Rotating X-Steel Pointer

Minggu, 04 Juli 2010

Sistem Manajemen Biaya Tradisional

A. Sistem Manajemen Biaya
1. Job Order and Process Costing Systems
Job order costing adalah proses untuk mengestimasi biaya produk manufaktur untuk pekerjaan yang berbeda untuk pesanan pelanggan yang spesifik. Metode ini diterapkan dalam organisasi yang menggunakan pekerjaan individual sebagai unit yang harus diselesaikan. Contohnya, perusahaan yang membuat bingkai menurut pesanan untuk rumah seni akan menggunakan system job order costing.
Proses costing adalah metode costing yang menghitung dan mengalokasikan nilai biaya yang sama untuk setiap pekerjaan. Biasanya, setiap unit yang dibuat adalah identik. Fiberglass, sebagai contoh, diproduksi dalam jumlah besar dan kemudian dipotong menjadi unit individu.
Dalam sistem job order costing tradisional, catatan rincian aliran biaya setiap pekerjaan. Model aliran biaya utamanya digunakan mengukur persediaan untuk menghitung biaya, diawali dengan persediaan raw material. Setelah beberepa waktu, raw material diubah oleh tenaga kerja dan sumber daya pendukung lainnya menjadi persediaan work-in-process (WIP) dan akhirnya menjadi persediaan barang jadi (finished goods). Persediaan WIP menunjukkan biaya dari sumber daya untuk setiap pekerjaan yang belum selesai. Ketika barang jadi terjual, kemudian dicatat dalam kategori yang dikenal cost of goods sold.
Beberapa perusahaan memerlukan penawaran pekerjaan sebelum pelanggan memutuskan untuk memesan pada perusahaan. Untuk melacak aliran biaya dengan job order costing, perusahaan menggunakan job cost sheets. Biaya-biaya perlu diestimasi untuk setiap pekerjaan dengan tujuan untuk menyiapkan penawaran.

2. Job Costs and Markup
Jumlah total bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya pendukung untuk pekerjaan adalah job costs. Sebagian besar perusahaan melakukan mark up dengan menambahkan nilai tambahan, atau margin, untuk membuat profit. Total dari job costs ditambah margin disebut bid price. Tingkat mark up tergantung pada beberapa faktor, termasuk jumlah biaya pendukung diluar dari tingkat cost driver, tingkat rate of return yang ditargetkan yang diinginkan perusahaan, persaingan usaha, kondisi permintaan, dan strategi pemasaran produk secara keseluruhan.

3. Penentuan Tingkat Cost driver
Tingkat cost driver adalah rasio biaya aktivitas pendukung yang diakumulasi dalam cost pool pada level cost driver untuk sebuah aktivitas. Nilainya ditentukan dengan membagi beban aktivitas dengan jumlah total aktivitas cost driver. Penentuan tingkat cost driver yang sesungguhnya menjadi hal yang sangat penting dalam beberapa tahun terakhir karena biaya pendukung saat ini menjadi memiliki bagian yang besar dalam banyak industri. Disamping itu, banyak perusahaan sekarang mengakui bahwa biaya pendukung tidak berkaitan dengan hanya satu atau dua faktor saja, seperti jam tenaga kerja langsung dan jam mesin.

Activity cost driver rate = Cost of support activity / Level of cost driver

4. Jumlah Pool Biaya (Cost Pool)
Pool biaya adalah setiap subset dari total biaya pendukung yang dapat dihubungkan dengan cost driver yang berbeda. Prinsip umum yang digunakan untuk memisahkan pool biaya adalah tergantung pada biaya atau produktivitas sumber daya berbeda dan pola permintaan sumber daya berubah-ubah. Peningkatan dalam pengukuran biaya diperlukan oleh sistem biaya yang rinci harus diganti dengan manfaat dalam peningkatan akurasi untuk mengestimasi biaya produk. Jika perbedaan antara biaya dan produktivitas dengan sumber daya adalah kecil, memiliki banyak pool biaya akan membuat perbedaan kecil dalam akurasi estimasi biaya produk.

B. Pencatatan Actual Job Cost
1. Mengukur Biaya Bahan Baku
Untuk mengukur bahan baku digunakan material requisition note, yaitu daftar bahan baku yang diperlukan untuk memulai proses produksi.
2. Mengukur Biaya Tenaga Kerja
Untuk mengukur biaya tenaga kerja menggunakan worker time card. Para pekerja menggunakan worker time card untuk mencatat waktu yang mereka gunakan untuk setiap pekerjaan dan tugas-tugas lainnya.
Salinan semua material requisition note dan worker time card kemudian diberikan pada departemen akuntansi, yang kemudian mempostingnya ke dalam job cost sheet. Juga bila time card dicatat dalam sistem informasi komputerisasi yang terintegrasi, dibanding sistem akuntansi manual, job cost sheet disiapkan menggunakan data yang diperoleh dari material requisition dan catatan time card. Catatan time card mungkin dihasilkan karyawan dengan memasukkan data ke dalam terminal computer atau dengan menggunakan bar code. Pada akhirnya, sistem menghitung biaya total untuk bagian pekerjaan yang telah diselesaikan. Struktur job cost sheet hampir sama dengan job bid sheet, kecuali jika biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung pada job cost sheet menunjukkan biaya aktual yang terjadi pada pekerjaan.

C. Multistage Process Costing Systems
Adalah sebuah sistem untuk menentukan job cost dimana conversion costs diaplikasikan pada produk saat produk tersebut melalui tahapan proses yang berturut-turut. Conversion costs adalah biaya produksi dari tenaga kerja dan aktivitas pendukung untuk mengubah bahan baku atau produk pada setiap tahapan proses.

Faktor Job Order Costing Multistage Process Costing
Produksi Dilakukan dengan berbagai pekerjaan yang berbeda Dilakukan secara kontinyu, semi-kontinyu, atau dalam baches yang besar
Keperluan Produksi Berbeda untuk setiap pekerjaan Homogen untuk semua produk atau pekerjaan
Biaya Diukur untuk setiap individual job Diukur untuk tahapan individual process
Selisih Antara aktual dan estimasi biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung ditentukan untuk individual jobs Antara aktual dan estimasi biaya ditentukan untuk tahapan individual process

Komunitas Blogger Ngawi