Rotating X-Steel Pointer

Selasa, 15 Juni 2010

MANAJEMEN PERSEDIAAN

1. TUJUAN UMUM
Diharapkan mahasiswa mampu konsep pengelolaan dan sistem persediaan serta dapat
menganalisis dengan menggunakan beberapa model pendekatan dalam persediaan.

2. TUJUAN KHUSUS
Mampu memahami konsep pengelolaan dan sistem persediaan
Mampu menjelaskan model-model pendekatan dalam pengelolaan persediaan
Mampu menghitung dan menganalisis persediaan
Dapat merumuskan teknik pengendalian persediaan

3. KATA KUNCI: Pengelolaan persediaan; Model-model pengendalian persediaan

4. RANGKUMAN
Persediaan adalah suatu produk yang dicadangkan untuk mencukupi kebutuhan dalam
kondisi tertentu. Tujuannya adalah untuk merencanakan dan mengendalikan tingkat
persediaan agar dapat melayani kebutuhan atau permintaan dari waktu kewaktu serta
dapat meminimumkan biaya total perusahaan. Bagi perusahaan, persediaan
mencerminkan investasi besar. Investasi ini sering lebih besar dari pada yang seharusnya
karena bagi perusahaan lebih mudah untuk memiliki persediaan”Just in case” daripada
persediaan “just in time”. Persediaan terdiri dari empat jenis :
Bahan mentah dan komponen-komponen yang dibeli.
Barang dalam proses (Work-In-Proses-WIP)
Pemeliharaan, perbaikan, dan operasi
Barang jadi

5. URAIN PEMBELAJARAN
A. PENDAHULUAN
Persediaan merupakan salah satu aset yang paling mahal di banyak perusahaan,
mencerminkan sebanyak 40% dari total modal yang diinvestasikan. Manajer operasi di
seluruh dunia telah lama menyadari bahwa manajemen persediaan yang baik itu
sangatlah penting. Di satu pihak, suatu perusahaan dapat mengurangi biaya dengan cara
menurunkan tingkat persediaan di tangan. Di pihak lain, konsumen akan merasa tidak
puas bila suatu produk stoknya habis. Oleh karena itu, perusahaan harus mencapai
keseimbangan antara investasi persediaan dan tingkat pelayanan konsumen. Semua
organisasi mempunyai beberapa jenis sistem perencanaan dan pengendalian persediaan.
Dalam hal produk-produk fisik, organisasi harus menentukan apakah akan membeli
atau membuat sendiri produk mereka. Setelah hal ini ditetapkan, langkah berikutnya
adalah meramalkan permintaan. Kemudian manajer operasi menetapkan persediaan yang
diperlukan untuk melayani permintaan tersebut. Pada makalah ini, akan dibahas fungsi,
jenis, dan pengelolaan persediaan. Kemudian akan dibicarakan dua hal dasar persediaan:
berapa yang harus dipesan dan kapan pemesanan dilakukan.

B. FUNGSI PERSEDIAAN
Persediaan (inventory) dapat memiliki berbagai fungsi penting yang menambah
fleksibilitas dari operasi suatu perusahaan. Ada enam penggunaan persediaan, yaitu:
1. Untuk memberikan suatu stok barang-barang agar dapat memenuhi permintaan yang
timbul dari konsumen.
2. Untuk menyesuaikan produksi dengan distribusi. Misalnya, bila permintaan produknya
tinggi hanya pada musim panas, suatu perusahaan dapat membentuk stok selama
musim dingin, sehingga biaya kekurangan stok dan kehabisan stok dapat dihindari.
Demikian pula, bila pasokan suatu perusahaan berfluktuasi, persediaan bahan baku
ekstra mungkin diperlukan untuk "menyesuaikan" proses produksinya.
3. Untuk mengambil keuntungan dari potongan jumlah, karena pembelian dalam jumlah
besar dapat secara substansial menurunkan biaya produk.
4. Untuk melakukan hedging terhadap inflasi dan perubahan harga.
5. Untuk menghindari dari kekurangan stok yang dapat terjadi karena cuaca, kekurangan
pasokan, masalah mutu, atau pengiriman yang tidak tepat. "Stok pengaman" misalnya,
barang di tangan ekstra, dapat mengurangi risiko kehabisan stok.
6. Untuk menjaga agar operasi dapat berlangsung dengan baik dengan menggunakan
"barang-dalam-proses" dalam persediaannya. Hal ini karena perlu waktu untuk
memproduksi barang dan karena sepanjang berlangsungnya proses, terkumpul
persediaan-persediaan.

C. JENIS PERSEDIAAN
Perusahaan mempertahankan 4 jenis persediaan: (1) persediaan bahan mentah, (2)
persediaan barang-dalam-proses (Work-in-process—WIP), (3) persediaan MRO
(perlengkapan pemeliharaan/perbaikan/operasi), dan (4) persediaan barang jadi.
1. Persediaan bahan mentah
Persediaan bahan mentah telah dibeli, namun belum diproses. Bahan mentahnya
dapat digunakan dari proses produksi untuk pemasok yang berbeda-beda. Meskipun
demikian, pendekatan yang lebih disukai adalah dengan menghapus variabilitas
pemasok dalam hal mutu, jumlah, atau waktu pengiriman sehingga tidak diperlukan
pemisahan.
2. Persediaan barang-dalam-proses (Work-In-Process)
Persediaan barang-dalam-proses telah mengalami beberapa perubahan, tetapi
belum selesai. WIP ini ada karena untuk membuat produk diperlukan waktu (disebut
waktu siklus). Pengurangan waktu siklus menyebabkan persediaan WIP pun berkurang.
Sering kali hal ini tidak sulit untuk dilakukan, karena hampir di sepanjang waktu
"pembuatan produk", produk itu sebenarnya menganggur. Waktu kerja aktual atau
waktu "jalan" merupakan bagian kecil dari waktu arus bahan baku, mungkin hanya 5%.
3. MRO
MRO merupakan persediaan yang dikhususkan untuk perlengkapan pemeliharaan/
perbaikan/operasi. MRO ini ada karena waktu dan kebutuhan untuk pemeliharaan dan
perbaikan dari beberapa peralatan tidak dapat diketahui. Walaupun permintaan untuk
persediaan MRO ini sering kali merupakan fungsi jadwal-jadwal pemelih araan,
permintaan MRO lainnya perlu diantisipasi.
4. Persediaan barang jadi
Persediaan barang jadi selesai dan menunggu untuk dikirimkan. Barang jadi
dimasukkan ke dalam persediaan karena permintaan konsumen untuk jangka waktu
tertentu tidak diketahui.

D. MANAJEMEN PERSEDIAAN
Manajer operasi dapat menetapkan suatu sistem untuk mengelola persediaan. Pada
bagian ini, secara singkat akan diulas mengenai elemen-elemen sistem manajemen
persediaan, yang meliputi:
1) Bagaimana mengelompokkan produk-produk persediaan (disebut analisis ABC) dan
2) Bagaimana mempertahankan keakuratan catatan persediaan yang ada. Kemudian,
akan dibahas pengendalian persediaan di sektor jasa.
1. Analisis ABC
Analisis ABC membagi persediaan yang ada ke dalam tiga kelompok berdasarkan
volume tahunan dalam jumlah uang. Analisis ABC merupakan penerapan persediaan
dari Prinsip Pareto. Prinsip Pareto menyatakan bahwa ada "beberapa yang penting dan
banyak yang sepele". Pemikiran yang mendasari prinsip ini adalah bagaimana
memfokuskan sumber daya pada bagian persediaan penting yang sedikit itu dan bukan
pada bagian persediaan yang banyak namun sepele.
Untuk menentukan nilai uang tahunan dari volume dalam analisis ABC, dilakukan
pengukuran permintaan tahunan dari setiap butir persediaan dikalikan dengan biaya
per unit. Butir persediaan kelas A adalah persediaan-persediaan yang jumlah nilai
uang per tahunnya tinggi. Butir-butir persediaan semacam ini mungkin hanya mewakili
sekitar 15% dari butir-butir persediaan total, tetapi mewakili 70% sampai 80% dari total
biaya persediaan. Butir persediaan kelas B adalah butir-butir persediaan yang volume
tahunannya (dalam nilai uang) sedang. Butir-butir persediaan ini mungkin hanya
mewakili 30% dari keseluruhan persediaan dan 15% sampai 25% dari nilainya. Butirbutir
persediaan yang volume tahunannya kecil, dinamakan kelas C, yang mewakili
hanya 5% dari keseluruhan volume tahunan tetapi sekitar 55% dari keseluruhan
persediaan.
Kriteria selain volume tahunan dalam nilai uang dapat menentukan klasifikasi butir
persediaan. Misalnya, perubahan teknis yang diantisipasi, masalah-masalah
pengiriman, masalah-masalah mutu, atau biaya per unit yang tinggi dapat membawa
butir persediaan yang menaik ke dalam klasifikasi yang lebih tinggi. Keuntungan
pembagian butir-butir persediaan ke dalam kelas-kelas memungkinkan ditetapkannya
kebijakan dan pengendalian untuk setiap kelas yang ada.
Kebijakan yang dapat didasarkan pada analisis ABC sebagai berikut:
1. Perkembangan sumber daya pembelian yang dibayarkan kepada pemasok harus
lebih tinggi untuk butir persediaan A dibandingkan butir persediaan C.
2. Butir persediaan A, berlainan dengan butir persediaan B dan C. harus dikendalikan
secara lebih ketat; mungkin karena butir persediaan A ini ditempatkan di wilayah
yang lebih tertutup dan mungkin karena keakuratan catatan persediaannya harus
lebih sering diverifikasi.
3. Meramalkan butir persediaan A mungkin harus lebih berhati-hati daripada
meramalkan butir (kelas) persediaan yang lain.
4. Peramalan yang lebih baik, pengendalian fisik, keandalan pemasok, dan
pengurangan besar stok pengaman dapat dihasilkan oleh semua teknik manajemen
persediaan semacam analisis ABC.
2. Keakuratan Catatan Persediaan
Keakuratan catatan mengenai persediaan ini penting dalam sistem produksi dan
persediaan. Keakuratan ini memungkinkan organisasi untuk tidak merasa yakin bahwa
"beberapa dari seluruh produk" berada di persediaan dan memungkinkan organisasi
untuk tidak hanya memfokuskan pada butir-butir persediaan yang dibutuhkan. Bila
hanya suatu organisasi dapat secara akurat menentukan barang yang ada di dalam
persediaannyalah yang dapat dapat membuat keputusan yang tepat mengenai
pemesanan, penjadwalan, dan pengangkutan.
3. Penghitungan Siklus
Walaupun suatu organisasi mungkin telah melakukan berbagai usaha untuk
mencatat persediaan secara akurat, catatan atau arsip ini harus diverifikasi melalui
pemeriksaan/audit yang berkelanjutan. Audit semacam ini disebut penghitungan siklus
(cycle counting). Dulu, banyak penghitungan perusahaan mengambil persediaan fisik
tahunan. Hal ini sering berarti penghentian fasilitas siklus produksi dan menyuruh
orang-orang yang tidak berpengalaman untuk menghitung komponen dan bahan baku.
Arsip persediaan harus diverifikasi melalui perhitungan siklus. Penghitungan siklus
menggunakan klasifikasi persediaan yang dikembangkan lewat analisis ABC. Dengan
prosedur penghitungan siklus, butir-butir persediaan dihitung, arsip diverifikasi, dan ketidakakuratan didokumentasi secara berkala.
Penyebab ketidak akuratan ini kemudian dilacak dan tindakan perbaikan yang tepat
kemudian diambil sesuai klasifikasi butir persediaannya. Butir persediaan A akan
dihitung secara rutin, mungkin sekali sebulan; butir persediaan B kurang rutin, mungkin sekali dalam 4 bulan; butir persediaan C akan dihitung mungkin sekali dalam setahun.
Item tertentu yang akan dihitung siklusnya dapat dipilih secara sekuensial atau acak
setiap harinya. Pilihan yang lain adalah menghitung siklus item ketika item tersebut
dipesan ulang. Penghitungan siklus juga mempunyai keuntungan sebagai berikut:
1. Menghilangkan penghentian dan interupsi produksi yang dibutuhkan untuk
persediaan fisik tahunan.
2. Menghilangkan penyesuaian persediaan tahunan.
3. Personel terlatih mengaudit akurasi persediaan.
4. Penyebab kesalahan dapat diidentifikasi dan tindakan pembetulan dapat dilakukan
5. Mempertahankan catatan persediaan yang akurat.
4. Pengendalian Persediaan dalam Industri Jasa
Manajemen persediaan di sektor jasa juga perlu dibahas. Walaupun cenderung
terdapat anggapan bahwa di sektor jasa tidak ada persediaan, sebenarnya tidak
demikian. Misalnya, persediaan yang berlebihan ditahan di bisnis eceran maupun
perdagangan besar, sehingga manajemen persediaan menjadi amat penting. Dalam
jasa makanan, misalnya, pengendalian persediaan dapat menentukan keberhasilan
atau kegagalan. Lebih jauh lagi, persediaan yang singgah atau tidak terpakai di gudang
merupakan sesuatu yang nilainya telah hilang. Demikian pula, persediaan yang rusak
atau dicuri sebelum berhasil dijual merupakan kerugian.
Dalam bisnis eceran, persediaan yang tidak dicatat di antara penerimaan dan waktu
.penjualan dinamakan penyusutan. Penyusutan ini terjadi karena pencurian, ataupun
administrasi yang berantakan. Dalam bisnis eceran, pencurian disebut juga
penyerobotan. Kerugian persediaan eceran yang berjumlah 1% dari angka penjualan
dianggap tidak membahayakan, karena kebanyakan dari toko-toko eceran kerugiannya
3%. Pengaruh kerugian pada profitability sangat substansial, konsekuensinya,
keakuratan, dan pengendalian persediaan sangatlah penting. Teknik-teknik yang dapat
diterapkan mencakup:
1. Pemilihan karyawan, pelatihan, dan disiplin yang baik. Hal-hal ini tidak pernah
mudah dilakukan, tetapi sangat penting dalam bisnis rnakanan, perdagangan besar,
dan operasi bisnis eceran di mana karyawan-karyawannya mempunyai akses
kepada barang-barang yang langsung dapat dikonsumsi.
2. Pengendalian yang ketat atas kiriman barang yang datang. Hal ini dilakukan
berbagai perusahaan melalui pemakaian sistem kode-batang (bar code) yang
membaca semua kiriman yang masuk dan secara otomatis memeriksa isinya
dengan catatan pesanan pembelian.
3. Pengendalian yang efektif atas semua barang yang meninggalkan dari fasilitas. Hal
ini dilakukan dengan kode batang atau barang-barang yang diangkut, garis magnetik
di barang dagangan, atau karyawan-karyawan yang ditempatkan di pintu ke luar dan
di wilayah-wilayah yang resiko kehilangannya tinggi, seperti kasino di Las Vegas,
melalui pengamatan langsung. Pengamatan langsung berbentuk kaca satu arah,
video, atau pengawasan oleh manusia.

E. MODEL PERSEDIAAN
Dalam bagian ini akan dibahas mengenai berbagai model persediaan dan biaya yang
terkait dengan berbagai model persediaan tersebut.
Permintaan Dependen vs Permintaan Independen
Model pengendalian persediaan mengasumsikan bahwa permintaan untuk suatu
barang bersifat independen atau dependen terhadap permintaan barang lainnya.
Misalnya, permintaan untuk kulkas bersifat Independen terhadap permintaan untuk
oven pemanggangan roti. Meskipun demikian, permintaan untuk oven pemanggangan
roti bersifat dependen terhadap kebutuhan produksi dari oven pemanggangan roti.
Makalah ini memfokuskan pada manajemen barang-barang yang permintaannya
independent.
Biaya Penyimpanan, Biaya Pemesanan, dan Biaya Pemasangan
a. Biaya Penyimpanan
Biaya penyimpanan (holding cost) adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan
penyimpanan atau "penahanan" (carrying) persediaan sepanjang waktu tertentu.
Oleh karena itu, biaya penyimpanan juga mencakup biaya yang berkaitan dengan
gudang, seperti biaya asuransi, staffing tambahan, dan pembayaran bunga. Tabel 1
menunjukkan jenis biaya yang perlu dievaluasi untuk menetapkan biaya
penyimpanan ini. Banyak perusahaan yang tidak berhasii memasukkan semua biaya
penyimpanan mereka. Konsekuensinya, biaya penyimpanan persediaan sering
ditetapkan di bawah tingkat yang sebenarnya.
b. Biaya pemesanan
Biaya pemesanan (ordering cost) mencakup biaya-biaya pasokan, formulir,
pemrosesan pesanan, tenaga para pekerja, dan sebagainya. Pada saat produk
pesanan dibuat, timbul pula biaya pemesanan, tetapi biaya ini dikenal dengan nama
biaya pemasangan.
c. Biaya pemasangan
Biaya pemasangan adalah biaya pemasangan biaya-biaya untuk mempersiapkan
mesin atau proses unruk memproduksi pesanan. Manajer operasi dapat
menurunkan biaya pesanan dengan mengurangi biaya pemasangan dan dengan
menggunakan prosedur yang efisien semacam pembayaran dan pemesanan
elektronik.
Di banyak organisasi, biaya pemasangan secara erat berhubungan dengan waktu
pemasangan (setup time). Pemasangan biasanya menuntut adanya sejumlah kerja
tertentu sebelum suatu operasi betul-betul dijalankan di pusat kerja. Kebanyakan
persiapan yang diperlukan oleh pemasangan dapat dilakukan sebelum penghentian
mesin atau proses yang ada. Waktu pemasangan dapat secara substansial
dikurangi. Mesin dan proses yang biasanya memerlukan berjam-jam untuk dipasang,
kini dapat dipasang dalam waktu kurang dari satu menit oleh para produsen kelas
dunia yang lebih imajinatif. Sebagaimana yang akan ditunjukkan selanjutnya di
makalah ini, pengurangan waktu pemasangan merupakan cara yang sangat baik
untuk mengurangai investasi persediaan dan memperbaiki produktivitas.

F. MODEL PERSEDIAAN UNTUK PERMINTAAN INDEPENDEN
Pada bagian ini, akan diperkenalkan tiga model persediaan yang mengedepankain dua
pertanyaan penting: kapan pemesanan dilakukan dan berapa banyak yang akan dipesan.
Model-model permintaan independen ini adalah:
1. Model dasar Economic Order Quantity (EOQ)
2. Model Production Order Quantity
3. Model Quantity Discount

G. MODEL PROBABILITAS DENGAN LEAD TIME YANG KONSTAN
Semua model persediaan yang telah dibahas sejauh ini membuat asumsi bahwa
permintaan untuk sebuah produk bersifat sama dan konstan. Model persediaan berikut ini
dipakai bila permintaan produk tidak diketahui dan dapat dispesifikasi lewat distribusi
probabilitas. Jenis model seperti ini disebut model probabilitas.
Perhatian penting manajemen adalah mempertahankan tingkat pemenuhan
permintaan di tengah ketidakpastian permintaan. Tingkat pemenuhan permintaan ini
bersifat komplementer terhadap probabilitas terjadinya kehabisan stok. Misalnya, bila
probabilitas kehabisan stoknya adalah 0,05, maka tingkat pemenuhan
permintaannyaadalah 0,95. Permintaan yang tidak pasti memperbesar kemungkinan
terjadinya kehabisan stok. Satu metode untuk mengurangi kemungkinan terjadinya
kehabisan stok adalah dengan menahan unit tambahan di persediaan untuk menghindari
kemungkinan itu. Hal ini meliputi penambahan jumlah unit stok pengaman sebagai
penyangga titik pemesanan ulang. Sebagaimana yang dibahas sebelumnya:
Titik pemesanan ulang = ROP = d x L
d = permintaan Tahunan
L = lead time adalah jumlah hari kerja yang diperlukan untuk mengirimkan pesanan
Dimasukkannya stok pengaman (ss) ke dalam penghitungan menyebabkan perubahan
persamaan menjadi: ROP = d x L + ss
Jumlah stok pengaman tergantung biaya terjadinya kehabisan stok dan biaya
penyimpanan persediaan tambahan.
Tujuannya adalah untuk menemukan stok pengaman yang meminimalisasi total
penyimpanan persediaan tambahan dan biaya kehabisan stok persediaan tambahan total
per tahun. Biaya penyimpanan tahunan didapat dengan cara mengalikan penyimpanan
dengan jumlah unit yang ditambahkan ke ROP baru.
Biaya kehabisan stok lebih sulit dihitung. Untuk setiap tingkat stok pengaman, biaya
kehabisan stoknya sebesar biaya yang diharapkan. Biaya yang diharapkan dapat dihitung
dengan mengalikan jumlah kekurangan bingkai dengan probabilitas, dikalikan lagi dengan
biaa kehabisan stok, lalu dengan jumlah berapa kali dapat terjadi kehabisan stok (atau
jumlah pemesanan per tahun). Kemudian, tambahkan biaya kehabisan stok untuk setiap
tingkat kehabisan stok yang mungkin untuk ROP tertentu.
Bila untuk menentukan biaya terjadinya kehabisan stok sulit atau tidak mungkin,
seorang manajer dapat memutuskan untuk mengikuti kebijakan menjaga stok pengaman
di tangan secukupnya agar dapat mencapai tingkat pemenuhan permintaan komsumen
yang ditetapkan. Misalnya, Gambar 53. menunjukkan penggunaan stok pengaman pada
saat permintaannya penuh kemungkinan-kemungkinan. Stok pengaman di Gambar 53
adalah 16,5, dan titik pemesanan kembali juga dinaikkan sebesar 16,5.
Manajer mungkin ingin mendefinisikan level pelayanan hingga dapat memenuhi 95%
demand (atau sebaliknya, mengalami kehabisan stok hanya 5% dari waktu). Dengan
asumsi demand selama lead time (periode pemesanan ulang) mengikuti kurva normal,
hanya rata-rata (mean) dan standar deviasi yang diperlukan untuk mendefinisikan
persyaratan persediaan untuk berbagai level pelayanan. Data penjualan biasanya cukup
yntuk menghitung rata-rata dan standar deviasi. Dalam contoh berikut digunakan kurva
normal dengan mean (µ) yang diketahui dan standar deviasi (σ) untuk menentukan titik
pemesanan ulang dan stok pegaman yang dibutuhkan untuk level pelayanan 95%,
menggunakan rumus berikut:
ROP = demand yang diharapkan selama lead time + Zσ
Dengan Z = jumlah standar deviasi
σ = standar deviasi lead time demand
Jika tidak ada data mengenai lead time demand dan standar deviasi, maka persamaan
tersebut tidak dapat digunakan dan harus ditentukan jika: (a) demand adalah variabel dan
lead time adalah konstanta; atau (b) baik demand atau lead time adalah variabel. Untuk
masing-masing situasi menggunakan rumus yang berbeda.
(a) jika hanya demand yang variabel, maka ROP = rata-rata demand harian x lead time
dalam satuan hari + ZσdLT, dengan σdLT= standar deviasi demand per hari d LeadTime σ =
(b) jika hanya demand yang variabel, maka ROP = demand harian x rata-rata lead time
dalam satuan hari + ZdσdLT
(c) jika keduanya variabel maka
2 2 2
d L ROP DemandHarianRata rata LeadTimeRata rata Z LeadTimeRata rata d T σ σ = − × − × − × +
122

H. SISTEM PERIODE TETAP
Model persediaan yang dibahas pada makalah ini termasuk ke dalam kelompok
model yang disebut sistem periode tetap. Dalam arti, jumlah tetap yang sama
ditambahkan ke dalam persediaan setiap kali dilakukan pemesanan. Pemesanan sering
dipicu oleh terjadinya titik pemesanan yang bisa terjadi kapan saja. Pada sistem periode
tetap, persediaan dipesan di akhir periode tertentu. Setelah itu, baru persediaan yang ada
dihitung. Yang dipesan hanya sebesar jumlah yang diperlukan untuk menaikkan
persediaan sampai ke tingkat target tertentu. Gambar 8 mengilustrasikan konsep ini.
Keuntungan sistem periode tetap adalah bahwa tidak ada penghitungan fisik atas unit
yang dimasukkan ke persediaan setelah ada unit yang diambil—penghitungan hanya
terjadi bila tiba waktunya untuk pengulasan yang berikutnya). Prosedur ini juga secara
administratif lebih memudahkan, terutama bila pengendalian persediaan hanya
merupakan salah satu tugas karyawan. Sistem periode-tetap sesuai untuk perusahaan
yang secara rutin mengunjungi konsumen (dalam arti kunjungan dilakukan dengan interval
waktu yang tetap) untuk menerima pesanan baru atau untuk pembeli yang ingin
menggabungkan pesanannya agar biaya pemesanan dan pengangkutan bisa dikurangi
(dengan demikian, mereka akan mempunyai periode pengulasan yang sama untuk butir
persediaan yang serupa).
Kerugian diterapkannya sistem ini adalah bahwa karena tidak ada segunung
persediaan pada masa periode pengulasan, tidak mungkin bagi perusahaan untuk
mengalami kehabisan stok pada periode itu. Skenario ini mungkin terjadi bila suatu
pesanan dalam jumlah besar menarik tingkat persediaan ke bavvah sampai tingkat nol
segera setelah dilakukan pemesanan. Maka, harus dipertahankan tingkat persediaan
pengaman yang lebih besar (dibandingkan yang dianjurkan sistem jumlah tetap) agar
dapat melindungi perusahaan dari keadaan kehabisan stok selama waktu lowong antara
waktu pengulasan dengan lead time.

6. EVALUASI
1. Jelaskan pengertian persediaan
2. Jelaskan model-model pendekatan dalam pengendalian persedian
3. Kebutuhan bahan baku PT”X” selama setahun 10.000 unit dengan harga Rp
30.000/unit biaya persediaan Rp 400.000. Biaya penyimpanan sebesar 33% per unit,
lead time selama 9 hari kerja diperhitungkan 300 hari. Saudara diminta untuk
menghitung:
a. Besarnya EOQ PT”X”
b. Pada tingkat persediaan berapa ROP harus diadakan kembali
c. Berapa kali dalam setahun PT”X” harus mengadakan pesanan kembali
d. Berapa interval waktu pemesanan kembali
4. Perusahaan pengalengan ikan tuna dalam setahun membutuhkan bahan baku
sebanyak 1.000 ton dengan harga Rp 1.500.000 perton biaya perpesanan Rp 50.000,
biaya penyimpanan 60%. Pembelian ikan hanya dari satu pemasok yang mampu
mensupply ikan 6 ton perhari sedangkan kapasitas untuk proses pengawetan perhari 4
ton. Oleh karena itu saudara diminta untuk menghitung berapa EOQ
5. Perusahaan perikanan ”AA” membutuhkan bahan baku sebesar 10.000 unit/tahun.
Bahan baku tidak dibeli tetapi diproduksi sendiri, dimana hari kerja tahunan (HKT)
ditetapkan selama 250 hari dan kapasitas produksi 100 unit perhari. Biaya produksi
perunit Rp 50.000 biaya penyimpanan 20% perunit/tahun. Biaya penyiapan mesin (set
up cost) rata-rata Rp 35.000/siklus produksi dan memerlukan waktu penyimpanan
selama 1 hari, dimiminta hitunglah:
a. Besarnya EPQ
b. Berapa sebaiknya tingkat maksimum persediaan perusahaan “AA”
c. Berapa kali priode produksi yang dibutuhkan per EPQ
d. Berapa lama waktu perpriode produksi untuk EPQ

DAFTAR PUSTAKA
Benton W.C.& Michael Maloni. (2005). “The Influence of Power Driven Buyer/Seller
Relationships on Supply Chain Satisfaction”. Journal of Operation Management Vol.
23. pp 1-12.
Djoko Soejoto. 2005. Global Manufacturing Management, Makalah kuliah umum pada
Program Pasca Sarjana Unibraw, tanggal 10 Mei 2005. Malang.
Eddy Herjanto, 2003. Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi Kedua Grasindo. Jakarta
Indrio Gitosudarmo, 2002. Manajemen Operasi. BPFE-Yogyakarta
Indrajid, Richardus Eko & Richardus Djokopranoto. 2005. Starategi Manajemen Pemeblian
dan Supply Cahain, Pendekatan Manajemen Terkini, Untuk Menghadapi Persaingan
Global. Grasindo Indonesia, Jakarta.
Indrajid, Richardus Eko & Richardus Djokopranoto. 2002. Konsep Supply Chain, Cara Baru
Memandang Mata Tantai Persediaan. Widiasarana Indonesia, Jakarta,
Heizer. J & Render B, 2004. Operations Management, Seventh Edition (IE) Prentice
Hall. USA.
Hani Handoko, 2005. Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi. BPFE-Yogyakarta
Krawjeski, Lee J. & Larry P. Ritzman. 2002, Operation Managemen Strategi Analysis,
Sixth Edition, Prentice Hall, New Jersey.
Lalu Sumayang, 2003. Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi, Salemba Empat.
Jakarta
Lambert, D.M. & Harrington, T.C. (1990), “Measuring nonresponse in customer service
mail surveys”. Journal of Business Logistics; Vol.11 no.2; pages 5-25.
Munjiati Munawaraoh, dkk,. 2004. Manajemen Operasi. Unit Penerbiatan Fakultas Ekonomi.
(UPFE-UMY) Yogyakarta.
Manahan P. Tampubolon, 2004. Manajemen Opersional (Operations Management),
Ghalia Indonesia. Jakarta
Stank, T.P.; Keller, S. & Daugherty, P.J. (2000), “Supply chain collaboration and logistical
service performance”, Journal of Business Logistics, Vol.22 no.1, pp. 29-48.
Tracey & Vonderembse. (2004). “Building Supply Chain : A Key To Enhancing
Manufacturing Performance”. Journal of Business Mid-American, Vol.15. pp 10-20.

Komunitas Blogger Ngawi