Rotating X-Steel Pointer
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Keuangan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 April 2012

Pengertian Manajemen Keuangan

Pengertian Manajemen Keuangan
Manajemen Keuangan adalah aktivitas pemilik dan manajemen perusahaan untuk memperoleh sumber modal yang semurah-murahnya dan menggunakannya se-efektif, se-efisien, seproduktif mungkin untuk menghasilkan laba. Aktivitas itu meliputi :

1.       AKTIVITAS PEMBIAYAAN ( FinancingActivity )
Aktivitas pembiayaan ialah kegiatan pemilik dan manajemen perusahaan untuk mencari sumber modal ( sumber eksternal dan internal ) untuk membiayai kegiatan bisnis.

A. Sumber eksternal
1.  Modal Pemilik atau modal sendiri (Owner Capital atau Owner Equity). Atau modal saham (Capital Stock) yang terdiri dari : Saham Istimewa (Preferred Stock) dan Saham Biasa (Common Stock).
2.  Utang (Debt), Utang Jangka Pendek (Short-term Debt) dan Utang Jangka Panjang (Long-term Debt).
3.  Lain-lain, misalnya hibah.

B. Sumber Internal :

1.       Laba Ditahan (Retained Earning)
2.       Penyusutan, amortisasi, dan Deplesi ( Depreciation, Amortization, dan Deplention)
3.       Lain-lain, misalnya penjualan harta tetap yang tidak produktif.
 
2.      Aktiva Investasi (Investment activity)
aktivitas investasi adalah kegiatan penggunaan dana berdasarkan pemikiran hasil yang sebesar-besarnya dan resiko yang sekecil-kecilnya. Aktivitas itu meliputi :
1.       Modal Kerja (working Capital) atau harta lancar (Current Assets)
2.       Harta Keuangan (Finaceal assets) yang terdiri : investasi pada saham (stock) dan Obligasi (Bond)
3.       Harta Tetap (real Assets) yang terdiri dari : Tanah,gedung, Peralatan.
4.       Harta Tidak Berwujud (intangible assets) terdiri dari : Hak Paten, Hak Pengelolaan Hutan, Hak Pengelolaan Tambang, Goodwill.

3.      Aktivitas Bisnis (Business Activity)

Aktivitas bisnis adalah kegiatan untuk mencari laba melalui efektivitas penjualan barang atau jasa efisiensi biaya yang akan mengahsilkan laba. Aktivitas itu dapat dilihat dari laporan Laba-Rugi, yang terdiri dari unsur :
1.       Pendapatan (sales atau Revenue)
2.       Beban ( Expenses) 
3.       Laba-Rugi ( Profit-Loss)
 
 4.      Tanggung Jawab Manager Keuangan
Aktivitas perusahaan ditinjau dari sudut manajemen keuangan menjadi tugas manajer keuangan. Tugasnya antara lain adalah sebagai berikut :

1.       Perolehan dana dengan biaya murah.
2.       Penggunaan dana efektif dan efisien
3.       analisis laporan keuangan
4.       analisis lingkungan Internal dan eksternal yang berhubungan dengan keputusan rutin dan khusus.

Berdasarkan tugas tersebut, manajemen keuangan memiliki tujuan antara lain adalah ;
1.       Memaksimalkan nilai perusahaan
2.       Membina relasi dengan pasar modal dan pasar uang.



5.      Sifat Dasar Perusahaan
Tujuan perusahaan adalah mencari laba dan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dalam kegiatannya mencari laba,pemilik memberi wewenang kepada manajemen untuk melaksanakannya. Dalam usahanya memperoleh laba manajemen harus berprilaku:
1.       Memaksimumkan nilai perusahaan, artinya manajemen harus mengahasilkan laba lebih besar dari biaya modal yang digunakannya.
2.       Tanggung jawab sosial, artinya dalam mencari laba, manajemen tidak boleh merusak lingkungan alam,sosial, dan budaya.
3.       Etika, artinya manajemen dalam mengusahakan laba harus tunduk pada norma-norma sosial di lingkungan mereka bekerja dan tidak boleh menipu masyarakat konsumen.

6.      Memaksimumkan Nilai Perusahaan
Nilai ialah sesuatu yang dijunjung tinggi dan dihormati. Dalam perusahaan  hal itu diwujudkan dalam perhitungan laba oprasional bersih atau net operating profit after tax yang lazim disebut NOPAT. Perusahaan dapat dikatakan memiliki nilai maksimum jika NOPAT lebih besar dari pada biaya modal yang digunakan untuk memperoleh laba tersebut. Misalnya perusahaan memiliki modal Rp 1000, biaya modal yang diperhitungkan 10% per tahun, Laba oprasi Rp150. pajak 20%. Nilai Perusahaan sebesar :

[Laba Operasi (1 – Pajak ) – ( Biaya Modal X Modal)]
                                 Biaya Modal

[Rp 150 ( 1 – 0,20) – (0,10 X Rp 1000)]  =  Rp 1200
                                     0,10

Berdasarakan perlindungan diatas, perusahaan memiliki tambahan nilai modalnya ( atau nilai invetasinya) Rp 1000, sedangkan nilai perusahaan berdasarkan kapitalisasi laba oprasi bersih Rp 1200. Manajemen harus berusaha agar nilai perusahaan semaksimum mungkin, artinya ia harus mampu memperoleh laba operasi sebesar-besarnya dengan modal yang digunakan sekecil mungkin.

7.      Perkembangan Peranan Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan memiliki peran dalam kehidupan perusahaan ditentukan oleh perkembangan ekonomi kapitalisme. Pada awal lahirnya kapitalisme sebagai system ekonomi pada abad 18, manajemen keuangan hanya membahas topic rugi-laba. Selanjutnya berturut-turut ia memiliki peranan antara lain sebagai berikut :
1.       Tahun 1900 awal : Penerbit surat berharga
2.       Tahun 1930 – 1940 : kebangkrutan, reorganisasi
3.       Tahun 1940 – 1950 : anggaran & internal audit
4.       Tahun 1950 – 1970 : eksternal perusahaan
5.       Tahun 1970 – 1980 : inflasi
6.       Tahun 1980 – 1990 : krisis ekonomi keuangan
7.       Tahun 1990 – sekarang : globalisasi

Perkembangan manajemen keuangan sangat dipengaruhi oleh berbagai factor antara lain kebijakan moneter, kebijakan pajak, kondisi ekonomi, kondisi social, dan kondisi politik. Kebijakan moneter berhubungan dengan tingkat suku bunga dan inflasi. Khususnya inflasi mempunyai dampak langsung terhadap manajemen keuangan antara lain masalah :
1.       Masalah akuntasi
2.       Kesulitan perencanan
3.       Permintaan terhadap modal
4.       Suku bunga
5.       Harga obligasi menurun

Kondisi ekonomi juga mempunyai dampak lansung terhadap manajemen keuangan antar alin masalah :
1.       Persaingan internasional
2.       Keuangan internasional
3.       Kurs pertukaran yang berfluktuasi
4.       Marger, pengambilalihan, dan restrukturisasi
5.       Inovasi keuangan dan rekayasa keuangan

8. Pihak-Pihak yang Memerlukan Laporan Keuangan
Dalam dunia bisnis, ada beberapa pihak yag memerlukan laporan keuangan, yaitu pihak internal perusahaan dan pihak eksternal perusahaan. Pihak internal perusahaan adalah para manajer pada semua tingkat. Lapotran keuangan itu dijadikan alat untuk mengambil keputusan rutin dan keputusan khusus. Keputusan rutin meliputin keputusan0keputusan yang berhubungan dengan kegiatan oprasi dan keputusan kusus meliputi keputusan-keputusan yang berhubungan dengan investasi jangka panjang, misalnya mendirikan pabrik baru, memproduksi produk baru, mendirikan anak perusahaan, riset pemsaran, dan sebagainya.

Pihak eksternal yang membutuhkan laporan keuangan antara lain adalah pemegang saham, kantor pajak, pasar modal, lembaga keuangan, serikat buruh, dan sebagainya. Mereka mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dalam menggunakan informasi  laporan keuangan. Pemegang saham untuk menilai investasi; kantor pajak untuk menentukan besarnya pajak penghasilan; pasar modal untuk memperkirakan harga saham; serikat buruh untuk memperkirakan bonus yang akan diterimanya.

Soal 1.1 : mulia indah
a.       jika anda sebagai manejer keuangan, apa yang anda yg lakukan utk memaksimumkan nilai perusahaan?
b.       menurut pendapat anda, mana yg lebih penting: megelola aktivitas investasi / megelola aktivitas bisnis /
c.       mengelola aktivitas pembiayaan?
d.       mengapa dewasa ini para manajer keuangan sulit untuk mengelola keuangan perusahaan?
e.       ika suatu perusahaan memiliki total harga Rp 1500 dibiayai dengan modal sendiri Rp 500 & sisanya dengan modal pinjaman dgn bunga per tahun 20 % , pajak perseroan 50 %, biaya modal sendiri diperhitungkan 24 %, laba operasi sebesar Rp 200 per tahun. Apakah manajemen perusahaan tersebut profesional atau tidak?

Rabu, 21 Juli 2010

Biaya Modal (Cost Of Capital)

1. Pengertian dan Fungsi Biaya Modal
Biaya Modal adalah biaya riil yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana baik yang berasal dari hutang, saham preferen, saham biasa, maupun laba ditahan untuk mendanani suatu investasi atau operasi perusahaan.
Penentuan besarnya biaya modal ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa besarnya biaya riil yang harus dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh dana yang diperlukan.
Biaya modal dapat dihitung berdasarkan biaya untuk masing-masing sumber dana atau disebut biaya modal individual. Biaya modal individual dihitung tiap jenis modal. Namun apabila perusahaan menggunakan beberapa sumber modal maka biaya modal yang dihitung adalah biaya modal rata-rata tertimbang (Weightedf average cost of capital/WACC) dari seluruh modal yang digunakan.
Konsep Biaya Modal erat hubungannya dengan konsep mengenai pengertian tingkat keuntungan yang disyaratkan (required rate of return). Tingkat keuntungan yang disyaratkan sebenarnya dapat dilihat dari dua pihak yaitu sisi investor dan perusahaan. Dari sisi investor, tinggi rendahnya required rate of return merupakan tingkat keuntungan (rate of return) yang mencerminkan tingkat resiko dari aktiva yang dimiliki. Sedangkan bagi perusahaan yang menggunakan dana (modal), besarnya required rate of return merupakan biaya modal (cost of capital) yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan modal tersebut. Biaya modal bisanya digunakan sebagai ukuran untuk menentukan diterima atau ditolaknya suatu usulan investasi (sebagai discount rate), yaitu dengan membandingkan tingkat keuntungan (rate of return) dari usulan investasi tersebut dengan biaya modalnya.

2. Komponen Biaya Modal

Komponen biaya modal terdiri dari :
 Debt (Hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang)
 Preferred (Saham Preferen)
 Common Equity (Saham Biasa dan Laba ditahan)

2.1 Biaya Modal Individual
1. Biaya Modal Hutang Jangka Pendek
Biaya modal hutang jangka pendek merupakan hutang yang jangka waktu pengembaliannya kurang dari satu tahun, biasanya terdiri dari hutang dagang, hutang wesel, dan kredit jangka pendek lainnya. Biaya modal dari penggunaan hutang (cost of debt) dihitung dengan cara :
rd AT = rd BT(1 - T)
Dimana :
rd AT = Biaya hutang jangka pendek setelah pajak
rd BT = Biaya hutang jangka pendek sebelum pajak sebesar tingkat bunga
hutang
T = Tingkat Pajak

2. Biaya Modal Hutang Jangka Panjang

Biaya hutang yang ditanggung oleh perusahaan yang menggunakan dana hutang tidak lain adalah sebesar tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh investor. Biaya modal yang berasal dari penggunaan hutang jangka panjang (cost of debt), dihitung dengan

I + (N-Nb)/n
rd = ----------------------
(Nb + N) /2
Di mana :
I = Bunga hutang jangka panjang (obligasi) satu tahun dalam rupiah
N = Harga nominal obligasi atau nilai obligasi pada akhir umurnya
Nb = Nilai bersih penjualan obligasi
n = umur obligasi

3. Biaya Modal Saham Preferen

Biaya modal saham preferen (cost of preferrd stock/rps) adah biaya riil yang harus dibayar apabila perusahaan menggunakan dana dengan menjual saham preferen. Biaya modal saham preferran diperhitungkan sebesar tingkat keuntungtan yang disyaratkan (required rate of return) oleh investor pemegang saham preferen.

r ps = Dps / P0
Dimana :
r ps = Biaya saham preferen
Dps = Deviden saham preferen
P0 = Harga saham preren saat ini (harga proses)

4. Biaya Modal Saham Biasa dan Laba ditahan
Biaya modal saham biasa dan laba ditahan atau sering disatukan menjadi biaya modal sendiri (biaya ekuitas) atau kadang-kadang disebut biaya modal saham biasa saja. Biaya modal ekuitas merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan yang memperoleh dana dengan menjual saham biasa atau menggunakan laba ditahan untuk investasi.

r s = D1 / P0 + g
Dimana :
rs = biaya modal ekuitas
D1 = Deviden saham yang diharapkan pada tahun pertama
P0 = harga saham saat ini
g = tingkat pertumbuhan

2.2 Biaya Modal Keseluruhan (Weighted average cost of capital/WACC)
Biaya modal secara keseluruhan merupakan biaya modal yang memperhitungkan seluruh biaya atas modal yang digunakan oleh perusahaan. Biaya modal yang diperhitungkan merupakan biaya modal dari seluruh jenis modal yang digunakan. Karena biaya modal dari masing-masing sumber dana berbeda-beda, maka untuk menetapkan biaya modal dari perusahaan secara keseluruahn perlu dihitung biaya modal rata-rata tertimbangnya (Weighted average cost of capital / WACC). Sebagai unsure penimbanngnya adalah proporsi dana bagi setiap jenis atau sumber modal yang digunakan dalam investasi proyek tersebut.

WACC = wdrd(1 - T) + wpsrps + wcers
Dimana :
W = bobot /proporsi masing-masing dari jenis modal yang digunakan
r = biaya modal masing-masing dari jenis modal digunakan


Referensi

Brigham, Daves, 2004, Intermediate Financial Management, edisi 8
Martono & Agus H, 2001, Manajemen Keuangan, Cet pertsama, Ekonisia Jogjakarta

Sabtu, 17 Juli 2010

PENDANAAN PEMBIAYAAN (LEASING FINANCING)

Perusahaan pada umumnya memiliki aktiva tetap dan melaporkannya di neraca. Pengguanaan aktiva tetap seperti bangunan dan peralatan itulah yang penting bukan kepemilikannya. Cara untuk mengugnakan aktiva tetap adalah dengan membelinya. Cara lain adalah dengan me-lease atau “menyewa guna usaha”.
JENIS-JENIS LEASE
1. Lease Operasi (Operating Lease)
Lease operasi atau bisa disebut lease jasa adalah jenis lease yang menawarkan pembiayaan sekaligus pendanaan. Lessor (pemberi lease) bertanggung jawab untuk merawat dan menservis peralatan yang di-lease oleh lease (penguna lease). Lease operasi tidak diamortisasi sepenuhnya, artinya adalah pembayaran lease tidak cukup unutk menutupi seluruh biaya peralatan tersebut. Kontrak lease tidak cukup untuk menutupi seluruh biaya peralatan tersebut. Kontrak lease diadakan untuk periode yang sangat pendek bila dibandingkan dengan umur ekonomis perlatan yan gdi-lease. Dalam perjanjian lease operasi terdapat pasal tentang pembatalan lease, yangmemberikan hak kepada lease untuk membatalkan lease sebelumnya berakhirnya kontrak lease.
2. Lease Keuangan atau modal (Financial or capital Lease)
Secara prinsip lease keuangan atau modal seperti lease operasi, namun terdapat perbedaan yaitu: 1) Lease modal tidak memeberikan jasa pemeliharaan (maintenance service), 2) lease modal tidak dapat dibatalkan, 3) lease modal diamortisasi secar penuh (artinya lessor menerima pembayaran sewa yang sama dengan harga penuh peralatan yang di-lease ditambah pengmebalian atas investasi tersebut).
3. Jual dan lease kembali (sale-and-lease-back Arangement)
Perusahaan yang memiliki tanah, bangunan, atau perlatan menjual asetnya dan serta merta membuat perjanjian untuk me-lease kembali property tersebut selama periode tertentu dengan syarat-syarat khusus. Dalam pemberian pinjaman hipotik lembaga keuangan biasanya menerima pembayaran angsuran yang cukup untuk mengamortisasi pinjaman itu sambil mentetapkan tingkat pengembalian tertentu atas jumlah yangmasih terutang oleh peminjam. Pembayaran lease akan ditetapkan sedemikian rupa sehinggan mengembalikan harga beli kepada investor/lessor sambil menetapkan tingkat pengembalian tertentu atas investasi lessor yang beredar.
4. Lease Kombinasi (Lease Combination)
Lease ini adalah kombinasi dari system lease operasi dan sistem lease modal. Contohnya adalah dalam perkembangannya sekarang lease modal mencantumkan klausul pembatalan kontrak, yang notabene klusul ini semula dimilki oleh lease operasi.
5. Lease semu (Synthetic lease)
Dalam tipe lease ini, perusahaan yang menginginkan menambah asset, umumnya dalam bentuk real estate dengan kepemilikan jangka panjang, secara hutang akan melakukan langkah-langkah. Pertama, ia akan mendirikan dan membnetuk Entitas dengan penawaran khusus (Special-purpose entity, SPE). Selanjutnya, SPE akan mendaptakan pendanaan dengan komposisi 97 persen disediakan oleh institusi pendanaan dan 3 persen ekuitas disediakan oleh pihak lain dari perusahaan induk. Dana yang diperoleh SPE selanjutnya digunakan untuk membeli untuk memiliki asset yang diinginkan. Langkah selanjutnya, perusahaan induk akan me-lease asset dari SPE tersebut dala jangka waktu 3 samapi dengan 5 tahun dengan opsi yang membolehkan perpanjangan kontrak lease. Jangka lease yang pendek ini akan termasuk lease operasi yang oleh karenaya tidak dikapitalisasi dan tidak dicatat/ditunjukkan dalm neraca di laporan keuangan perusahaan.
PENGARUH LEASE TERHADAP PAJAK (TAX EFFECTS)
Ditinjau dari pengaruh atas pajak, lease dibedakan menjadi dua, lease berorientasi pajak (tax-oriented lease, TOL) dan lease tak berorientasi pajak (non-oriented-tax lease, NTOL). Untuk NTOL memilki karakteristik; 1) Pihak lessee adalah pemilik sepenuhnya atas asset yang di-lease-kan, 2) Aset yang di-lease dapat dikenai penyusutan untuk tujuan pajak, dan 3) Pengenaan pajak hanya pada bagian bunga dari setiap pembayaran lease. Sedangkan untuk TOL, total nilai dari pembayaran lease dapat dikenai pajak sebagai tax expense. Terdapat aturan legal yang membatasi transaksi lease dimana dengan pembatasan ini suatu perusahaan tidak akan bias mengatur transaksi lease dengan pembayaran yang singkat dimana hal ini akan dikenai pajak. Akibat dikenai pajak maka akan muncul perhitungan penyusutan asset lease dalam jangka waktu penyusutan lebih pendek daripada umur kegunaan yang semestinya ( MACRS class life). Aturan tersebut yaitu:
1. Lease (termasuk penambahan dan pembaharuan tingkat sewa yang ditetapkan) tidak boleh lebih dari 80 persen dari umur kegunaan yang diperkirakan atas asset lease pada perjanjian awal transaksi lease. Dengan demikian, asset dengan umur kegunaan 10 tahun dapat di-lease-kan lebih dari 8 tahun. Yang selanjutnya, umur kegunaan yang tersisa tidak boleh kurang dari 1 tahun.
2. Nilai sisa asset (dengan kurs dolar yang tetap tanpa penyesuaian inflasi) akhir kotrak lease harus lebih kecil dari 20 persen dari nilai asset lease pada permulaan kontrak.
3. Lessee dan pihak lain tidak diperkenankan untuk membeli asset lease pada harga penetapan awal kontrak.
4. Lesse dan pihak lain tidak bisa membayar garansi atas bagian dari asset yan gtelas di-lease. Secara sederhanaya, lessee tidak bisa melakukan investasi atas asset lease dengan cara lain kecuali lewat pembayaran lease.
5. Aset yang di-lease tidak dibatasi kegunaannya (unlimited use property) yang berarti asset lease hanya dapat digunakan oleh lessee atau pihak lain pada akhir kontrak lease.

PENGARUH LEASE TERHADAP LAPORAN KEUANGAN (FINANCIAL STATEMENTS EFFECTS)
Pembayaran lease dapat dicatat sebagai beban operasi pada laporan rugi-laba, tetapi dalam keadaan tertentu baik aktiva lease maupun kewajiban lease sesuai kontrak lease tidak muncul dalam neraca perusahaan. Karena itu, leasing seringkali disebut pendanaan di luar neraca (off balance sheet financing). Perusahaan yangmelaksanakan lease keuangan (modal) harus menyajikan kembali neracanya untuk melaporkan : 1) aktiva yan gdi-lease sebagai aktiva tetap, dan 2) nilai sekarang pembayaran lease dim as mendatang dicatat sebagai utang. Proses ini disebut sebagai pengkapitalisasian lease. Ditinaju dari segi maksud dan tujuan, lease keuangan adalah pinjaman. Dengan demikian apabila perusahaan mengadakan perjanjiak lease, maka hal itu akan memperbesar rasio utang yang “sebenarnya” dan megubah struktur modal yang “sebenarnya”. Suatu lease harus diklasifikasikan sebagai lease modal, dan karenanya dikapitalisasikan dan langsung disajikan di neraca, jika terdapat salah satu dari kondisi berikut:
1. Berdasarkan syarat-sayarat lease, pemilikan atas aset secara efektif berpindah dari lessor kepada lessee
2. Lease dapat membeli asset lease atau memperbarui perjanjian lease dengan haraga yang lebih rendah daripada harga wajar pasar pada saat perjanjian lease berakhir
3. Lease itu berlaku untuk periode yang sama atau lebih lama daripada 75 persen dari umur aktiva. Jadi, jika suatu aktiva berumur 10 tahun dan lease ditulis untuk periode lebih dari 7,5 tahun maka lease tersebut harus dikapitalisasi.

Manajemen Modal Kerja

A. Istilah Modal Kerja
Bebarapa definisi dan konsep dasar :
1. Modal Verja (Working capital), yang Madang disebut modal kerja bruto (gross working capital) adalah aktiva lancer yang digunakan dalam operasi
2. Modal kerja bersih (net working capital) adalah aktiva lancer dikurangi kewajiban lancer.
3. Operasi Bersih Modal Kerja (Net operating working capita, NOWC) adalah aktiva lancer operasi dikurangi utang lancer operasi. Biasanya, NOWC terdiri dari jumlah kas, piutang dagang, dan persediaan, dikurangi dengan utang dagang dan akrual
Kebijakan modal kerja (working capital policy) mengacu pada kebijakan dasar perusahaan mengenai :
1. Jumlah yang ditargetkan untuk setiap kategori aktiva lancar.
2. Bagaimana aktiva lancer akan dibiayai.
B. Kebijakan Investasi Alternatif dalam Aktiva Lancar
1. Kebijakan investasi kativa lancer yang longgar (relaxed current asset investment asset policy), adalah suatu kebijakan dimana kas, sekuritas, dan persediaan dimiliki dalam jumlah yang relative besar serta penjualan digalakkan dengan kebijakan penjualan kredit yang linggar sehingga mengakibatkan tingkat piutang usaha yang tinggi.
2. Kebijakan Investasi aktiva lancer yang ketat (restricted current asset investment policy) adalah suatu kebijakan yang berupaya meminimumkan jumlah kas, sekuritas, persediaan, dan piutang usaha perusahaan.
Kebijakan investasi aktiva lancer yang moderat (moderate current asset investment policy) adalah suatu kebijakan diantara kebijakan yang longgar dan yang ketat.
C. Manajemen Kas
Sasaran manajer kas adalah meminimumkan jumlah kas yang harus ditahan perusahaan untuk digunakan dalam melaksanakan aktivitas bisnis yang normal, namun pada saat yang bersamaan, memiliki cukup banyak kas untuk :
1. mengambil piotongan dagang (trade discount)
2. mempertahankan peringkat kredit (credit rating) dan
3. memenuhi kebutuhan kas yang tak terduga.
Ada dua alas an utama perusahaan untuk menahan kas yaitu :
1. Transaksi. Saldo kas yang terkait dengan pembayaran dan penagihan rutin dikenal sebagai saldo transaksi (transactions balance)
2. Kompensasi atas pinjaman dan pelayanan bank, Bank mendapat uang dengan meminjamkan dana dari deposito yang diterimanya, sehingga makin besar deposito, makin baik posisi bank untuk memperoleh laba.
D. Anggaran Kas
Perusahaan mengestimasi kebutuhan kasnya sebagai bagian dari proses penyusunan anggaran umum, atau proses peramalan. Pertama, preusan meramalkan penjualan, lalau aktiva tetap, dan persediaan yang diperlukan, kemudian menentukan saat pembayaran yang harus dilakukan.
Anggaran kas menyajikan proyeksi arus kas masuk dan arus kas keluar dari kas preusan selama periode tertentu. Pada umumnya, preusan menggunakan statu anggaran kas bulanan yang diramalkan untuk satu tahun ke depan, ditambah anggaran kas harian atau mingguan yang lebih rinci untuk bulan mendatang.
Saldo kas yang ditargetkan, hádala saldo kas yang ingin dipertahankan oleh preusan untuk menjalankan usaha.
E. Teknik-Teknik manajemen Kas.
Manajemen kas yang efektif menekankan pengelolaan yang tepat atas arus kas masuk dan arus kas keluar. Teknik-teknik yang umum digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas memanajemen kas :
1. Mensinkronkan arus kas
Situasi dimana arus kas masuk diselaraskan dengan arus kas keluar, sehngga memungkinkan statu preusan mempertahankan saldo kas untuk keperluan transaksi yang rendah.
2. Mempercepat proses klirin cek
Yaitu proses pengkonversian statu cek yang telah ditulis dan dikirimkan menjadi uang kas dalam rekening yang dibayar.
3. Memanfaatkan masa mengambang (Flota)
Didefinisikan sebagai perbedaan antara saldo yang dioperlihatkan dalam buku cek sebuah preusan (atau perseorangan) dan saldo pada catatan bank. Pengeluaran mengambang (disbursement float), adalah nilai cek yang telah ditulis tetapi masih diproses sehingga belum dikurangkan dari saldo rekening kita oleh bank. Penagihan Mengambang (collection float) adalah jumlah cek-cek yang telah kita terima tetapi yang belum dikredit ke rekening kita, Nilai mengambang bersih (net float) adalah selisih antara rekening bank menurut pembukuan pemegang rekening dengan saldo rekening menurut pembukuan bank.
4. mempercepat Penerimaan.
5. Beberapa teknik digunakan untukmempercepat penagihan maupun menyampaikan dana ke tempat dimana dana diperlukan, antara lain :
a. Kotak pos khusus, (lockbox plan), yaitu suatu prosedur yang digunakan untuk mempercepat penagihan dan mengurangi masa mengambang melalui penggunaan kotak-kotak pos di daerah tempat yang dibayarkan.
b. Pembayaran melalui kawat atau pendebetan otomatis. Penggunaan teknologi memungkinkan efisiensi dan Sangay mempercepat proses penagihan.
F. Persediaan
Persediaan (inventory) dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Perlengkapan (supplies)
2. bahan baku
3. Barang dalam proses, dan
4. Barang jadi.
Tujuan ganda dari manajemen persediaan adalah :
1. Untuk memastikan persediaan yang dibutuhkan guna menyokong operasi persediaan
2. Menekan biaya pemesanan dan penyimpanan persediaan ke tingkat yang terendah.
G. Manajemen Piutang
Tekanan persaingan telah memaksa kebanyakan preusan untuk memberikan kredit. Jadi barang dikirim, persediaan dikurangi, dan piutang muncul. Pada saat pelanggan membayar piutangnya : (1) Perusahaan akan menerima kas, (2) piutangnya akan berkurang. Memiliki piutang mengakibatkan biaya langsung dan tidak langsung, tetapi juga mempunyai manfaat yang penting dengan memberikan kredit akan menigkatkan penjualan.
1. Kebijakan Kredit.
Terdiri dari empat variable :
a. Periode kredit, adalah jangka waktu yang diberikan lepada pembeli untuk membayar pembelian mereka.
b. Diskon, diberikan untuk pembayaran yang lebih cepat, termasuk presentase diskon dan bagaimana pembayaran dengan cepat yang termasuk mendapatkan diskon.
c. Stándar kredit, yang mengacu pada kemampuan finansial pelanggan yang diperlukan untuk dapat diterima kreditnya
d. Kebijakan penagihan, yang diukur dengan ketaatan atau kelonggaran yang diberikan preusan dalam upaya menagih piutang yang lamban pembayarannya.
2. Akumulasi Piutang Usaha
Jumlah pitang usaha yang beredar ditentukan oleh faktor : (1) volume penjualan kredit dan (2) jangka waktu rata-rata antara penjualan dan penagihan.
3. Memantau posisi Piutang Usaha.
Pada saat penjualan kredit dilakukan, kejadian yang berlangsung :
a. Persediaan dikurangi dengan harga pokok penjualan
b. Piutang usaha dinaikkan dengan harga jual
c. Laba ditambahkan ke dalam laba ditahan
H. Akrual dan Utang Usaha. (Kredit Dagang)
Pernyataan mengenai fleksibilitas, biaya dan tingkat risiko uatang jangka pendek dibandingkan utang jangka panjang sebagian besar tergantung pada jenis kredit jangka pendek yang sebenarnya digunakan.
1. Akrual.
Kewajiban jangka pendek yang timbal terus menerus, khususnya upah dan pajak yang terutang. Pos-pos akrual ini naik dengan sendirinya atau secara spontan, señalan dengan meluasnya operasi preusan. Selkanjutnya utang ini bisa dikatakan :”gratis” dalam arti tidak ada beban bunga secara eksplisit atas dana yang diperoleh dari pos-pos akrual.
2. Utang Usaha (Kredit dagang)
Berasal dari penjualan kredit, dicatat sebagai piutang usaha oleh penjual dan sebagai utang usaha oleh pembeli. Utang usaha, atau kredit dagang (trade credit) hádala bagian terbesar dari utang jangka pendek, yang jumlahnya sekitar 40 % dari kewajiban lancar kebanyakan preusan yang b ukan lembaga keuangan. Kredit dagang merupakan pembiaytaan yang bersifat “spontan” dalam artian utang tersebut timbal dari transaksi usaha zaherí-hari.
3. Biaya Kredit dagang
Perusahaan yang menjual secara kredit mempunyai kebijakan penjualan kredit yang mencakup syarat kredit tertentu.
Kredit dagang yang gratis (Free trade credit), yaitu krtedit yang diterima selama periode potongan. Kredit dagang yang berbiaya (costly trade credit), yaitu kredit yang diambil melebihi kredit dagang yang gratis dan biayanya adalah implisit berdasarkan potongan yang tidak diambil.
I. Beberapa Alternatif Kebijakan Pembiayaan Aktiva Lancar.
Aktiva lancar hermanen yaitu aktiva lancar yang ditahan pada titik rendah dari siklus, dan aktiva lancar sementara hádala tambahan aktiva lancar pada saat penjualan mengalami masa cerah.
1. Pendekatan “Maturity Matching” atau “Self Liquidating”.
Merupakan kebijakan pembiayaan yang menyamakan saat jatuh tempo aktiva dengan kewajiban. Ini merupakan kebijakan yang moderat.
Dalam kenyataannya, ada dua hal yang menghalangi ketepatan maturity matching, yaitu :
a. Adanya ketidakpastian mengenai umur aktiva
b. Sejumlah saham biasa terpaksa digunakan, sedangkan ekuitas saham biasa tidak mempunyai jatuh tempo.
2. Pendekatan yang Agresif
Adalah komposisi pembiayaan aktiva lancer apakah menggunakan utang jangka panjang atau utang jangka pendek.
3. Pendekatan Konservatif.
Perusahaaan menggunakan sejumlah kecil kredit jangka pendek nonspontan untuk memenuhi sebagian dai kebutuhan musiman dengan “mengumpulkan likuiditas” dalam bentuk sekuritas yang mudah dipasarkan.
J. Surat Berharga yang Mudah Dipasarkan
Sekuritas yang mudah dipasarkan, atau disingkat sekuritas, lazimnya memberikan hasil yang lebih rendah ketimbang aktiva operasi.Sekuritas dapat digunakan sebagai pengganti saldo transaksi, saldo berjaga-jaga, saldo spekulatif, atau ketiga-tiganya.
K. Utang Jangka PEndek
Kebijakan agresif menggunakan utang jangka pendek terbesar, sedangkan kebijakan yang konservatif menggunakan utang jangka pendek yang terkacil.
1. Keuntungan utang jangka pendek
Pertama, uatng ajangka pendek dapat diperoleh jauh lebih cepat daripada utang jangka panjang.
Jika kebutuhan bersifat musiman, perusahaan mungkin perusahaan tidak ingin terikat dalam utang jangka panjang karena :
a. Biaya pengembangan yang tinggi untuk utang jangka panjang
b. Denda pelunasan awal utang jangka panjang dapat cukup mahal.
c. Ketentuan utang jangka panjang umumnya memuat hokum yang membatasi perusahaan dimasa mendatang.
Selain hal tersebut diatas, bunga atas utang jangka pendek umumnya jauh lebih kecil daripada utang jangka panajng.
2. Kerugian Utang Jangka Pendek
a. Bunga utang jangka panjang relative stabil, jika menggunakan utang jangka pendek bunganya bias sangat berfluktuasi.
b. Jika pinjaman jangka pendek preusan Sangay besar, terjadinya resesi sementara dapat mengakibatkan ia tidak mampu melunasi utangnya.
L. Utang Bank Jangka Pendek
Pinjaman yang lazimnya disajikan sebagai wesel bayar, merupakan sumber pembiayaan yang terpenting kedua setelah utang usaha.
Sebagian besar kredit bank umumnya berupa pinjaman jangka pendek. Jika keadaan keuangan peminjam memburuk, bankmungkin tidak bersedia memperpanjang kredit tersebut.
Persetujuan kredit diwujudkan dengan adanya promes, yang memuat :
a. Jumlah pinjaman
b. Suku bunga
c. Jadwal pelunasan
d. Agunan yang digunakan
e. Persyaratan lainnya.
Bank kadangkala mensyaratkan peminjam untuk mempertahankan saldo rekening sebesar 10 – 20 % dari jumlah pinjaman, yang disebut saldo kompensasi.
Plafon kredit adalah kesepakatan tidak resmi antara bank dengan peminjam mengenai jumlah pinjaman maksimum yang akan diberikan bank kepada peminjamnya.
Perjanjian kredit bergulir adalah plafon kredit formal yang biasanya digunakan oleh perusahaan besar.
M. Surat Berharga Komersial
Adalah promes dari perusahaan besar dan kuat yang tidak didukung jaminan dan terutama dijual kepada perusahaan lain, ke maskapai asuransi, yayasan dana pensión, dana bersama pasar uang dan bank.
Surat berharga komersial biasanya jatuh tempo antara dua hingga enam bulan, dengan rata-rata sekitar lima bulan. Penggunaan surat berharga komersial sangat terbatas pada sejumlah kecil perusahaan yang benar-benar sehat keuangannya.
N. Penggunaan Sekuritas dalam Pembiayaan Jangka PEndek.
Surat berharga komersial tidak pernah dijamin dengan agunan, tetapi semua jenis pinjaman lain dapat dijamin jika dianggap perlu. Berbagai jenis agunan dapat digunakan termasuk saham atau obligasi yang mudah dipasarkan.

Menyediakan dan Memperoleh Kredit

A. Kebijakan Kredit
Keberhasilan atau kegagalan perusahaan terutama tergantung pada permintaan atas produknya, sebagai patokan, makin tinggi penjualan, makin sehat dan menguntungkan suatu perusahaan. Kebijakan penjualan kredit terdiri dari empat variable :
1. Periode kredit
2. Standar kredit
3. Kebijaka penagihan
4. Diskon dan pemotongan
B. Menetapkan Periode dan Standar Kredit.
Syarat kredit yang biasa, yang mencakup periode kredit dan potongan biasanya ditetapkan dengan 2/10,net 30.
Stándar kredit mengacu pada kekuatan keuangan dan kelayakan seorang pelanggan untuk mendapatkan kredit. Penetapan estándar kredit memerlukan pengukuran atas koalitas kredit, yang didefinisikan sebagai kemungkinan terjadinya penunggakan oleh pelanggan.
Laboran Kredit preusan lazimnya memuat informasi berikut :
a. Ikhtisar neraca dan Laporan laba rugi
b. Sejumlah rasio kunci dan informasi tren
c. Informáis dari para pemasok perusahaan sehubungan dengan apakah perusahaan telah membayar dengan cepat atau lambat dan apakan Belem lama ini tidakbisa melakukan pembayaran.
d. Penjelasan verbal mengenai kondisi fisik operasi perusahaan
e. Penjelasan verbal mengenai latar belakang pemilik perusahaan, termasuk adanya kebangkrutan, gugatan, masalah perceraian dsb.
f. Statu ikhtisar peringkat, yang berkisar darinilai A untuk resiko terbaik ingá F untuk terburuk.
C. Menetapkan Kebijakan Penagihan.
Kebijakan penagihan mengacu pada prosedur-prosedur yang digunakan untuk menagih piutang yang lewat tempo.proses penagihan bisa mal dalam pengertian biaya yang harus dikeluarkan maupun dalam pengertian kehilangan hubungan baik – pelanggan tidak senang utangnya dialihkan ke perusahaan lain.
D. Potongan tunai
Potongan tunai dianalisis dengan menyeimbangkan biaya dan manfaat dari berbagai potongan tunai. Jika penjualan bersifat musiman, perusahaan dapat menggunakan penaggalan musiman untuk potongan.
E. Factor-Faktor lain yang mempengaruhi kebijakan Kredit
Ada dua hal yang perlu dijelaskan mengenai kebijakan kredit.
1. Potensi laba, jika ada kemungkinan untuk mensual secara kredit dan juga memberlakukan statu pembebanan atas piutang usa yang beredar, penjualan secara kredit tersebut benar-benar lebih menguntungkan daripada penjualan tunai.
2. Pertimbangan hukum, melanggar hukum untuk memberikan syarat kredit yang lebih menguntungkan lepada satu pelanggan atau satu golongan pelanggan daripada pelanggan yang lain kecuali kalau perbedaan itu dapat dibenarkan dari segi biaya.
F. Biaya Pinjaman dari bank
Biaya pinjaman bank berbeda-beda di antara berbagai golongan nasabah pada saat tertentu dan dapat berubah dari waktu ke waktu.Suku bunga bank berubah ubah tergantung pada kondisi ekonomi dan kebijakan bank central. Apabila perekonomian lesu, (1) pemintaan pinjaman biasanya Turín, (2) tingkat inflasi rendah, (3) bank central menyediakan banyak uang pada sistem perekonomian. Eleven-elemen kunci yang terdapat pada sebagian besar promes :
- Bunga saja vs diamortisasi, pinjaman bisa dikenakan bunga saja, yang berarti hanya bunga yang dibayarkan selama masa pinjaman, dan nilai pokoknya dibayar saat jatuh tempo. Atau pinjaman bisa diamortisasi, atau pinjaman angsuran.
- Agunan, utang jangka pendek dijamin oleh agusana tertentu yang umumnya piutang usa atau persediaan, hal ini ditunjukkan dalam promes.
- Jaminan pinjaman, Jika peminjam hádala perusahaan kecil, bank mungkin akan menuntut agar pemegang saham besar secara pribadi menjamin pinjaman tersebut.
- Suku bunga nominal yang ditetapkan, dapat bersifat tetap atau mengambang.
- Frekuensi pembayaran bunga, biasanya dihitung secara harian tetapi dibayar bulanan.
- Jatuh tempo, utang jangka panjang selalu punya jatuh tempo, tetapi jangka pendek tidak selalau.
- Suku bunga potongan, pinjaman berpotongan mensyaratkan bunga dibayar dimuka.
- Pinjaman angsuran berdasar bunga yang ditambahkan.
- Eleven biaya lain.
1. Buga Sederhana
Untuk pinjaman usaha, prosedur yang paling umum disebut bunga sederhana, berdasarkan pinjaman dengan beban bunga saja.
Suku bunga nominal
Suku Bunga Per Hari =
Hari dalam sebulan

2. Bunga Diskonto
Dalam pinjaman dengan bunga diskonto, bank langsung memotong bunga pada saat memberikan pinjaman.
3. Pengaruh saldo kompensasi
Jika bank mensyaratkan saldo kompensasi dan jumlah saldo yang disyaratkan lebih besar daripada jumlah yang biasanya ditahan perusahaan dalam deposit, kelebihan itu harus dikurangkan pada t = 0 kemudian ditambahkan ketika pinjaman jatuh tempo.
E. Memilih Bank
1. Kesediaan menanggung resiko, bank-bank mempunyai kebijakan dasar yang berbeda dalam resiko, sebagian bank menjalankan praktik pemberian pinjaman yang relative konservatif, sementara yang lain melakukan apa yang disebut sebagai praktik perbankan yang kreatif.
2. Nasehat dan Penyuluhan, Bank-bank tertentu mempunyai departemen khusus yang pejabatnya memberikan penyuluhan yang sangat bermanfaat bagi nasabahnya.
3. Loyalti kepada nasabah, dalam masa sulit, bank berusaha keras menekan suatu perusahaan untuk menjual aktivanya untuk melunasi utangnya, sementara bank lain rajin membantu agar perusahaan bangkit kembali.
4. Spesialisasi, bank-bank sangat berbeda dalam tingkat spesialisasi pinjaman.
5. Jumlah kredit maksimum, Jumlah pinjaman yang dapat diberikan kepada suatu nasabah dibatasi sebesar 15 % dari modal bank, perusahaan besar kurang tepat untuk menjalin hubungan kredit dengan bank kecil.
6. Merchant Banking, istilah yang pada mulanya diberikan kepada bank yang tidak hanya memberikan pinjaman kepada nasabah tetapi juga memberikan modal ekuitas dan nasehat keuangan.
7. Jasa-jasa lainnya, bank juga memberikan jasa manajemen kas, membantu dalam transfer dana elektronik, mendapatkan valuta asing, dan sejenisnya.

Topik-Topik lain dalam Manajemen Modal Kerja.

A. Konsep Modal Kerja Nol
Pendukung konsep modal kerja nol menyatakan bahwa suatu gerakan ke arah sasaran ini tidak hanya menghasilkan uang kas, tetapi juga mempercepat produksi dan membantu perusahaan melakukan penyerahan lebih tepat waktu dan beroperasi secara lebih efisien. Modal kerja = Persediaan + piutang – utang, dasar pemikirannya adalah : (1) persediaan dan piutang usaha adalah kunci untuk mengadakan penjualan, tetapi (2) persediaan dapat dibiayai oleh pemasok melalaui utang usaha.
Faktor yang paling penting dalam konsep modal kerja nol adalah meningkatkan kecepatan. Mencapai modal kerja nol mengharuskan setiap pesanan dan bagian produk bergerak pada kecepatan maksimum, yang umumnya berarti mengganti kertas dengan data elektronik.
B. Sistem Pengendalian Kas
Salah satu prosedur pengendalian yang sederhana adalah metode garis merah, yaitu barang-barang persediaan disimpan di dalam kotak atau peti, lalau ssuatu garis merah digambar di sekeliling bagian dalam peti tersebut, manakala garis merah tampak, petugas bagian persediaan akan melakukan pemesanan. Metode dua peti, persediaan disimpan di dalam dua buah peti. Pada saat peti pertama kosong, maka persediaan diambil dari peti satunya. Prosedur ini cocok untuk barang-barang suku Madang seperti sekrup dalam proses pabrikasi dan untuk berbagai bisnis eceran.
1. Sistem terkomputerisasi
Sebagian besar perusahaan sekarang menggunakan sistem pengendalian persediaan terkomputerisasi. Komputer nulai dengan perhitungan persediaan di dalam memori. Pada saat pengambilan dilakukan, dicatat oleh computer, dan saldo persediaan direvisi. Bila titik pemesanan ualang dicapai, computer secara otomatis melakukan pemesanan, dan bila pemesanan diterima, saldo yang dicatat bertambah.
2. Sistem Tepat Waktu
Sistem tepat waktu dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan jepang tetapi popularitas di seluruh dunia. Sistem tepat waktu juga dianut oleh perusahaan-perusahaan kecil.
3. Out sourching.
Penggunaaan sumber luan (out sourching), merupakan praktik membeli komponen-komponen daripada membuatnya sendiri.
4. Hubungan antara penjadwalan produksi dan tingkat persediaan.
Jika perusahaan menetapkan suatu jadwal tingkat produksi yang merata, persediaannya akan naik secara tajam ketika penjualan rendah dan kemudian akan menurun selama periode puncak penjualan, tetapi persediaan rata-rata uyang dimiliki akan jauh lebih tinggi daripada jika p[roduksi disesuaikan dengan naik-turunnya penjualan.