Rotating X-Steel Pointer

Minggu, 04 Juli 2010

REVENUE (PENDAPATAN)

Konsep revenue sulit untuk didefinisikan karena sering dikaitkan dengan prosedur akuntansi tertentu, jenis-jenis perubahan nilai tertentu, dan kaidah-kaidah yang implisit mengenai kapan revenue harus dilaporkan. Pengertian revenue harus didefinisikan secara terpisah dari pada masalah timing dan valuation, jika kita ingin membahasnya secara luas oleh karena itu revenue dibahas dari sudut pandang yang berikut :
1. Sifat revenue
2. Apa yang harus dimasukkan dalam revenue
3. Pengukuran revenue
4. Timing daripada revenue (yaitu periode dimana revenue dicatat dan diakui)
Penjelasan:
Sifat revenue: selama ini pengertian revenue dihubungkan dengan masalah timing dan pengukuran, untuk membahas tentang pengertian revenue seharusnya dibahas tentang sifat revenue activity dan atribut-atributnya secara mendalam, barulah kita membahas tentang masalah timing dan pengukurannya.Ada dua pendekatan untuk membahas konsep revenue menurut literature akuntansi yaitu :
1. Pendekatan arus masuk (inflows) dari asset yang diakibatkan oleh kegiatan operasional perusahaan.
2. Pendekatan pada penciptaan barang / jasa oleh perusahaan dan transfer dari barang dan jasa yang dihasilkan kepada konsumen atau produsen lain.
Kedua pendekatan tersebut dapat disebut sebagai bahwa revenue diperoleh dari inflow of net asset (dilihat dari sudut bila asset tersebut dijual) dan atau outflow of goods and services (pembelian produksi of goods and service), disini dianggap bahwa hasil suatu produksi barang merupakan suatu hasil atau revenue, yaitu dengan anggapan bahwa pengeluaran adalah sebagai pengorbanan (biaya). Definisi yang lebih tradisional adalah bahwa revenue merupakan inflow of asset (net asset) kedalam perusahaan sebagai akibat adanya penjualan barang dan jasa, pendekatan ini dianut oleh APB dalam statementnya no. 4. Definisi ini justru mengacaukan pengukuran dan timing daripada revenue & proses revenue, karena pada umumnya dengan diperolehnya revenue dari penjualan barang atau jasa, biasanya assets akan meningkat & hasilnya untuk membayar utang sehingga utang akan turun. Tetapi persyaratan tersebut sebetulnya dapat diantisipasi dengan pengertian bahwa, meskipun hasil penjualan tersebut digunakan untuk membayar hutang, namun pada hakikatnya penjualan itu sendiri merupakan suatu transaksi yang mengakibatkan adanya pemasukan secara kas, sedangkan proses pembayaran hutang merupakan suatu proses tersendiri.
Sedangkan konsep revenue tradisional ditentukan oleh pengukuran berdasarkan moneter (nilai uang) dari asset yang diterima, jadi difinisi ini cocok dengan konsep revenue secara tradisional. Tetapi justru tidak memberikan perspektif yang cukup luas untuk proses pengukuran dan timing, dimana dalam akuntansi diperlukan adanya pengakuan kapan harus diakui dengan dasar apa revenue tersebut diukur misalnya dengan dasar nilai jual atau nilai beli. Sedangkan pendekatan yang bersaumsi bahwa kenaikan assets dapat disebabkan oleh turunnya liabilities (utang) atau oleh factor lain adalah merupakan akibat adanya revenue, dengan demikian definisi ini dapat diartikan revenue hanyalah salah satu factor diantara factor-faktor yang dapat menaikkan asets, sebab kenaikan suatu asset bukan hanya disebabkan oleh adanya revenue misalnya adanya hibah.
Revenue dapat juga dikaitkan dengan sebab akibat dimana akibat tersebut mempengaruhi stakeholders equity, misalnya perkiraan revenue mempunyai saldo kredit, berarti akan menambah nilai retained earning yang prosesnya melalui revenue and expenses summary (ikhtisar perhitungan rugi-laba). Tetapi perlu diingat bahwa sebelum terbentuk net revenue terdapat biaya-biaya yang langsung dipotongkan dari revenues, misalnya potongan penjualan (rabat) yang akan mempengaruhi nilai sesungguhnya (gross) revenue yang dimaksud. Kelemahan lainnya adalah bahwa revenues bila dihubungkan dengan proses pembukuan berpasangan adalah hanya merupakan hasil mekanisme pendebetan dan pengkreditan, jadi bukan dengan sifat dasarnya, misalnya pengakuan pendapatan atas penilaian surat berharga atau adanya kenaikan dari suatu aktiva dalam bentuk accretion, yang secara riil tidak didukung dgn adanya proses pemasukan kas.
Dasar-dasar daripada konsep diatas sebenarnya mengacu kepada konsep-konsep revenue tersebut dibawah ini:
Konsep revenue menurut Patton and Littleton:Patton and Littleon menyebutkan, bahwa revenue sebagai product of the enterprise, atau dapat diartikan sebagai “penciptaan barang atau jasa oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu”. Dalam definisi ini tidak menekankan pada besarnya revenue, timing maupun pengukurannya. Terdapat definisi lain yang mirip, yaitu yang dinyatakan oleh AAA dalam Committee on Accounting Concepts and Standards, menyatakan : “ revenue …. Adalah pernyataan moneter mengenai barang atau jasa yang ditransfer perusahaan kepada langganan-langganannya dalam suatu jangka waktu tertentu”, atau Outflow concepts. Konsep ini akhirnya juga disetujui oleg GAAP.
Jadi definisi revenue sebagai product of enterprise sebagaimana tersebut diatas adalah konsep yang paling lemah, sedangkan konsep revenue bila kita cermati ternyata concept inflow lebih unggul daripada outflow concept, dan outflow concept lebih unggul daripada product of enterprise concept, karena konsep inflow ini memperhatikan tentang kedua prinsip yaitu mengenai prinsip timing dan pengukuran.
Apa yang harus dimasukkan dalam revenue
Dalam definisi product of enterprise cukup jelas, tetapi utnuk menggambarkan tentang sifat dan isi (substansi) daripada income justru menjadi kabur, karena tidak jelas apa yang seharusnya dimasukkan dalam revenue. Dilain pihak ada saran untuk memasukkan semua perubahan net assets, kecuali capital transaction sebagai revenue. Dilain pihak ada juga yang menyarankan adanya pemisahan antara revenue dengan gains ataiu losses. Tetapi untuk mengklasifikasi revenue dan gains adalah tidak jelas dan hanya revenue dari wind-fall profit (hibah) dengan wealth producting dari transfer of wealth (kekayaan yang diperoleh dari proses produksi) yang dapat dengan tepat dapat dipisahkan. Konsep revenue menurut APB: APB Statement no. 4 menggunakan pengertian revenue secara lebih luas, yaitu meliputi penjualan resources lain seperti fixed assets dan investment, yang dalam hal ini disebut gains. Sedangkan AAA tahun 1957 mendefinisikan secara lebih sempit, yaitu “ Net income sebagai…….. Selisih antara revenue dengan related expired cost dan Gains atau Losses lainnya yang timbul dari penjualan, pertukaran / konversi lainnya daripada assets, jadi ada pemisahan antara revenue dengan gains. Jadi menurut AAA revenue adalah net income.
Simpulan:
Dari konsep diatas dapat kita simpulkan, bahwa pada hakikatnya revenue merupakan penerimaan dalam bentuk uang atau barang dan jasa, sebagaimana konsep diatas yang disebut sebagai konsep inflow & outflow dan product of enterprise concept.Misalnya saja pada suatu saat perusahaan menerima uang/barang yang jumlahnya tidak terlalu besar dari seseorang yang tidak diketahui, atas penerimaan tersebut perusahaan dapat membukukan debet kas (aktiva) dengan perkiraan lawan (kredit) pendapatan (revenue), namun ada juga yang berpendapat bahwa penerimaan tersebut harus dibukukan sebagai modal, hal ini pun sebetulnya dapat dibenarkan, tetapi perlu diingatkan bahwa, kalau itu perusahaan perseorangan pendapatan pada akhirnya juga akan menjadi unsur penambah modal jadi kedua-duanya dapat dibenarkan.
Pengukuran (measurement) revenue
Cara yang paling tepat untuk mengukur revenue adalah dengan nilai tukar (exchange value) dari barang atau jasa, nilai ini merupakan cash equivalent atau present value dari tagihan-tagihan yang diharapkan akan diterima dari transaksi revenues (piutang usaha). Dalam penerapan konsep ini pada umumnya untuk jangka waktu penagihannya relative lama dan panjang, maka dirasakan perlu diadakan “ allowance atau pencadangan” atau dapat juga dengan kebijakan discount yang akan merangsang debitur untuk segera melunasi / membayar kewajibannya, tetapi kalau waktu kreditnya pendek kebijakan discount ini tidak diperlukan, apalagi kalau discount ratenya rendah dianggap tidak material mempengaruhi nilai revenue. Pada hakikatnya discount diberikan oleh kreditor merupakan suatu kebijakan agar para langganan mau membayar dengan waktu yang relative cepat, kalau perlu dengan cara cash. Dengan demikian discount dapat diartikan sebagai, bahwa revenue dihitung dengan model present value, misalnya andaikata revenue tidak ditunjang dengan kebijakan discount berapa besar kerugian dari ketidak tertagihan atau kelambatan penerimaan pembayaran dari debitur, jadi selain itu discount merupakan jalan keluar untuk menekan bad debt loss. Jadi dalam penyajian bad debt losses maupun discount perlakuannya sama yaitu sebagai pengurang langsung revenues, hal ini dilakukan sebagai proses klasifikasi, karena secara teoritis angka net income tidak berbeda.

Timing daripada revenues
Didalam definisi product of the enterprise, pengukuran didasarkan pada nilai tukar atau cash equivalent, disini masih belum jelas titik waktu yang mana revenue ini harus diukur dan dilaporkan atau kapan revenue tersebut diakui. Sprouse and Moonitz menyatakan : “Revenue harus diidentifikasikan dengan periode dimana kegiatan ekonomi yang utama untuk menciptakan dan melemparkan barang dan jasa telah dicapai, dengan catatan bahwa pengukuran objektiv dapat dilakukan. Kedua kondisi ini dapat dicapai dalam beberapa macam tahapan, kadang-kadang pada saat pengiriman barang atau pelaksanaan pemberian jasa, atau sedang dalam hal-hal lain bisa pada tahapan sebelumnya”. Menurut pendapat Sprouz and Moonitz. Dapat diartikan bahwa revenue diakui pada saat barang telah terjual, misalnya kalau perusahaan tersebut perusahaan industri. Maka diakuinya revenue bila barang telah selesai diproduksi kemudian dijual dan diserahkan kepada pembeli (konsumen). Menurut penulis metode tersebut sangat tepat, karena dalam hal ini telah tercapai pisah batas serah terima hak dan kewajiban atas kepemilikan barang. Konsep diatas sesuai dengan pendapat bahwa revenue dilaporkan pada “suatu alternative untuk melaporkan revenue pada saat pencapaian kegiatan ekonomi yang utama adalah konsep critical event atau crucial event. Konsep ini menyarankan agar revenue dilaporkan pada saat keputusan yang paling kritis telah diambil atau pekerjaan yang paling sulit telah dilaksanakan”. Komite AAA tahun 1964 menyarankan penggunaan konsep Net Realizable, yaitu nilai penjualan tunai dikurang dengan biaya-biaya tambahan untuk memproduksi dan menjual. Pengertian konsep realizable ini mempunyai pengertian yang macam-macam dilihat dari segi timing, yaitu misalnya sebagai pengakuan atau saat pelaporan atas revenue. Pada umumnya realisasi diartikan sebagai saat pelaporan revenue setelah pertukaran dan pengiriman barang atau jasa terjadi, jadi konsep ini lebih menekankan pada tingkat uncertainty yang paling rendah, konsep ini didukung dengan konsep dibawah ini: Committee on Concepts and Standards-Eksternal Reporting dari AAA (1973-1974) menyatakan: Income diakui pada saat ketidak pastian dapat dikurangi sampai dengan tingkat yang dapat ditolerir. Dan menyatakan tentang realisasi sebagai: realisasi tidak menjadi factor yang menentukan dalam konsep income, tetapi relisasi hanya merupakan pedoman bagi penentuan kapan suatu peristiwa dapat dicatat secara obyektif, yaitu pada saat ketidak pastian telah dapat dikurangi sampai tingkat yang dapat diterima. Kalau dilihat dari segala kegiatan dan peristiwa yang mendukung terjadinya revenue, maka secara teoritis timing daripada revenue, yaitu revenue dapat diakui pada berbagai saat seperti:
1. Selama berlangsungnya produksi: ini terlihat pada kontrak-kontrak pembangunan yg bersifat jangka panjang, pada proses peningkatan nilai secara alamiah (accreation), dan accruals.
2. Sesudah produksi selesai: ini misalnya dapat dijumpai dalam produksi logam mulia dan komoditi-komoditi pertanian tertentu.
3. Pada saat penjualan: ini adalah timing dari pada revenue untuk kebanyakan barang yang dijual.
4. Pada saat diterimanya uang tunai : timing ini misalnya terjadi pada penjualan dengan cicilan.