample of the study
are manufacture firms listed on the Jakarta Stock Exchange that distributed dividend
successively in 2001 – 2005. Sample size consists of total is 135 firms.
This study indicates that on the start-up stage, activity and solvency ratios have effect
on IOS. On the initial expansion stage, activity ratio has effect on IOS and on the final
expansion no ratio has effect on IOS. For mature and decline stages, also no ratio has effect
on IOS. Therefore, financial ratios can be used manufacture firm analysis tools at start-up
and initial expansion stages, but not at final expansion, mature and decline stages.
Keyword: liquidity, profitability, activity, solvency, investment opportunity set,
manufacturing firms
SIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN, DAN SARAN
Hasil pengujian dengan regresi berganda antara variabel-variabel independen
berupa rasio likuiditas, profitabilitas, aktivitas, dan solvabilitas terhadap variabel
dependen berupa investment opportunity set (IOS) berpengaruh secara signifikan pada
tahap pendirian (start-up) dan ekspansi awal (initial expansion), sedangkan pada
tahap ekspansi akhir (final expansion), kedewasaan (mature), dan decline tidak
berpengaruh secara signifikan. Untuk pengujian regresi secara parsial pada tahap
pendirian hanya rasio aktivitas dan solvabilitas yang berpengaruh secara signifikan
pada IOS, sedangkan pada tahap ekspansi awal hanya rasio aktivitas yang berpengaruh secara signifikan pada IOS. Pada tahap ekspansi akhir, kedewasaan, dan
decline tidak ada satu pun rasio keuangan dalam penelitian ini yang berpengaruh
secara signifikan terhadap IOS. Dengan adanya hal itu, maka rasio-rasio keuangan
dapat digunakan sebagai alat analisis perusahaan manufaktur yang dijadikan sample
penelitian ini pada tahap pendirian dan ekspansi awal, tetapi tidak pada tahap ekspansi
akhir, kedewasaan, dan decline.
Proksi-proksi tunggal investment opportunity set (IOS) yang digunakan pada
penelitian ini hanya 1 dan berbasiskan pada investasi, yaitu perubahan nilai aktiva
tetap dibagi dengan total aktiva. Proksi dari rasio keuangan yang berupa rasio
likuiditas, profitabilitas, aktivitas, dan solvabilitas juga hanya diwakili 1 saja.
Pengembangan lebih lanjut dari penelitian ini dapat dilakukan dengan
menambahkan sampel dengan jenis industri selain perusahaan manufaktur sehingga
dapat dilihat perbedaan antara rasio-rasio keuangan terhadap perusahaan manufaktur
dan nonmanufaktur dalam tahapan siklus kehidupan perusahaan. Penelitian
berikutnya dapat meneliti rasio-rasio keuangan pada IOS dalam siklus tahapan
kehidupan perusahaan dengan menggunakan proksi pertumbuhan perusahaan yang
berbasis harga atau berbasis investasi dengan formula yang lain dan proksi yang
berbasis variance. Selain itu, proksi dari rasio-rasio keuangan berupa rasio likuiditas,profitabilitas, aktivitas, dan solvabilitas dapat lebih dari satu atau proksi tersebut diganti dengan proksi lainnya.
Minggu, 18 April 2010
Analisa Rasio Keuangan
10.38
M AGUS SUDRAJAT
Untuk menilai kondisi keuangan dan prestasi
perusahaan, analis keuangan memerlukan beberapa tolak
ukur. Tolak ukur yang sering dipakai adalah rasio atau
atau indeks, yang menghubungkan dua data keuangan
yang satu dengan yang lainnya.
Menurut James C. Van Home (Sawir, 2001); "Analisis
dan interpretasi dari macam-macam rasio dapat
memberikan pandangan yang lebih baik tentang kondisi
keuangan dan prestasi perusahaan bagi para analis yang
ahli dan berpengalaman dibandingkan analisis yang
hanya didasarkan atas data keuangan sendiri-sendiri yang
tidak berbentuk rasio ".
Rasio analisis keuangan meliputi dua jenis
perbandingan. Pertama, analis dapat memperbandingkan
rasio sekarang dengan yang lalu dan yang akan datang
untuk perusahaan yang sama (perbandingan internal).
Kedua, perbandingan meliputi pebandingan lainnya yang
sejenis atau dengan rata-rata industri pada satu titik yang
sama (perbandingan ekstemal).
Rasio-rasio menurut Fred Weston Thomas E.
Copeland (Sawir, 2001) dikelompokan kedalam 5
kelompok dasar, yaitu: likuiditas, leverage, aktivitas,
profitabilitas, dan penilaian.
1. Analisis likuiditas perusahaan
Pada umumnya perhatian pertama analis keuangan
adalah likuiditas. Rasio likuiditas yang umum digunakan
adalah current ratio (rasio Lancar).
Current Ratio = Current Assets/Current Liabilities
(Rasio Lancar = Aktiva Lancar / Hutang Lancar)
Current Ratio merupakan ukuran yang paling umum
digunakan untuk mengetahui kesanggupan memenuhi
kewajiban jangka pendek karena rasio ini menunjukan
seberapa jauh tuntutan dari kreditor jangka pendek
dipenuhi oleh aktiva yang dipekirakan menjadi uang
tunai dalam periode yang sama dengan jatuh tempo
utang.
Rasio Likuiditas lain yang umum digunakan adalah
rasio Cepat (Quick Ratio atau Acid Test Ratio)
Quick Ratio = (Current Assets - Inventory) / Current Liabilities )
( Rasio Cepat = (Aktiva Lancar - Persediaan) / Hutang Lancar )
Persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang tingkat
likuiditasnya rendah, sering mengalami fluktuasi harga,
dan unsur aktiva lancar ini sering menimbulkan kerugian
jika terjadi likuidasi. Jadi rasio cepat lebih baik dalam
memenuhi kewajiban jangka pendek.
2. Analisis Struktur Keuangan
Struktur keuangan adalah bagaimana cara perusahaan
mendanai aktivanya. Aktiva perusahaan didanai dengan
utang jangka pendek, utang jangka panjang, dan modal
pemegang saham, sehingga seluruh sisi kanan dari neraca
memperlihatkan struktur keuangan.
Struktur modal adalah pendanaan permanen yang
terdiri utang jangka panjang, saham preferen, dan modal
pemegang sahaam. Nilai buku dari modal pemegang
saham terdiri dari saham biasa, modal disetor atau
surplus, modal dan akumulasi laba ditahan. Dengan
pcrsamaan:
Struktur Keuangan - Hutang Lancar = Struktur Modal
Pemilihan struktur keuangan merupakan masalah yang
menyangkut komposisi pendanaan yang akan digunakan
oleh perusahaan, yang pada akhirnya berarti penentuan
berapa banyak hutang (leverage keuangan) yang akan
digunakan oleh perusahaan untuk mendanai aktivanya.
Bila semua dana untuk membiayai aktiva perusahaan
berasal dari pemilik dalam bentuk saham biasa,
perusahaan tidak terikat pada kewajiban tetap untuk
membayar bunga atas hutang yang diambil dalam rangka
pendanaan perusahaan.
Bunga adalah biaya tetap keuangan yang harus dibayar
dan ditambahkan pada biaya tetap operasi tanpa
mempedulikan tingkat laba perusahaan. Jadi, suatu
perusahaan yang menggunakan utang akan lebih berisiko
daripada perusahaan tanpa utang, karena selain
mempunyai resiko bisnis, perusahaan yang menggunakan
hutang mempunyai resiko keuangan.
Resiko keuangan timbul karena penggunaan utang,
yang menyebabkan lebih besarnya variabilitas laba bersih
(net income).
Leverage keuangan adalah penggunaan hutang.
Apabila hasil pengembalian atas aktiva, yang ditunjukan
oleh besarnya rentabilitas ekonomis, lebih besar daripada
biaya hutang, leverage itu menguntungkan dan hasil
pengembalian atas modal (rentabilitas modal sendiri)
dengan penggunaan leverage ini juga akan meningkat.
Kebijakan mengenai struktur modal melibatkan
tradeoff antara resiko dan pengembalian. Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi keputusan sehubungan
dengan struktur modal. Yang pertama adalah resiko bisnis
perasahaan, atau tingkat resiko yang terkandung pada
aktiva perusahaan apabila ia tidak menggunakan hutang.
Makin besar resiko perusahaan, makin rendah resiko
utangnya yang optimal.
Faktor kunci yang kedua adalah posisi pajak
perusahaan. Alasan utama untuk menggunakan hutang
adalah karena biaya bunga dapat dikurangkan dalam
perhitungan pajak, sehingga meminimalkan biaya hutang
yang sesungguhnya.
Faktor ketiga adalah fleksibilitas keuangan, atau
kemampuan untuk menambah modal dengan persyaratan
yang masuk akal dalam kedaan yang kurang
menguntungkan.
Rasio-rasio leverage yang umum digunakan antara lain,
adalah: Rasio Utang terhadap Ekuitas atau DER (Debt to
Equity Ratio):
DER = Total Debt / Total Equity
DER = Total Hutang / Total Ekuitas)
Rasio ini menggambarkan perbandingan hutang dan
ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukan
kemampuan modal sendiri perusahaan tersebut untuk
memenuhi seluruh kewajibannya.
3. Analisis Aktivitas Perusahaan
Rasio aktivitas mengukur seberapa efektif perusahaan
memanfaatkan semua sumber daya yang ada pada
pengendaliannya.
Semua rasio aktivitas ini melibatkan perbandingan
antara tingkat penjualan dan investasi pada berbagai jenis
aktiva.
Rasio-rasio aktivitas yang umum digunakan adalah:
a. Rasio Perputaran Persediaan
(ITR = Inventory Turnover ratio)
ITR (at cost) = Cost of Goods Sold/Average Inventory
(Rasio Perputaran Persediaan=HPP/Rata2 Persediaan)
ITR (at market) = Sales/ Inventory
(Rasio Perputaran Persediaan=Penjualan/Persediaan)
Rasio perputaran persediaan mengukur efisiensi
pengelolaan persediaan barang dagangan. Rasio ini
merupakan indikasi yang cukup populer untuk
menilai efisiensi operasional, yang memperlihatkan
seberapa baiknya manajemen mengontrol modal
yang ada pada persediaan. Dan dua persamaan rasio
perputaran persediaan (at cost) dan rasio perputaran
persediaan (at market). Banyak lembaga peneliti
rasio keuangan yang lebih mengutamakan rasio
perputaran persediaan (at market) sehingga bila
ingin diperbandingkan dengan rasio industri, rasio
perputaran persediaan (at market) ini yang
digunakan.
b. Rasio Perputaran Total Aktiva
(Total Assets Turnover)
Total Assets Turnover = Sales / Total Assets
(Rasio Perputaran Total Aktiva = Penjualan/Total Aktiva)
Rasio ini menunjukan efektivitas penggunaan
seluruh harta perusahaan dalam rangka
menghasilkan penjualan atau menggambarkan
berapa rupiah penjualan bersih yang dapat
dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan
dalam bentuk harta perusahaan. Kalau
perputarannya lambat, ini menunjukan aktiva yang
dimiliki terlalu besar dibandingkan dengan
kemampuan menjual.
4. Analisis Profitabilitas ( Kemampulabaan ) Perusahaan
Profitabilitas (Kemampulabaan) merupakan akhir
bersih dari berbagai kebijakan dan keputusan manajemen.
Rasio profitabilitas akan memberikan jawaban akhir
tentang efektivitas manajemen perusahaan, rasio ini
memberi gambaran tentang tingkat efektivitas
pengelolaan perusahaan. Rasio profitabilitas yang umum
digunakan antara lain :
a. Margin Laba kotor (Gross profit Margin)
Gross Profit Margin=(Sales - Cost of Goods Sold) / Sale
Margin Laba Kotor = (Penjualan - HPP) / Penjualan
Rasio ini mengukur efisiensi pengendalian harga
pokok atau biaya produksinya, mengindikasikan
kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara
efisien. Dalam mengevaluasi dapat dilihat margin per
unit produk, bila rendah maka perusahaan tersebut
sensitif terhadap pesaingnya.
b. Margin Laba Bersih
(Net Profit Margin atau Propit Margin on Sales)
Net Profit Margin=Earning After Taxes(Net Income)/Sales
( Margin Laba Bersih = Laba Bersih / Penjualan)
Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap
penjualan. Tinggi rendahnya rentabilitas ekonomi
tergantung dari:
1) Operating Profit Margin, yaitu perbandingan antara
laba kotor usaha dan penjualan.
Operating Profit Margin = EBIT/ Sales
2) Perputaran Aktiva (Assets Turnover), yaitu
kecepatan berputarnya total asset dalam suatu
periode tertentu.
Total Assets Turnover = Sales / Total Aktiva
Rentabilitas Ekonomis dapat ditentukan dengan
mengalikan operating profit margin dengan total
assets turnover.
c. Hasil Pengembalian atas Total Aktiva atau ROI
(Return on Investment) atau ROA (Return on Assets).
ROI = EAT (Net Income) / Total Aktiva
Untuk menghitung ROI, ada yang ingin
menambahkan bunga setelah pajak dalam pembilang
dari rasio tersebut. Teori ini didasarkan pada
pendapat bahwa karena aktiva didanai oleh
pemegang saham dan kreditor, maka rasio harus
dapat memberikan ukuran produktivitas aktiva
dalam memberikan pengembalian kepada kedua
penanam modal itu.
ROI = ( EAT + Interest ( 1 - Tax)) / Total Assets
(ROI = ( Laba Bersih + Bunga )) / Total Aktiva)
d. Hasil Pengembalian atas Ekuitas atau ROE (Return
on Equity) atau return on net worth
ROE = EAT / Net Worth
( ROE = Laba Bersih / Ekuitas )
Rasio ini memperlihatkan sejauh manakah
pemsahaan mengelola modal sendiri (net worth)
secara efektif, mengukur tingkat keuntungan dari
investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri
atau sering disebut rentabilitas usaha.
5. Analisis Penilaian Pasar
Rasio penilaian (Valuation Ratio) adalah ukuran yang
paling komprehensif untuk menilai hasil kerja
perusahaan, karena rasio tersebut mencerminkan
kombinasi pengaruh rasio-resiko dan rasio-hasil
pengembalian.
Rasio penilaian yang umum digunakan antara lain,
adalah: Rasio Harga terhadap Laba atau PER (Price to
Earnings Ratio);
PER = Current Price / Earnings per Share
(PER = Harga Saham / Laba per Saham)
Investor biasanya menghubungkan laba tahun berjalan
terhadap current price dengan menggunakan hubungan
rasio terhadap laba (Price Earnings Ratio, PER). Setelah
EPS untuk tahun mendatang (proyeksi) dapat ditaksir,
maka dengan mengalikan EPS dengan PER akan dapat
ditentukan suatu tingkat harga. PER adalah apa yang
investor bayar untuk aliran earnings. Atau dilihat dari
kebalikannya adalah apa yang investor dapatkan
(peroleh) dari investasi tersebut.
Investor dalam pasar modal yang sudah maju
menggunakan PER untuk mengukur apakah suatu saham
underpriced atau overpriced. PER adalah suatu rasio
sederhana yang diperoleh dengan membagi harga pasar
suatu saham dengan EPS. Besarnya deviden yang yang
dibayar perusahaan tergantung kepada besarnya EPS dan
rasio pembayaran deviden, yang menunjukan bagian laba
yang dibagikan sebagai deviden.
perusahaan, analis keuangan memerlukan beberapa tolak
ukur. Tolak ukur yang sering dipakai adalah rasio atau
atau indeks, yang menghubungkan dua data keuangan
yang satu dengan yang lainnya.
Menurut James C. Van Home (Sawir, 2001); "Analisis
dan interpretasi dari macam-macam rasio dapat
memberikan pandangan yang lebih baik tentang kondisi
keuangan dan prestasi perusahaan bagi para analis yang
ahli dan berpengalaman dibandingkan analisis yang
hanya didasarkan atas data keuangan sendiri-sendiri yang
tidak berbentuk rasio ".
Rasio analisis keuangan meliputi dua jenis
perbandingan. Pertama, analis dapat memperbandingkan
rasio sekarang dengan yang lalu dan yang akan datang
untuk perusahaan yang sama (perbandingan internal).
Kedua, perbandingan meliputi pebandingan lainnya yang
sejenis atau dengan rata-rata industri pada satu titik yang
sama (perbandingan ekstemal).
Rasio-rasio menurut Fred Weston Thomas E.
Copeland (Sawir, 2001) dikelompokan kedalam 5
kelompok dasar, yaitu: likuiditas, leverage, aktivitas,
profitabilitas, dan penilaian.
1. Analisis likuiditas perusahaan
Pada umumnya perhatian pertama analis keuangan
adalah likuiditas. Rasio likuiditas yang umum digunakan
adalah current ratio (rasio Lancar).
Current Ratio = Current Assets/Current Liabilities
(Rasio Lancar = Aktiva Lancar / Hutang Lancar)
Current Ratio merupakan ukuran yang paling umum
digunakan untuk mengetahui kesanggupan memenuhi
kewajiban jangka pendek karena rasio ini menunjukan
seberapa jauh tuntutan dari kreditor jangka pendek
dipenuhi oleh aktiva yang dipekirakan menjadi uang
tunai dalam periode yang sama dengan jatuh tempo
utang.
Rasio Likuiditas lain yang umum digunakan adalah
rasio Cepat (Quick Ratio atau Acid Test Ratio)
Quick Ratio = (Current Assets - Inventory) / Current Liabilities )
( Rasio Cepat = (Aktiva Lancar - Persediaan) / Hutang Lancar )
Persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang tingkat
likuiditasnya rendah, sering mengalami fluktuasi harga,
dan unsur aktiva lancar ini sering menimbulkan kerugian
jika terjadi likuidasi. Jadi rasio cepat lebih baik dalam
memenuhi kewajiban jangka pendek.
2. Analisis Struktur Keuangan
Struktur keuangan adalah bagaimana cara perusahaan
mendanai aktivanya. Aktiva perusahaan didanai dengan
utang jangka pendek, utang jangka panjang, dan modal
pemegang saham, sehingga seluruh sisi kanan dari neraca
memperlihatkan struktur keuangan.
Struktur modal adalah pendanaan permanen yang
terdiri utang jangka panjang, saham preferen, dan modal
pemegang sahaam. Nilai buku dari modal pemegang
saham terdiri dari saham biasa, modal disetor atau
surplus, modal dan akumulasi laba ditahan. Dengan
pcrsamaan:
Struktur Keuangan - Hutang Lancar = Struktur Modal
Pemilihan struktur keuangan merupakan masalah yang
menyangkut komposisi pendanaan yang akan digunakan
oleh perusahaan, yang pada akhirnya berarti penentuan
berapa banyak hutang (leverage keuangan) yang akan
digunakan oleh perusahaan untuk mendanai aktivanya.
Bila semua dana untuk membiayai aktiva perusahaan
berasal dari pemilik dalam bentuk saham biasa,
perusahaan tidak terikat pada kewajiban tetap untuk
membayar bunga atas hutang yang diambil dalam rangka
pendanaan perusahaan.
Bunga adalah biaya tetap keuangan yang harus dibayar
dan ditambahkan pada biaya tetap operasi tanpa
mempedulikan tingkat laba perusahaan. Jadi, suatu
perusahaan yang menggunakan utang akan lebih berisiko
daripada perusahaan tanpa utang, karena selain
mempunyai resiko bisnis, perusahaan yang menggunakan
hutang mempunyai resiko keuangan.
Resiko keuangan timbul karena penggunaan utang,
yang menyebabkan lebih besarnya variabilitas laba bersih
(net income).
Leverage keuangan adalah penggunaan hutang.
Apabila hasil pengembalian atas aktiva, yang ditunjukan
oleh besarnya rentabilitas ekonomis, lebih besar daripada
biaya hutang, leverage itu menguntungkan dan hasil
pengembalian atas modal (rentabilitas modal sendiri)
dengan penggunaan leverage ini juga akan meningkat.
Kebijakan mengenai struktur modal melibatkan
tradeoff antara resiko dan pengembalian. Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi keputusan sehubungan
dengan struktur modal. Yang pertama adalah resiko bisnis
perasahaan, atau tingkat resiko yang terkandung pada
aktiva perusahaan apabila ia tidak menggunakan hutang.
Makin besar resiko perusahaan, makin rendah resiko
utangnya yang optimal.
Faktor kunci yang kedua adalah posisi pajak
perusahaan. Alasan utama untuk menggunakan hutang
adalah karena biaya bunga dapat dikurangkan dalam
perhitungan pajak, sehingga meminimalkan biaya hutang
yang sesungguhnya.
Faktor ketiga adalah fleksibilitas keuangan, atau
kemampuan untuk menambah modal dengan persyaratan
yang masuk akal dalam kedaan yang kurang
menguntungkan.
Rasio-rasio leverage yang umum digunakan antara lain,
adalah: Rasio Utang terhadap Ekuitas atau DER (Debt to
Equity Ratio):
DER = Total Debt / Total Equity
DER = Total Hutang / Total Ekuitas)
Rasio ini menggambarkan perbandingan hutang dan
ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukan
kemampuan modal sendiri perusahaan tersebut untuk
memenuhi seluruh kewajibannya.
3. Analisis Aktivitas Perusahaan
Rasio aktivitas mengukur seberapa efektif perusahaan
memanfaatkan semua sumber daya yang ada pada
pengendaliannya.
Semua rasio aktivitas ini melibatkan perbandingan
antara tingkat penjualan dan investasi pada berbagai jenis
aktiva.
Rasio-rasio aktivitas yang umum digunakan adalah:
a. Rasio Perputaran Persediaan
(ITR = Inventory Turnover ratio)
ITR (at cost) = Cost of Goods Sold/Average Inventory
(Rasio Perputaran Persediaan=HPP/Rata2 Persediaan)
ITR (at market) = Sales/ Inventory
(Rasio Perputaran Persediaan=Penjualan/Persediaan)
Rasio perputaran persediaan mengukur efisiensi
pengelolaan persediaan barang dagangan. Rasio ini
merupakan indikasi yang cukup populer untuk
menilai efisiensi operasional, yang memperlihatkan
seberapa baiknya manajemen mengontrol modal
yang ada pada persediaan. Dan dua persamaan rasio
perputaran persediaan (at cost) dan rasio perputaran
persediaan (at market). Banyak lembaga peneliti
rasio keuangan yang lebih mengutamakan rasio
perputaran persediaan (at market) sehingga bila
ingin diperbandingkan dengan rasio industri, rasio
perputaran persediaan (at market) ini yang
digunakan.
b. Rasio Perputaran Total Aktiva
(Total Assets Turnover)
Total Assets Turnover = Sales / Total Assets
(Rasio Perputaran Total Aktiva = Penjualan/Total Aktiva)
Rasio ini menunjukan efektivitas penggunaan
seluruh harta perusahaan dalam rangka
menghasilkan penjualan atau menggambarkan
berapa rupiah penjualan bersih yang dapat
dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan
dalam bentuk harta perusahaan. Kalau
perputarannya lambat, ini menunjukan aktiva yang
dimiliki terlalu besar dibandingkan dengan
kemampuan menjual.
4. Analisis Profitabilitas ( Kemampulabaan ) Perusahaan
Profitabilitas (Kemampulabaan) merupakan akhir
bersih dari berbagai kebijakan dan keputusan manajemen.
Rasio profitabilitas akan memberikan jawaban akhir
tentang efektivitas manajemen perusahaan, rasio ini
memberi gambaran tentang tingkat efektivitas
pengelolaan perusahaan. Rasio profitabilitas yang umum
digunakan antara lain :
a. Margin Laba kotor (Gross profit Margin)
Gross Profit Margin=(Sales - Cost of Goods Sold) / Sale
Margin Laba Kotor = (Penjualan - HPP) / Penjualan
Rasio ini mengukur efisiensi pengendalian harga
pokok atau biaya produksinya, mengindikasikan
kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara
efisien. Dalam mengevaluasi dapat dilihat margin per
unit produk, bila rendah maka perusahaan tersebut
sensitif terhadap pesaingnya.
b. Margin Laba Bersih
(Net Profit Margin atau Propit Margin on Sales)
Net Profit Margin=Earning After Taxes(Net Income)/Sales
( Margin Laba Bersih = Laba Bersih / Penjualan)
Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap
penjualan. Tinggi rendahnya rentabilitas ekonomi
tergantung dari:
1) Operating Profit Margin, yaitu perbandingan antara
laba kotor usaha dan penjualan.
Operating Profit Margin = EBIT/ Sales
2) Perputaran Aktiva (Assets Turnover), yaitu
kecepatan berputarnya total asset dalam suatu
periode tertentu.
Total Assets Turnover = Sales / Total Aktiva
Rentabilitas Ekonomis dapat ditentukan dengan
mengalikan operating profit margin dengan total
assets turnover.
c. Hasil Pengembalian atas Total Aktiva atau ROI
(Return on Investment) atau ROA (Return on Assets).
ROI = EAT (Net Income) / Total Aktiva
Untuk menghitung ROI, ada yang ingin
menambahkan bunga setelah pajak dalam pembilang
dari rasio tersebut. Teori ini didasarkan pada
pendapat bahwa karena aktiva didanai oleh
pemegang saham dan kreditor, maka rasio harus
dapat memberikan ukuran produktivitas aktiva
dalam memberikan pengembalian kepada kedua
penanam modal itu.
ROI = ( EAT + Interest ( 1 - Tax)) / Total Assets
(ROI = ( Laba Bersih + Bunga )) / Total Aktiva)
d. Hasil Pengembalian atas Ekuitas atau ROE (Return
on Equity) atau return on net worth
ROE = EAT / Net Worth
( ROE = Laba Bersih / Ekuitas )
Rasio ini memperlihatkan sejauh manakah
pemsahaan mengelola modal sendiri (net worth)
secara efektif, mengukur tingkat keuntungan dari
investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri
atau sering disebut rentabilitas usaha.
5. Analisis Penilaian Pasar
Rasio penilaian (Valuation Ratio) adalah ukuran yang
paling komprehensif untuk menilai hasil kerja
perusahaan, karena rasio tersebut mencerminkan
kombinasi pengaruh rasio-resiko dan rasio-hasil
pengembalian.
Rasio penilaian yang umum digunakan antara lain,
adalah: Rasio Harga terhadap Laba atau PER (Price to
Earnings Ratio);
PER = Current Price / Earnings per Share
(PER = Harga Saham / Laba per Saham)
Investor biasanya menghubungkan laba tahun berjalan
terhadap current price dengan menggunakan hubungan
rasio terhadap laba (Price Earnings Ratio, PER). Setelah
EPS untuk tahun mendatang (proyeksi) dapat ditaksir,
maka dengan mengalikan EPS dengan PER akan dapat
ditentukan suatu tingkat harga. PER adalah apa yang
investor bayar untuk aliran earnings. Atau dilihat dari
kebalikannya adalah apa yang investor dapatkan
(peroleh) dari investasi tersebut.
Investor dalam pasar modal yang sudah maju
menggunakan PER untuk mengukur apakah suatu saham
underpriced atau overpriced. PER adalah suatu rasio
sederhana yang diperoleh dengan membagi harga pasar
suatu saham dengan EPS. Besarnya deviden yang yang
dibayar perusahaan tergantung kepada besarnya EPS dan
rasio pembayaran deviden, yang menunjukan bagian laba
yang dibagikan sebagai deviden.
Jumat, 02 April 2010
Analisa Laporan Keuangan yang dibandingkan
09.08
M AGUS SUDRAJAT
Analisa terhadap laporan keuangan dimaksudkan agar data keuangan tersebut dapat lebih berarti dalam mendukung keputusan yang akan diambil baik oleh manajemen maupun pihak ekstern yang mempunyai kepentingan terhadap perusahaan.
Beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk dapat mengetahui teknik analisa laporan keuangan, maka seorang analis harus menguasai tentang:
· Proses penyusunan laporan keuangan
· Konsep, sifat dan karakteristik laporan keuangan
· Teknik analisa laporan keuangan; dan
· Segment dan lingkungan bisnis yang akan dianalisa
ANALISA PERBANDINGAN
Analisa perbandingan merupakan metode analisa terhadap laporan keuangan dengan cara memperbandingkan untuk dua periode atau lebih, atau memperbandingkan laporan keuangan suatu perusahaan dengan perusahaan lain.Tetapi pada umumnya dilakukan untuk beberapa periode dari suatu perusahaan sehingga dapat diketahui sifat dan tendensi perubahan yang terjadi dalam perusahaan tersebut, misalnya:
* Laba/rugi yang sifatnya operasional maupun insidentil
* Diperoleh aktiva baru/perubahan bentuk aktiva
* Timbul/lunas/perubahan bentuk hutang
* Penambahan/pengurangan modal dan lain-lain.
Dismaping analisa perbandingan, suatu teknik analisa yang sering digunakan juga adalah Analisa trend. Analisa trend dalam prosentase (trend percentage analysis) merupakan metode analisa untuk mengetahui tendensi keadaan keuangan perusahaan, yaitu apakah menunjukan tendensi naik, tetap atau menurun.Syarat-syarat penerapan analisa trend adalah:
· Prinsip-prinsip akuntansi diterapkan secara konsisten
· Tidak terjadi perubahan nilai uang secara tajam
Analisis keuangan akan lebih tajam bila data
keuangan dibandingkan dengan standar
tertentu
Standar untuk pembandingan data keuangan
1. Standar internal yg ditetapkan mnjm spt target yg
ditetapkan
2. Perbandingan historis
3. Perbandingan dengan prshn atau industri sejenis
Tanpa pembandingan tidak akan
diketahui apakah prestasi keuangan
suatu perusahaan menunjukkan
perbaikan atau sebaliknya menunjukkan
penurunan
Beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk dapat mengetahui teknik analisa laporan keuangan, maka seorang analis harus menguasai tentang:
· Proses penyusunan laporan keuangan
· Konsep, sifat dan karakteristik laporan keuangan
· Teknik analisa laporan keuangan; dan
· Segment dan lingkungan bisnis yang akan dianalisa
ANALISA PERBANDINGAN
Analisa perbandingan merupakan metode analisa terhadap laporan keuangan dengan cara memperbandingkan untuk dua periode atau lebih, atau memperbandingkan laporan keuangan suatu perusahaan dengan perusahaan lain.Tetapi pada umumnya dilakukan untuk beberapa periode dari suatu perusahaan sehingga dapat diketahui sifat dan tendensi perubahan yang terjadi dalam perusahaan tersebut, misalnya:
* Laba/rugi yang sifatnya operasional maupun insidentil
* Diperoleh aktiva baru/perubahan bentuk aktiva
* Timbul/lunas/perubahan bentuk hutang
* Penambahan/pengurangan modal dan lain-lain.
Dismaping analisa perbandingan, suatu teknik analisa yang sering digunakan juga adalah Analisa trend. Analisa trend dalam prosentase (trend percentage analysis) merupakan metode analisa untuk mengetahui tendensi keadaan keuangan perusahaan, yaitu apakah menunjukan tendensi naik, tetap atau menurun.Syarat-syarat penerapan analisa trend adalah:
· Prinsip-prinsip akuntansi diterapkan secara konsisten
· Tidak terjadi perubahan nilai uang secara tajam
Analisis keuangan akan lebih tajam bila data
keuangan dibandingkan dengan standar
tertentu
Standar untuk pembandingan data keuangan
1. Standar internal yg ditetapkan mnjm spt target yg
ditetapkan
2. Perbandingan historis
3. Perbandingan dengan prshn atau industri sejenis
Tanpa pembandingan tidak akan
diketahui apakah prestasi keuangan
suatu perusahaan menunjukkan
perbaikan atau sebaliknya menunjukkan
penurunan
Analisis Trend dan Analisis Common Size Statement
08.59
M AGUS SUDRAJAT
Analisis tren
Analisis trend merupakan suatu metode analisis statistika yang ditujukan untuk melakukan suatu estimasi atau peramalan pada masa yang akan datang. Untuk melakukan peramalan dengan baik maka dibutuhkan berbagai macam informasi (data) yang cukup banyak dan diamati dalam periode waktu yang relatif cukup panjang, sehingga hasil analisis tersebut dapat mengetahui sampai berapa besar fluktuasi yang terjadi dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terhadap perubahan tersebut.
Secara teoristis, dalam analisis runtun waktu (time series) hal yang paling menentukan adalah kualitas dan keakuratan dari data-data yang diperoleh, serta waktu atau periode dari data-data tersebut dikumpulkan. Jika data yang dikumpulkan tersebut semakin banyak maka semakin baik pula estimasi atau peramalan yang diperoleh. Sebaliknya, jika data yang dikumpulkan semakin sedikit maka hasil estimasi atau peramalannya akan semakin jelek.
Metode Least Square
Metode yang dapat digunakan untuk analisis time series ini adalah
* Metode Garis Linier Secara Bebas (Free Hand Method),
* Metode Setengah Rata-Rata (Semi Average Method),
* Metode Rata-Rata Bergerak (Moving Average Method) dan
* Metode Kuadrat Terkecil (Least Square Method).
Secara khusus, analisis time series dengan metode kuadrat terkecil dapat dibagi dalam dua kasus, yaitu kasus data genap dan kasus data ganjil. Persamaan garis linear dari analisis time series akan mengikuti:
Y = a + b X.
Keterangan : Y adalah variabel dependen (tak-bebas) yang dicari trendnya dan X adalah variabel independen (bebas) dengan menggunakan waktu (biasanya dalam tahun).
Sedangkan untuk mencari nilai konstanta (a) dan parameter (b) dapat dipakai persamaan:
a = ΣY / N dan
b = ΣXY / ΣX2
Referensi :
* Bianchi M., Boyle M., Hollingsworth D. (1999), "A comparison of methods for trend estimation", Applied Economics Letters, 6(2): 103–109.
* Chatfield, C. (1993), "Calculating Interval Forecasts", Journal of Business and Economic Statistics, 11(2): 121–135.
Analisa Common Size
Laporan dengan prosentase per komponen menunjukan prosentase dari total aktiva yang telah diinvestasikan dalam masing-masing jenis aktiva. Dengan mempelajari laporan dengan prosentase ini dan memperbandingkan dengan rata-rata industri sebagai keseluruhan dari perusahaan yang sejenis, akan dapat diketahui apakah investasi kita dalam suatu aktiva melebihi batas-batas yang umum berlaku (over investment) atau justru masih terlalu kecil (under investment), dengan demikian untuk periode berikutnya kita dapat mengambil kebijaksanaan - kebijaksanaan yang perlu, agar investasi kita dalam suatu aktiva tidak terlalu kecil ataupun terlalu besar.
Laporan dengan cara ini juga menunjukan distribusi daripada hutang dan modal, jadi menunjukan sumber-sumber darimana dana yang diinvestasikan pada aktiva tersebut. Study tentang ini akan menunjukan sumber mana yang merupakan sumber pokok pembelanjaan perusahaan., juga akan menunjukan seberapa jauh perusahaan menggunakan kemampuannya untuk memperoleh kredit dari pihak luar, karena dari itu juga dapat diduga / diketahui berapa besarnya margin of safety yang dimiliki oleh para kreditur.
Prosentase per komponen yang terdapat pada neraca akan merupakan prosentase per komponen terhadap total aktiva, sehingga perbandingan secara horizontal dari tahun ke tahunnya akan menunjukan trend daripada hubungan (trend of relationship), dan tidak menunjukan ada tidaknya perubahan secara absolut. Perubahan ini dapat dilihat kalau dikembalikan pada data absolutnya. Jadi perubahan dari tahun ke tahun tidak menunjukan secara pasti adanya perubahan dalam data absolut.
Laporan dalam prosentase per komponen dalam hubungannya dengan laporan rugi-laba, menunjukan jumlah atau prosentase dari penjualan netto atau net sales yang diserap tiap - tiap individu biaya dan prosentase yang masih tersedia untuk income. Oleh karena itu Common Size percentage analysis banyak digunakan oleh perusahaan dalam hubungannya dengan income statement, karena adanya hubungan yang erat antara penjualan, harga pokok dan biaya operasi, sedang untuk neraca tidak banyak digunakan.
Dalam laporan prosentase per komponen (Common Size statement) semua komponen atau pos dihitung prosentasenya dari jumlah totalnya, tetapi untuk lebih meningkatkan atau menaikan mutu atau kwalitas data maka masing-masing pos atau komponen tersebut tidak hanya prosentase dari jumlah totalnya tetapi juga dihitung prosentase dari masing-masing komponen terhadap sub totalnya, misalnya komponen aktiva lancar dihubungkan atau ditentukan prosentasenya terhadap jumlah aktiva lancar, komponen hutang lancar terhadap jumlah hutang lancar dan sebagainya.
Tabel : Neraca PT. Ulung
Analisa perbandingan dengan Common Size
PT. Ulung
Neraca
Per 31 desember 2001, dengan perbandingan th 2000 ( ribuan rupiah )
Aktiva Common Size ( %)
Aktiva Lancar Des 2001 Des 2000 2001 2000
Kas 23.500 19.800 2 1,8
Surat – surat berharga 50.500 45.000 4,4 4
Piutang dagang 100.550 90.000 8,7 8
Persediaan 215.000 210.500 18,5 18,9
Biaya di bayar di muka 10.500 23.400 0,9 2,1
Total aktiva lancar 400.050 388.700 34,5 34,8
Aktiva Tetap
Tanah 205.500 210.000 17,7 18,8
Bangunan 159.500 146.800 13,8 13,2
Inventaris kantor 19.000 16.500 1,6 1,5
Mesin dan peralatan 490.000 454.500 42,3 40,7
Akumulasi penyusutan (115.000) (100.800) ( 9,9 ) ( 9 )
Total aktiva tetap 759.000 727.000 65,5 65,2
Total aktiva 1.159.050 1.115.700 100 100
Hutang dan Modal sendiri
Hutang lancar
Hutang dagang 80.000 65.600 6,9 5,9
Hutang gaji 45.500 45.900 3,9 4,1
Hutang wesel 158.000 121.500 13,7 10,9
Hutang bank jk. Pendek 80.000 78.500 6,9 7
Total hutang lancar 363.500 311.500 31,4 27,9
Total hutang jangka panjang 215.670 221.000 18,6 19,8
Total hutang 579.170 532.500 50 47,7
Modal Sendiri
Modal saham 400.000 400.000 34,5 35,9
Laba di tahan 179.880 183.200 15,5 16,4
Total modal sendiri 579.880 583.200 50 52,3
Total hutang dan modal sendiri 1.159.050 1.115.700 100 100
Tabel : Laporan Rugi / Laba PT. Ulung
Analisa perbandingan Common Size
PT. Ulung
Laporan Rugi / Laba
Tahun 2001, dengan perbandingan th 2000.( ribuan rupiah )
Common Size ( % )
Th 2001 th 2000 2001 2000
Penjualan barang 2.550.500 2.089.500 100 100
Harga pokok penjualan 1.800.000 1.670.000 70,6 80
Laba kotor 750.500 419.500 29,4 20
Biaya pemasaran 210.000 139.000 8,2 6,7
Biaya perjalanan dinas 50.500 40.000 2 1,9
Biaya bunga 60.500 55.500 2,4 2,6
Biaya operasi lainnya 80.500 75.500 3,2 3,6
Total biaya operasi 401.500 310.000 15,8 14,8
Laba operasi ( sebelum pajak ) 349.000 109.500 13,6 5,2
Pajak 104.700 32.850 4,1 1,6
Laba bersih 244.300 76.650 9,5 3,6
______________________________________________________________________
Analisa Common Size tahun 2000 ( Neraca PT. Ulung )
Dari total aktiva yang di miliki PT. Ulung, proporsi aktiva lancarnya 34,8 % dan aktiva tetapnya 65,2 %. Dari aktiva lancar yang dimiliki, komponen persediaan merupakan yang terbesar, yaitu : 18,9 %, terus berturut – turut piutang, investasi pada surat – surat berharga, biaya yang dibayar di muka, dan terakhir komponen kas. Begitu juga dalam komponen aktiva tetap, komponen mesin dan peralatan merupakan yang terbesar, yaitu ; 40,7 %, terus berturut – turut komponen tanah, bangunan dan inventaris kantor. Pada struktur pembiayaan PT. Ulung, terlihat bahwa 47,7 % perusahaan di biayai dengan hutang, dan 52,3 % di biayai dengan modal sendiri. Dari komponen hutang, maka hutang jangka panjang merupakan komponen terbesar, yaitu sebesar 19,8 %, diikuti oleh hutang wesel, hutang bank jangka pendek, hutang dagang, dan terakhir hutang gaji. Dari struktur modal sendiri, komponen modal dalam bentuk saham sebesar 35,9 %, dan sisanya dalam bentuk laba di tahan, yaitu sebesar 16,4 %.
Analisa Common Size tahun 2001 ( Neraca PT. Ulung ).
Pada tahun 2001, dari total aktiva yang dimiliki PT. Ulung, proporsi aktiva lancarnya sebesar 34,5 %, dan aktiva tetap sebesar 65,5 %. Hal ini tidak terlampau berubah, bila di bandingkan dengan komposisi pada tahun sebelumnya. Begitu juga pada pos aktiva lancar, komponen persediaan tetap yang terbesar, yaitu : 18,5 %, dan secara berturut – turut komponen piutang, investasi pada surat – surat berharga, kas, dan terakhir pada biaya di bayar di muka. Pada komponen aktiva tetap, komponen mesin dan peralatan tetap yang terbesar, yaitu : 42,3 %, dan diikuti berturut – turut komponen tanah, bangunan, dan inventaris kantor. Dari struktur pembiayaan, PT. Ulung di belanjai dengan hutang sebesar 50 % dan 50 % dari modal sendiri. Dari total hutang, tetap hutang jangka panjang yang terbesar, yaitu : 18,6 %, seterusnya diikuti oleh hutang wesel, hutang bank jangka pendek sama dengan hutang dagang, dan terakhir hutang gaji.
Pada struktur modal sendiri, komposisi antara modal saham dengan laba yang di tahan hampir sama dengan tahun sebelumnya, yaitu : 34,5 % modal saham, dan 15,5 % dalam bentuk laba yang di tahan.
Analisa Common Size tahun 2000 ( laporan rugi / laba PT. Ulung )
Pada komponen laporan rugi / laba, dari total penjualan PT. Ulung, 80 % merupakan komponen harga pokok penjualan, dan 20 % merupakan laba kotor. Berturut turut, biaya pemasaran 6,7 % dari penjualan , biaya perjalanan dinas 1,9 %, beban bunga 2,6 %, biaya operasi lainnya 3,6 %, total biaya operasi 14,8 %, laba operasi sebelum pajak 5,2 %, pajak !,6 %, dan terakhir laba bersih 3,6 % dari penjualan yang diperoleh PT. Ulung.
Analisa Common Size tahun 2001 ( laporan rugi / laba PT. Ulung )
Pada tahun 2001, proporsi komponen – komponen yang ada pada laporan rugi / laba terhadap penjualan mengalami perubahan yang cukup besar bila di bandingkan dengan tahun sebelumnya, terutama pada komponen harga pokok penjualan, dari 80 % menjadi 70,6 %, laba kotor dari 20 % menjadi 29,4 %.
Komponan biaya – biaya operasi tidak terlampau berubah bila di bandingkan dengan tahun sebelumnya. Laba operasi juga kenaikannya cukup besar, yaitu ; dari 5,2 % menjadi 13,6 %, pajak juga dari 1,6 % menjadi 4,1 % dan laba bersih dari 3,6 % menjadi 9,5 % dari total penjualannya.
Kenaikan dari komponen – komponen laba kotor, laba operasi dan laba bersih yang cukup besar, tidak lain disebabkan oleh kenaikan penjualan dan juga disebabkan oleh proporsi harga pokok penjualan yang mengalami penurunan, yaitu dari 80 % menjadi 70,6 % dari penjualan.
Analisa perbandingan dengan Indeks.
Tehnik analisa ini memperbandingkan laporan keuangan seperti diterangkan dimuka. Dari perubahan masing-masing pos dapat diketahui perubahan mana yang cukup penting dianalisa lebih lanjut. Tehnik analisa tersebut sering juga disebut dengan Analisa naik turun, karena dengan analisa tersebut dapat diketehui kenaikan atau penurunan dari masing-masing pos. Tehnik analisa tersebut hanya akan praktis bila digunakan untuk menganalisa dua atau tiga (periode) laporan keuangan, karena bila laporan keuangan yang diperbandingkan lebih dari tiga tahun akan ditemui kesulitan.
Cara yang terbaik untuk menganalisa laporan keuangan yang lebih dari tiga tahun tersebut adalah dengan menggunakan angka index, dan semua data laporan keuangan yang dianalisa dihubungkan dengan angka index tersebut yang dinyatakan dalam prosentase. Dengan menganalisa laporan keuangan untuk jangka waktu lebih dari tiga tahun akan diketahui kecenderungan atau arah atau trend dari posisi keuangan ataupun hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan, apakah menunjukan arah yang tetap, meningkat atau bahkan menurun.
Untuk dapat menghitung trend yang dinyatakan dalam prosentase (trend procentages) ini diperlukan dasar pengukur atau tahun pengukurnya. Biasanya data atau laporan keuangan dari tahun yang paling awal dalam deretan laporan keuangan yang dianalisa tersebut dianggap sebagai tahun dasar (base year). Pemilihan tahun yang paling awal sebagai tahun dasar ini bukan merupakan suatu keharusan, karena tahun yang paling awal tersebut belum tentu menunjukan keadaan yang normal atau representatif. Sedapat mungkin periode atau laporan keuangan yang digunakan sebagai tahun dasar adalah tahun yang paling normal diantara tahun-tahun yang dianalisa tersebut.
Tiap-tiap pos yang terdapat dalam laporan keuangan yang dipilih sebagai tahun dasar diberikan angka index 100, sedangkan pos-pos yang sama dengan periode yang dianalisa dihubungkan dengan pos yang sama dalam laporan keuangan tahun dasar dengan cara membagi jumlah rupiah tiap-tiap pos dalam periode yang dianalisa dengan jumlah rupiah dari pos yang sama dalam laporan keuangan tahun dasar. Jadi trend yang dimaksud adalah menunjukan hubungan dari masing-masing pos suatu tahun dengan tahun dasarnya.
Trend dari modal sendiri (owner’s equity) yang menaik menunjukan perkembangan keuangan yang menguntungan (bagi para kreditor) terutama trend daripada hutang turun atau naik tetapi dengan rate yang lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan modal sendiri. Keadaan yang demikian menunjukan perkembangan keuangan yang semakin kuat dan margin of safety atau tingkat keamanan bagi para kreditor yang semakin besar.
Analisa dengan trend ratio akan dapat menunjukan suatu pos itu mempunyai kecenderungan atau arah yang menurun, meningkat atau tetap serta menunjukan apakah kecenderungan atau tendensi yang menguntungkan atau tidak menguntungkan. Tetapi dalam menggunakan teknik analisa trend dan prosentase ini harus diingat pula hubungan antara angka-angka dalam trend dengan data absolutnya.
Oleh karena itu didalam menganalisa dengan menggunakan trend atau perubahan yang dinyatakan dalam prosentase, perlu pula mempelajari perubahan - perubahan yang terjadi dalam angka absolutnya atau jumlah rupiahnya serta tendensi-tendensi yang ada ataupun hubungan antara pos-pos yang ada.
Agar trend itu dapat diperbandingkan maka harus dipenuhi beberapa syaratnya, antara lain bahwa prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan pada waktu melakukan pencatatan akuntansi dilakukan secara konsisten dalam tahun-tahun yang bersangkutan, dan selama periode yang bersangkutan tidak terjadi perubahan nilai uang atau kenaikan harga-harga yang amat berbeda (inflasi maupun deflasi).
Apabila kedua syarat ini tidak diketahui maka data yang diperoleh tak dapat diperbandingkan (non comparable), kecuali kalau diadakan adjusment atau penyesuaian lebih dulu guna menetralisir akibat daripada perubahan yang terjadi.
Analisis trend merupakan suatu metode analisis statistika yang ditujukan untuk melakukan suatu estimasi atau peramalan pada masa yang akan datang. Untuk melakukan peramalan dengan baik maka dibutuhkan berbagai macam informasi (data) yang cukup banyak dan diamati dalam periode waktu yang relatif cukup panjang, sehingga hasil analisis tersebut dapat mengetahui sampai berapa besar fluktuasi yang terjadi dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terhadap perubahan tersebut.
Secara teoristis, dalam analisis runtun waktu (time series) hal yang paling menentukan adalah kualitas dan keakuratan dari data-data yang diperoleh, serta waktu atau periode dari data-data tersebut dikumpulkan. Jika data yang dikumpulkan tersebut semakin banyak maka semakin baik pula estimasi atau peramalan yang diperoleh. Sebaliknya, jika data yang dikumpulkan semakin sedikit maka hasil estimasi atau peramalannya akan semakin jelek.
Metode Least Square
Metode yang dapat digunakan untuk analisis time series ini adalah
* Metode Garis Linier Secara Bebas (Free Hand Method),
* Metode Setengah Rata-Rata (Semi Average Method),
* Metode Rata-Rata Bergerak (Moving Average Method) dan
* Metode Kuadrat Terkecil (Least Square Method).
Secara khusus, analisis time series dengan metode kuadrat terkecil dapat dibagi dalam dua kasus, yaitu kasus data genap dan kasus data ganjil. Persamaan garis linear dari analisis time series akan mengikuti:
Y = a + b X.
Keterangan : Y adalah variabel dependen (tak-bebas) yang dicari trendnya dan X adalah variabel independen (bebas) dengan menggunakan waktu (biasanya dalam tahun).
Sedangkan untuk mencari nilai konstanta (a) dan parameter (b) dapat dipakai persamaan:
a = ΣY / N dan
b = ΣXY / ΣX2
Referensi :
* Bianchi M., Boyle M., Hollingsworth D. (1999), "A comparison of methods for trend estimation", Applied Economics Letters, 6(2): 103–109.
* Chatfield, C. (1993), "Calculating Interval Forecasts", Journal of Business and Economic Statistics, 11(2): 121–135.
Analisa Common Size
Laporan dengan prosentase per komponen menunjukan prosentase dari total aktiva yang telah diinvestasikan dalam masing-masing jenis aktiva. Dengan mempelajari laporan dengan prosentase ini dan memperbandingkan dengan rata-rata industri sebagai keseluruhan dari perusahaan yang sejenis, akan dapat diketahui apakah investasi kita dalam suatu aktiva melebihi batas-batas yang umum berlaku (over investment) atau justru masih terlalu kecil (under investment), dengan demikian untuk periode berikutnya kita dapat mengambil kebijaksanaan - kebijaksanaan yang perlu, agar investasi kita dalam suatu aktiva tidak terlalu kecil ataupun terlalu besar.
Laporan dengan cara ini juga menunjukan distribusi daripada hutang dan modal, jadi menunjukan sumber-sumber darimana dana yang diinvestasikan pada aktiva tersebut. Study tentang ini akan menunjukan sumber mana yang merupakan sumber pokok pembelanjaan perusahaan., juga akan menunjukan seberapa jauh perusahaan menggunakan kemampuannya untuk memperoleh kredit dari pihak luar, karena dari itu juga dapat diduga / diketahui berapa besarnya margin of safety yang dimiliki oleh para kreditur.
Prosentase per komponen yang terdapat pada neraca akan merupakan prosentase per komponen terhadap total aktiva, sehingga perbandingan secara horizontal dari tahun ke tahunnya akan menunjukan trend daripada hubungan (trend of relationship), dan tidak menunjukan ada tidaknya perubahan secara absolut. Perubahan ini dapat dilihat kalau dikembalikan pada data absolutnya. Jadi perubahan dari tahun ke tahun tidak menunjukan secara pasti adanya perubahan dalam data absolut.
Laporan dalam prosentase per komponen dalam hubungannya dengan laporan rugi-laba, menunjukan jumlah atau prosentase dari penjualan netto atau net sales yang diserap tiap - tiap individu biaya dan prosentase yang masih tersedia untuk income. Oleh karena itu Common Size percentage analysis banyak digunakan oleh perusahaan dalam hubungannya dengan income statement, karena adanya hubungan yang erat antara penjualan, harga pokok dan biaya operasi, sedang untuk neraca tidak banyak digunakan.
Dalam laporan prosentase per komponen (Common Size statement) semua komponen atau pos dihitung prosentasenya dari jumlah totalnya, tetapi untuk lebih meningkatkan atau menaikan mutu atau kwalitas data maka masing-masing pos atau komponen tersebut tidak hanya prosentase dari jumlah totalnya tetapi juga dihitung prosentase dari masing-masing komponen terhadap sub totalnya, misalnya komponen aktiva lancar dihubungkan atau ditentukan prosentasenya terhadap jumlah aktiva lancar, komponen hutang lancar terhadap jumlah hutang lancar dan sebagainya.
Tabel : Neraca PT. Ulung
Analisa perbandingan dengan Common Size
PT. Ulung
Neraca
Per 31 desember 2001, dengan perbandingan th 2000 ( ribuan rupiah )
Aktiva Common Size ( %)
Aktiva Lancar Des 2001 Des 2000 2001 2000
Kas 23.500 19.800 2 1,8
Surat – surat berharga 50.500 45.000 4,4 4
Piutang dagang 100.550 90.000 8,7 8
Persediaan 215.000 210.500 18,5 18,9
Biaya di bayar di muka 10.500 23.400 0,9 2,1
Total aktiva lancar 400.050 388.700 34,5 34,8
Aktiva Tetap
Tanah 205.500 210.000 17,7 18,8
Bangunan 159.500 146.800 13,8 13,2
Inventaris kantor 19.000 16.500 1,6 1,5
Mesin dan peralatan 490.000 454.500 42,3 40,7
Akumulasi penyusutan (115.000) (100.800) ( 9,9 ) ( 9 )
Total aktiva tetap 759.000 727.000 65,5 65,2
Total aktiva 1.159.050 1.115.700 100 100
Hutang dan Modal sendiri
Hutang lancar
Hutang dagang 80.000 65.600 6,9 5,9
Hutang gaji 45.500 45.900 3,9 4,1
Hutang wesel 158.000 121.500 13,7 10,9
Hutang bank jk. Pendek 80.000 78.500 6,9 7
Total hutang lancar 363.500 311.500 31,4 27,9
Total hutang jangka panjang 215.670 221.000 18,6 19,8
Total hutang 579.170 532.500 50 47,7
Modal Sendiri
Modal saham 400.000 400.000 34,5 35,9
Laba di tahan 179.880 183.200 15,5 16,4
Total modal sendiri 579.880 583.200 50 52,3
Total hutang dan modal sendiri 1.159.050 1.115.700 100 100
Tabel : Laporan Rugi / Laba PT. Ulung
Analisa perbandingan Common Size
PT. Ulung
Laporan Rugi / Laba
Tahun 2001, dengan perbandingan th 2000.( ribuan rupiah )
Common Size ( % )
Th 2001 th 2000 2001 2000
Penjualan barang 2.550.500 2.089.500 100 100
Harga pokok penjualan 1.800.000 1.670.000 70,6 80
Laba kotor 750.500 419.500 29,4 20
Biaya pemasaran 210.000 139.000 8,2 6,7
Biaya perjalanan dinas 50.500 40.000 2 1,9
Biaya bunga 60.500 55.500 2,4 2,6
Biaya operasi lainnya 80.500 75.500 3,2 3,6
Total biaya operasi 401.500 310.000 15,8 14,8
Laba operasi ( sebelum pajak ) 349.000 109.500 13,6 5,2
Pajak 104.700 32.850 4,1 1,6
Laba bersih 244.300 76.650 9,5 3,6
______________________________________________________________________
Analisa Common Size tahun 2000 ( Neraca PT. Ulung )
Dari total aktiva yang di miliki PT. Ulung, proporsi aktiva lancarnya 34,8 % dan aktiva tetapnya 65,2 %. Dari aktiva lancar yang dimiliki, komponen persediaan merupakan yang terbesar, yaitu : 18,9 %, terus berturut – turut piutang, investasi pada surat – surat berharga, biaya yang dibayar di muka, dan terakhir komponen kas. Begitu juga dalam komponen aktiva tetap, komponen mesin dan peralatan merupakan yang terbesar, yaitu ; 40,7 %, terus berturut – turut komponen tanah, bangunan dan inventaris kantor. Pada struktur pembiayaan PT. Ulung, terlihat bahwa 47,7 % perusahaan di biayai dengan hutang, dan 52,3 % di biayai dengan modal sendiri. Dari komponen hutang, maka hutang jangka panjang merupakan komponen terbesar, yaitu sebesar 19,8 %, diikuti oleh hutang wesel, hutang bank jangka pendek, hutang dagang, dan terakhir hutang gaji. Dari struktur modal sendiri, komponen modal dalam bentuk saham sebesar 35,9 %, dan sisanya dalam bentuk laba di tahan, yaitu sebesar 16,4 %.
Analisa Common Size tahun 2001 ( Neraca PT. Ulung ).
Pada tahun 2001, dari total aktiva yang dimiliki PT. Ulung, proporsi aktiva lancarnya sebesar 34,5 %, dan aktiva tetap sebesar 65,5 %. Hal ini tidak terlampau berubah, bila di bandingkan dengan komposisi pada tahun sebelumnya. Begitu juga pada pos aktiva lancar, komponen persediaan tetap yang terbesar, yaitu : 18,5 %, dan secara berturut – turut komponen piutang, investasi pada surat – surat berharga, kas, dan terakhir pada biaya di bayar di muka. Pada komponen aktiva tetap, komponen mesin dan peralatan tetap yang terbesar, yaitu : 42,3 %, dan diikuti berturut – turut komponen tanah, bangunan, dan inventaris kantor. Dari struktur pembiayaan, PT. Ulung di belanjai dengan hutang sebesar 50 % dan 50 % dari modal sendiri. Dari total hutang, tetap hutang jangka panjang yang terbesar, yaitu : 18,6 %, seterusnya diikuti oleh hutang wesel, hutang bank jangka pendek sama dengan hutang dagang, dan terakhir hutang gaji.
Pada struktur modal sendiri, komposisi antara modal saham dengan laba yang di tahan hampir sama dengan tahun sebelumnya, yaitu : 34,5 % modal saham, dan 15,5 % dalam bentuk laba yang di tahan.
Analisa Common Size tahun 2000 ( laporan rugi / laba PT. Ulung )
Pada komponen laporan rugi / laba, dari total penjualan PT. Ulung, 80 % merupakan komponen harga pokok penjualan, dan 20 % merupakan laba kotor. Berturut turut, biaya pemasaran 6,7 % dari penjualan , biaya perjalanan dinas 1,9 %, beban bunga 2,6 %, biaya operasi lainnya 3,6 %, total biaya operasi 14,8 %, laba operasi sebelum pajak 5,2 %, pajak !,6 %, dan terakhir laba bersih 3,6 % dari penjualan yang diperoleh PT. Ulung.
Analisa Common Size tahun 2001 ( laporan rugi / laba PT. Ulung )
Pada tahun 2001, proporsi komponen – komponen yang ada pada laporan rugi / laba terhadap penjualan mengalami perubahan yang cukup besar bila di bandingkan dengan tahun sebelumnya, terutama pada komponen harga pokok penjualan, dari 80 % menjadi 70,6 %, laba kotor dari 20 % menjadi 29,4 %.
Komponan biaya – biaya operasi tidak terlampau berubah bila di bandingkan dengan tahun sebelumnya. Laba operasi juga kenaikannya cukup besar, yaitu ; dari 5,2 % menjadi 13,6 %, pajak juga dari 1,6 % menjadi 4,1 % dan laba bersih dari 3,6 % menjadi 9,5 % dari total penjualannya.
Kenaikan dari komponen – komponen laba kotor, laba operasi dan laba bersih yang cukup besar, tidak lain disebabkan oleh kenaikan penjualan dan juga disebabkan oleh proporsi harga pokok penjualan yang mengalami penurunan, yaitu dari 80 % menjadi 70,6 % dari penjualan.
Analisa perbandingan dengan Indeks.
Tehnik analisa ini memperbandingkan laporan keuangan seperti diterangkan dimuka. Dari perubahan masing-masing pos dapat diketahui perubahan mana yang cukup penting dianalisa lebih lanjut. Tehnik analisa tersebut sering juga disebut dengan Analisa naik turun, karena dengan analisa tersebut dapat diketehui kenaikan atau penurunan dari masing-masing pos. Tehnik analisa tersebut hanya akan praktis bila digunakan untuk menganalisa dua atau tiga (periode) laporan keuangan, karena bila laporan keuangan yang diperbandingkan lebih dari tiga tahun akan ditemui kesulitan.
Cara yang terbaik untuk menganalisa laporan keuangan yang lebih dari tiga tahun tersebut adalah dengan menggunakan angka index, dan semua data laporan keuangan yang dianalisa dihubungkan dengan angka index tersebut yang dinyatakan dalam prosentase. Dengan menganalisa laporan keuangan untuk jangka waktu lebih dari tiga tahun akan diketahui kecenderungan atau arah atau trend dari posisi keuangan ataupun hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan, apakah menunjukan arah yang tetap, meningkat atau bahkan menurun.
Untuk dapat menghitung trend yang dinyatakan dalam prosentase (trend procentages) ini diperlukan dasar pengukur atau tahun pengukurnya. Biasanya data atau laporan keuangan dari tahun yang paling awal dalam deretan laporan keuangan yang dianalisa tersebut dianggap sebagai tahun dasar (base year). Pemilihan tahun yang paling awal sebagai tahun dasar ini bukan merupakan suatu keharusan, karena tahun yang paling awal tersebut belum tentu menunjukan keadaan yang normal atau representatif. Sedapat mungkin periode atau laporan keuangan yang digunakan sebagai tahun dasar adalah tahun yang paling normal diantara tahun-tahun yang dianalisa tersebut.
Tiap-tiap pos yang terdapat dalam laporan keuangan yang dipilih sebagai tahun dasar diberikan angka index 100, sedangkan pos-pos yang sama dengan periode yang dianalisa dihubungkan dengan pos yang sama dalam laporan keuangan tahun dasar dengan cara membagi jumlah rupiah tiap-tiap pos dalam periode yang dianalisa dengan jumlah rupiah dari pos yang sama dalam laporan keuangan tahun dasar. Jadi trend yang dimaksud adalah menunjukan hubungan dari masing-masing pos suatu tahun dengan tahun dasarnya.
Trend dari modal sendiri (owner’s equity) yang menaik menunjukan perkembangan keuangan yang menguntungan (bagi para kreditor) terutama trend daripada hutang turun atau naik tetapi dengan rate yang lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan modal sendiri. Keadaan yang demikian menunjukan perkembangan keuangan yang semakin kuat dan margin of safety atau tingkat keamanan bagi para kreditor yang semakin besar.
Analisa dengan trend ratio akan dapat menunjukan suatu pos itu mempunyai kecenderungan atau arah yang menurun, meningkat atau tetap serta menunjukan apakah kecenderungan atau tendensi yang menguntungkan atau tidak menguntungkan. Tetapi dalam menggunakan teknik analisa trend dan prosentase ini harus diingat pula hubungan antara angka-angka dalam trend dengan data absolutnya.
Oleh karena itu didalam menganalisa dengan menggunakan trend atau perubahan yang dinyatakan dalam prosentase, perlu pula mempelajari perubahan - perubahan yang terjadi dalam angka absolutnya atau jumlah rupiahnya serta tendensi-tendensi yang ada ataupun hubungan antara pos-pos yang ada.
Agar trend itu dapat diperbandingkan maka harus dipenuhi beberapa syaratnya, antara lain bahwa prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan pada waktu melakukan pencatatan akuntansi dilakukan secara konsisten dalam tahun-tahun yang bersangkutan, dan selama periode yang bersangkutan tidak terjadi perubahan nilai uang atau kenaikan harga-harga yang amat berbeda (inflasi maupun deflasi).
Apabila kedua syarat ini tidak diketahui maka data yang diperoleh tak dapat diperbandingkan (non comparable), kecuali kalau diadakan adjusment atau penyesuaian lebih dulu guna menetralisir akibat daripada perubahan yang terjadi.
