Rotating X-Steel Pointer

Rabu, 09 Juni 2010

Perencanaan Audit dan Prosedur Analitis



PERENCANAAN AUDIT
Standar Pekerjaan Lapangan dalam Standar Auditing mengharuskan bahwa audit
harus direncanakan dengan sebaik-baiknya
- Tiga alasan utama auditor merencanakan audit dengan baik: (1) memperoleh bukti
kompeten yang memadai, (2) membantu menjaga biaya audit dikeluarkan dalam
jumlah wajar, (3) menghindari kesalahpahaman dengan klien
- Acceptable audit risk/AAR (risiko akseptibilitas audit): ukuran untuk menilai seberapa
besar kesediaan auditor untuk menerima bahwa laporan keuangan mungkin saja
disajikan dengan kesalahan penyajian yang material setelah proses audit
dilaksanakan dan pendapat wajar tanpa pengecualian dinyatakan
- Inherent Risk/IR (risiko inheren/risiko bawaan): ukuran penilaian auditor atas
kemungkinan adanya kesalahan penyajian yang material atas account sebelum
mempertimbangkan efektivitas pengendalian intern
- Penilaian terhadap AAR dan IR merupakan bagian penting dari perencanaan karena
penilaian tersebut mempengaruhi jumlah bukti audit yang harus dikumpulkan dan
penugasan staf yang lebih berpengalaman dan pelaksanaan audit

Presentation Outline
Perencanaan Audit

I. Menerima Klien dan Melakukan Perencaan Audit Awal
II. Memahami Bisnis dan Industri Klien
III.Menilai Risiko Bisnis Klien
IV.Melakukan Prosedur Analitik Awal

I. Menerima Klien dan Melakukan Perencanaan Audit Awal
A. Client Acceptance and Continuance
B. Indentifikasi Alasan Klien Meminta Penugasan Audit
C. Membuat Kesepahaman dengan Klien
D. Memilih Staf untuk Melaksanakan Penugasan
E. Mengevaluasi Kebutuhan terhadap Spesialis dari Luar

II. Memahami Bisnis dan Industri Klien
A. Alasan utama untuk Memahami Industri dan Lingkungan Eksternal
B. Operasi dan Bisnis Proses
C. Manajemen dan Governance
D. Tujuan dan Strategi Klien
E. Pengukuran dan Kinerja

III. Menilai Risiko Bisnis Klien
Risiko bisnis klien adalah risiko dimana klien gagal dalam mencapai tujuan bisnisnya.
Risiko ini dapat timbul dari berbagai faktor yang mempengaruhi klien dan
lingkungannnya. Contoh: kompetitor, teknologi baru, kondisi industri, dan regulatory
environment
Perhatian utama terletak pada kemungkinan salah saji material dalam LK klien
Contoh: sebuah perusahaan supplier peralatan IT memiliki persediaan peralatan
komputer dalam jumlah besar karena memprediksi tingkat penjualan yang akan
meningkat pesat. Tetapi penurunan kondisi ekonomi mengakibatkan penurunan
penjualan yang signifikan. Perusahaan IT biasanya memiliki siklus yang pendek,
sehingga auditor harus memperhatikan nilai persediaan ini agar tidak disajikan secara
tidak wajar dalam LK

IV. Melakukan Prosedur Analitik Awal
A. Definisi Prosedur Analitik
B. Kemampuan Membayar Hutang Jangka Pendek (Short-term Debt)
C. Rasio Likuiditas (Liquidity Activity Ratios)
D. Kemampuan Membayar Hutang Jangka Panjang (Meet Long-term Debt Obligation)
E. Rasio Profitabilitas (Profitability Ratios)

Standar Pekerjaa Lapangan menharuskan Akuntan Publik untuk merencanakan audit sebaik mungkin. Tahap awal dari perencanaan audit (audit planning) terdiri dari 4 hal , yaitu:
1. Accept client and perform initial audit planning (menerima klien dan melakukan perencanaan audit awal)
2. Understand the Clent’s Business and Industry (memahami karakteristik bisnis dan industri klien)
3. Assess Client Business Risk (Menilai Risiko Bisnis Klien)
4. Perform Preliminary Analytical Procedures (Melakukan Prosedur Analitik Awal)

A. AUDIT PLAN (PERENCANAAN PEMERIKSAAN)
Standar pelaksanaan pekerjaan lapangan mengharuskan perencanaan yang sebaik-baiknya dalam setiap penugasan audit. Oleh sebab itu tahap perencanaan audit merupakan tahap yang mau tidak mau harus mendapat perhatian yang serius dari auditor. Hal ini tentu tidak dapat dipungkiri karena pekerjaan apapun tentu akan lebih baik bila terencana dengan baik.

Standar pekerjaan lapangan pertama berbunyi sebagai berikut :
“Pekerjaan harus direncanakan dengan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.”

1. Pengertian dan Tujuan Audit Plan

Audit Plan adalah pengembangan strategi menyeluruh pelaksanaan dan lingkup audit yang diharapkan disusun segera setelah MANAGEMENT LETTER (surat perikatan) disetujui klien.
Tujuan Audit Plan adalah untukmencapai keyakinan yang memadai guna mendeteksi salah saji yang diyakini jumlahnya besar, baik secara individual mapun secara keseluruhan, yang secara kuantitatif berdampak material terhadap laporan keuangan.
Dalam merencanakan audit :
Risiko audit dapat dibatasi pada tingkat yang rendah, sesuai dengan pertimbangan professional
Menetapkan pertimbangan awal mengenai tingkat matealitas
Untuk audit plan, auditor dapat mempertimbangkan materialitas :
Sebelum laporan keuangan yang akan diaudit selesai dususun
Setelah laporan keuangan yang akan diaudit selesai diaudit, namun perlu dimodifikasi
Untuk kedua keadaan tersebut didasarkan atas laporan keuangan intern klien yang disetahunkan atau laporan keuangan tahunan satu / lebih periode sebelumnya, dengan syarat memperhatikan pengaruh perubahan besar dalam perusahaan klien dan perubahan lain yang relevan dalam perekonomian secara keseluruhan
Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan antara lain :
Pahami bisnis dan industri klien
Kebijakan dan prosedur akuntansi klien
Metode pengolahan informasi akuntansi yang digunakan klien, termasuk penggunaan organisasi jasa dari luar untuk mengolah informasi akuntansi pokok perusahaan
Penetapan tingkat resiko pengendalian yang direncanakan
Pertimbangan awal tingkat materialitas untuk tujuan audit
Pos laporan keuangan yang memerlukan penyesuaian (adjustment)
Kondisi yang mungkin memerlukn perluasan atau pengubahan pengujian audit, seperti risiko kekeliuran dan ketidakberesanyang material atau adanya transaksi antar pihak yang mempunyai hubungan istimewa
Sifat laporan audit yang diharapkan akan diserahkan kepada pemberi tugas sebagai contoh: laporan audit tentang laporan keuangan konsolidasi,laporan khusus untuk menggambarkan kepatuhan klien terhadap kontrak/perjanjian

Langkah-langkah yang dilakukan dalam perencanaan audit :
Menghimpun pemahaman bisnis klien dan industri klien.
Penghimpunan pemahaman bisnis dan industri klien dilakukan dengan tujuan untuk mendukung perencanaan audit yang dilakukan auditor.
Hal-hal yang berkaitan dengan bisnis dan industri klien yang perlu dipahami auditor adalah
 jenis bisnis dan produk klien
 lokasi dan karekteristik operasi klien seperti metode produksi dan pemasaran .
 jenis dan karakteristik ondustri. Hal ini menentukan sensitivitas bisnis klien terhadap perubahan kondisi ekonomi. Kebijakan dan praktik industri sangat berdampak kepada kelangsungan usaha klien.
 Eksistensi ada tidaknya pihak terkait yang mempunyai hubungan erat dengan klien misalnya sama-sama anak perusahaan dari suatu holding company.
 Regulasi pemerintah yang mempengaruhi bisnis dan industri klien
 Karekteristik laporan yang harus diberikan kepada badan regulasi.

Melakukan prosedur analitis
Prosedur analitis adalh pengevaluasian informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan-hubungan yang masuk akal antara data keuangan dan data non keuangan.
Prosedur analitis dilakukan dalam tiga tahap audit yaitu tahap perencanan, tahap pengujian atau tahap pengerjaan lapangan, dan tahap penyimpulan hasil audit.
Dalan tahap perencanaan, prosedur analitis berguna untuk membantu auditor merencanakan sifat, penentuan waktu, dan luas prosedur audit.
Dalam tahap pengerjaan lapangan, prosedur analitis merupakan prosedur audit yang optimal.prosedur analitis dilakukan sebagai salah satu pengujian substansif untuk menghimpun bahan bukti tentang asersi tettentu yang terkait dengan saldo rekening.
Dalam tahap pengambilan kesimpulan hsil audit, prosedur analitis berguna sebagai alat untuk penelaahan akhir tentang rasionalitas laporan keuangan auditan.
Melakuka penilaian awal terhadap materialitas
Materialitas merupakan suatu konsep yang sangat penting dalam audit laporan keuangan karena materialitas mendasari penerapan standar auditing, khususnya pengerjaan lapangan, dan stndar pelaporan.materialitas adalah besarnya kelalaian atau pernyataan yang salah pada informasi akuntansi yang dapat menimbulkan kesalahan dalam pengambilan keputusan.
Menilai risiko audit
Audit harus mempertimbangkan risiko audit dalam melakukan perencanaan audit. Risiko audit adlah risiko tidak diketahuinya kesalahan yang dapat mengubah pendapat auditor atas suatu laporan keuangan yang diaudit:
Risiko audit terdiri dari atas tiga komponen, yaitu
 Risiko bawaan
Risiko bawaab adlak kerentanan atau mudah tidaknya suatu akun mengalami salah saji material dengan asumsi tidak ada kebijakan dan prodedur struktur pengendalain intern yang tekait.
Contoh : asersi keberadaan atau keterjadian akun piutang dagang mempunyai risiko bawaan yang lebih tinggi daripada aktiva tetap. Keberadaan aktiva tetap lebih mudah dibuktikan daripada keberadaan piutang dagang.
 Risiko pengendalian
Risiko pengendalian adalh risiko bahwa suatu salah saji material yang dapat terjadi dalam suatu asersi yang tidak dapat didetksi ataupun dicegah secara tepat pada waktunya oleh berbagai kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern satuan usaha.
Semakin efektif struktur pengendalian intern maka senakin kecil risiko pengendalian .
 Risiko deteksi
Risiko deteksi merupakan risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah saji matrial yang terdapat dalam suatu asersi.
Risiko deteksi dapat ditekan atau diturunkan auditor dengan cara melakukan perencaaan yang memadai, dan supervisis atau pengawasan yang tepat, serta penerapan standar pengendalian mutu.

Mengembangkan strategi audit pendahuluan untuk asersi yang signifikan
Tujuan auditor dalam perencanaan dan pelaksanaan audit adalah untuk menurunkan risiko audit pada tingkat serendah mungkin untuk mendukung pendapat auditor mengenai kewajaran laporan keuangan.
Strategi audi, yaitu :
 Primarily substantive approach
Pada strategi ini auditor lebih mengutamakan pengujian substantive daripada pengujian pengendalian.
 Lower assessed level of control risk approach
Pada strategi ini, auditor lebih mengutamakan pengujian pengendalian dripada pengujian substantive. Hal ini bukan berarti auditor sama sekali tidak melakukan pengujiam substanti, auditor tetap melakukan pengujian substantive meskipun tidak seekstensufb pada primarily substantive approach
Menghimpun pemhaman sruktur pengendalian intern klien
Standar pengerjaan lapangan kedua menyatakan bahwa pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.

Agar dapat membuat perencanaan audit dengan sebaik-baiknya, auditor harus memahami bisnis klien dengan sebik-baiknya, termasuk sifat, dan jenis usaha klien, struktur organisasinya, struktur permodalan, metode produksi, pemasaran, distribisi dan lain-lain.
Untuk memperoleh pengetahuan tentang bisnis kliem melalui pengalaman dengan klien dan industrinya, pengajuan pertanyaan kepada pengawai perusahaan klien, kertas kerja audit dari tahun sebelumnya (yang berisi informasi mengenai sifat bisnis, struktur organisasi dan karekteristik opersi serta transaksi yang memerlukan pertimbangan khusus), publikasi yang diperlukan industri lapoaran keuangan, buku teks, majalah dan perorangan yang memiliki pengetahuan industri klien
Pengetahuan bisnis klien membantu auditor mengidentifikasikan bidang yang memerlukan pertimbangan khusus, menila kondisi yang didalamnya data akuntansi yang dihasilkan, diolah, direview dan dikumpulkan dalam organisasi, menilai kewajaran estimasi, serta penilaian atas persediaan, depresi, penyisihan piutang ragu-ragu dan lain-lain.
Supervisi mencakup pengarahan usaha asisten yang terkait dalam pencapaian tujuan audit dan menentukan apakah tujuan tersebut tercapai. Unsur supervisi adalah memberikan instruksi kepada asisten, tetap menjaga penyampaian informasi masalah-masalah yang penting yang dijumpai dalam audit, mereview pekerjaan dilaksanakan, dan menyelesaikan perbedaan pendapat diantara staf audit kantor akuntan. Luasnya supervise yang memadai bagi suatu keadaan tergantung atas banyak factor, termasuk kompleksitas masalah dan kualifikasi orang yang melaksanakan audit.
memahami tanggung jawabnya dan tujuan prosedur audit
mengetahui hal yang kemungkinan berpengaruh terhadap sifat, luas dan saat prosedur tersebut dilaksanakan (sifat bisnis klien, masalah akuntansi dan audit)

Para asisten harus diberitahu tanggung jawab mereka dan tujuan prosedur audit yang mereka laksanakan.yang mereka laksanakan. Mereka harus diberitahu hal-hal yang kemungkinan berpengaruh terhadap sifat, luas dan saat prosedur yang harus dilaksanakan seperti sifat bisnis satuan usaha yang bersangkutan dengan penugasan dan masalh-masalh akuntansi dan audit

2. Isi Audit Plan
Isi dari audit plan mencakup :
 Hal-hal mengenai klien
Bidang usaha klien, alamt, no. telepon, fax.
Status hukum perusahaan (berdasarkan akte pendirian)
Kebijakan akuntansi
- Buku yang digunakan : buku penjualan, buku pembelian, buku kas/bank, buku memorial
- Meode pembukuan : manual, computer, mesin pembukuan
Neraca komparatif dan perbandingan penjualan, laba/rugi tahun lalu dan sekarang.
Client contact : presiden direktur, controller, penasihat hukum
Accounting, auditing dan tax problem
- Accounting problem : perubahan metode pencatatan dan manual kekomputer, revaluasifixed asset, perubahan metode atau tariff penyusutan
- Auditing problem : hasil konfirmasi tahun lalu tidak memuaskan, perubahan accounting policy
- Tax problem : masalah restitusi, kekurangan penyetoran, adanya dua pembukuan dan perusahaan.

Hal-hal yang mempengaruhi klien
- Majalah ekonomi/surat kabar (bissiness news, ekonomi keuangan Indonesia)
Rencana kerja auditor:
a. Staffing
b. Waktu pemeriksaan
c. Jenis jasa yang diberikan
Hal-hal Tambahan
a. Bantuan yang dapat diberikan klien
b. Time schedule
Pada akhir Audit Plan, mencantumkan:
a. Dibuat oleh
b. Review oleh:
c. Approved oleh:


B. AUDIT PROGRAM
1. Pengertian dan Tujuan Audit Program
Audit program merupakan kumpulan prosedur audit (dibuat tertulis ) yang rinci dan dijalankan untuk mencapai tujuan audit ( akan lebih baik jika audit program dibuat terpisah untuk compliance test dan substantive test.
Tujuan audit program :untuk mengetahui apakah penyajian laporan keuangan oleh manajemen dari sisieksistensi atau keterjadian, kelengkapan, hak dan kewajiban, penilaian atau alokasi serta panyjian dan pengungkapan dapat dipercaya, wajar dan tidak menyesatkan terhadap pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan tersebut

2. Manfaat Audit Program
Manfaat audit program yaitu:
Sebagai petunjuk kerja yang harus dilakukan asisten dan instruksi bagaimana harus menyelesaikan
Sebagai dasar untuk koordinasi, pengawasan dan pengendalian pemeriksaan.
Sebagai dasar penilaian kerja yang dilakukan klien
Disusun setelah Audit Plan ( tetapi sebelum pemeriksaan lapangan dimulai )
Disusun secara stndarisasi untuk semua klien
Disusun sesuai dengan kondisi dan situasi klien
Audit Program yamg baik mencamtumkan :
Tujuan pemeriksaan (audit objective)
Prosedur audit yang akan dijalankan
Kesimpulan pemeriksaan
Prosedur audit program :
Prosedur audit program untuk compliance test
Prosedur audit program untuk substantive test
Prosedur audit program untuk keduanya

SA Seksi 329
PROSEDUR ANALITIK
Sumber: PSA No. 22
PENDAHULUAN

01 Seksi ini memberikan panduan bagi auditor dalam menggunakan prosedur
analitik dan mengharuskan penggunaan prosedur analitik dalam tahap perencanaan
dan tahap review menyeluruh semua audit.

02 Prosedur analitik merupakan bagian penting dalam proses audit dan terdiri
dari evaluasi terhadap informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan
yang masuk akal antara data keuangan yang satu dengan data keuangan lainnya, atau
antara data keuangan dengan data nonkeuangan. Prosedur analitik mencakup
perbandingan yang paling sederhana hingga model yang rumit yang mengaitkan
berbagai hubungan dan unsur data. Asumsi dasar penerapan prosedur analitik adalah
bahwa hubungan yang masuk akal di antara data dapat diharapkan tetap ada dan
berlanjut, kecuali jika timbul kondisi yang sebaliknya. Kondisi tertentu yang dapat
menimbulkan penyimpangan dalam hubungan ini mencakup antara lain, peristiwa atau
transaksi yang tidak biasa, perubahan akuntansi, perubahan usaha, fluktuasi acak, atau
salah saji.

03 Pemahaman hubungan keuangan adalah penting dalam merencanakan
dan mengevaluasi hasil prosedur analitik, dan secara umum juga menuntut dimilikinya
pengetahuan tentang klien dan industri yang menjadi tempat usaha klien. Pemahaman
atas tujuan prosedur analitik dan keterbatasannya juga penting. Oleh karena itu,
identifikasi hubungan dan jenis data yang digunakan, serta kesimpulan yang diambil
apabila membandingkan jumlah yang tercatat dengan yang diharapkan, membutuhkan
pertimbangan auditor.

04 Prosedur analitik digunakan dengan tujuan sebagai berikut:
a. Membantu auditor dalam merencanakan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit
lainnya.
b. Sebagai pengujian substantif untuk memperoleh bukti tentang asersi tertentu
yang berhubungan dengan saldo akun atau jenis transaksi.
c. Sebagai review menyeluruh informasi keuangan pada tahap review akhir audit.

Prosedur analitik harus diterapkan untuk tujuan yang disebutkan pada butir a dan c
di atas untuk semua audit laporan keuangan yang dilakukan berdasarkan standar
auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Sebagai tambahan, dalam beberapa
hal, prosedur analitik lebih efektif atau efisien daripada pengujian rinci untuk mencapai tujuan pengujian substantif.

05 Prosedur analitik meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat atau
ratio yang dihitung dari jumlah-jumlah yang tercatat, dibandingkan dengan
harapan yang dikembangkan oleh auditor. Auditor mengembangkan harapan
tersebut dengan mengidentifikasi dan menggunakan hubungan yang masuk akal, yang
secara pantas diharapkan terjadi berdasarkan pemahaman auditor mengenai klien
dan industrinya. Berikut ini adalah contoh sumber informasi yang digunakan dalam
mengembangkan harapan:
a. Informasi keuangan periode sebelumnya yang dapat diperbandingkan
dengan memperhatikan perubahan yang diketahui.
b. Hasil yang diantisipasikan, misalnya anggaran atau prakiraan termasuk ekstrapolasi
dari data interim atau tahunan.
c. Hubungan antara unsur-unsur informasi keuangan dalam satu periode.
d. Informasi industri bidang usaha Mien, misalnya informasi laba bruto.
e. Hubungan informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan yang relevan.

PROSEDUR ANALITIK DALAM PERENCANAAN AUDIT
06 Tujuan prosedur analitik dalam perencanaan audit adalah untuk membantu
dalam perencanaan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit yang akan digunakan untuk
memperoleh bukti saldo akun atau golongan transaksi tertentu. Untuk maksud ini,
prosedur analitik perencanaan audit harus ditujukan untuk:
a. Meningkatkan pemahaman auditor atas bisnis klien dan transaksi atau peristiwa
yang terjadi sejak tanggal audit terakhir dan,
b. Mengidentifikasi bidang yang kemungkinan mencerminkan risiko tertentu yang
bersangkutan dengan audit. Jadi, tujuan prosedur ini adalah untuk
mengidentifikasikan hal seperti adanya transaksi dan peristiwa yang tidak biasa,
dan jumlah, ratio serta trend yang dapat menunjukkan masalah yang berhubungan
dengan laporan keuangan dan perencanaan audit.

07 Prosedur analitik yang diterapkan dalam perencanaan audit umumnya menggunakan
data gabungan yang digunakan untuk pengambilan keputusan di tingkat atas.
Lebih lanjut kecanggihan, lingkup, dan saat audit, yang didasarkan atas pertimbangan
auditor dapat berbeda tergantung atas ukuran dan kerumitan klien. Untuk beberapa
entitas, prosedur analitik dapat terdiri dari review atas perubahan saldo akun tahun
sebelumnya dengan tahun berjalan, dengan menggunakan buku besar atau daftar saldo
(trial balance) tahap awal yang belum disesuaikan. Sebaliknya, untuk entitas yang lain,prosedur analitik mungkin meliputi analisis lapotan keuangan triwulan yang
ekstensif. Pada kedua keadaan tersebut, prosedur analitik yang
dikombinasikan dengan pengetahuan auditor tentang bisnis, menjadi dasar dalam
menentukan permintaan keterangan tambahan dan perencanaan yang efektif.

08 Walaupun prosedur analitik yang diterapkan dalam perencanaan audit
seringkali hanya menggunakan data keuangan, tetapi kadangkala informasi
nonkeuangan yang relevan juga dipertimbangkan. Misalnya jumlah karyawan, luas
ruang penjualan, jumlah barang yang diproduksi dan informasi serupa lainnya mungkin
membantu dalam mencapai tujuan prosedur.

PROSEDUR ANALITIK YANG DIGUNAKAN SEBAGAI PENGUJIAN SUBSTANTIF

09 Kepercayaan auditor terhadap pengujian substantif untuk mencapai tujuan audit
yang berhubungan dengan suatu asersi1 dapat berasal dari pengujian rinci, dari
prosedur analitik, atau dari kombinasi keduanya. Keputusan mengenai prosedur yang
digunakan untuk mencapai tujuan audit tertentu didasarkan pada pertimbangan
auditor terhadap efektivitas dan efisiensi yang diharapkan dari prosedur audit yang
ada.

10 Auditor mempertimbangkan tingkat keyakinan, jika ada, yang diinginkannya
dari pengujian substantif untuk suatu tujuan audit dan memutuskan, antara lain
prosedur yang mana, atau kombinasi prosedur mana, yang dapat memberikan tingkat
keyakinan tersebut. Untuk asersi tertentu, prosedur analitik cukup efektif dalam
memberikan tingkat keyakinan memadai. Namun, pada asersi lain, prosedur analitik
mungkin tidak seefektif atau seefisien pengujian rinci dalam memberikan tingkat
keyakinan yang diinginkan.

11 Efektivitas dan efisiensi yang diharapkan dari suatu prosedur analitik dalam
mengidentifikasikan kemungkinan salah saji tergantung atas, antara lain:
a. Sifat asersi.
b. Kelayakan dan kemampuan untuk memprediksikan suatu hubungan.
c. Ketersediaan dan keandalan data yang digunakan untuk mengembangkan harapan.
d. Ketepatan harapan.

SIFAT ASERSI
12 Prosedur analitik mungkin merupakan pengujian efektif dan efisien atas
asersi yang kemungkinan salah sajinya tidak akan tampak dari pemeriksaan bukti
rinci atau bila bukti yang rinci tidak langsung tersedia. Sebagai contoh, perbandingan dari kumpulan gaji yang dibayar dengan jumlah karyawan mungkin menunjukkan pembayaran yang tidak sah yang mungkin tidak tampak dari pengujian transaksi individual. Perbedaan dari hubungan yang diharapkan dapat juga menunjukkan kemungkinan penghilangan dari catatan akuntansi bilamana bukti transaksi individual dari pihak yang independen yang seharusnya dibukukan tidak langsung tersedia.

KELAYAKAN DAN KEMAMPUAN UNTUK MEMPREDIKSIKAN SUATU HUBUNGAN
13 Penting bagi auditor untuk memahami alasan yang membuat
hubungan menjadi masuk akal sebab data kadang-kadang seperti berkaitan padahal
kenyataannya tidak demikian, sehingga dapat mengarahkan auditor ke pengambilan
kesimpulan yang salah. Di samping itu, adanya satu hubungan yang tidak diharapkan
dapat memberikan bukti yang penting jika diteliti secara memadai.

14 Karena tingkat keyakinan yang lebih tinggi diharapkan dari prosedur
analitik dibutuhkan lebih banyak hubungan untuk mengembangkan harapan.
Hubungan dalam satu lingkungan yang stabil biasanya lebih dapat diduga daripada
hubungan dalam satu lingkungan yang dinamis atau tidak stabil. Hubungan yang
melibatkan akun laba-rugi cenderung lebih dapat diduga dari pada hubungan yang
melibatkan hanya akun neraca, karena akun laba-rugi mencerminkan transaksi selama
satu periode waktu, sementara akun neraca mencerminkan saldo pada satu titik
waktu. Hubungan yang menyangkut transaksi yang tergantung pada keputusan
manajemen kadang-kadang kurang dapat diduga. Sebagai contoh, manajemen mungkin
memilih untuk mengeluarkan biaya pemeliharaan dari pada mengganti aktiva tetap
atau mereka mungkin menunda suatu pengeluaran klien.

KETERSEDIAAN DAN KEANDALAN DATA
15 Data mungkin atau tidak mungkin langsung tersedia untuk mengembangkan
taksiran bagi beberapa asersi. Sebagai contoh, untuk menguji asersi kelengkapan,
penjualan yang ditaksir bagi jenis usaha tertentu mungkin dapat dikembangkan dari
statistik produksi atau ukuran tempat penjualan. Bagi jenis usaha lain, data yang relevan untuk asersi kelengkapan penjualan mungkin tidak langsung tersedia dan mungkin akan lebih efektif clan efisien untuk menggunakan catatan pengiriman yang rinci dalam menguji asersi tersebut.

16 Auditor memperoleh keyakinan dari prosedur analitik berdasarkan atas
konsistensi jumlah yang tercatat dengan harapan yang dikembangkan dari data yang
diperoleh dari sumber lainnya. Keandalan data yang digunakan untuk mengembangkan
harapan harus sesuai dengan tingkat keyakinan yang diinginkan dari prosedur analitik.
Auditor harus menilai keandalan data dengan mempertimbangkan sumber data dan
kondisi yang melingkupi pengumpulan data serta pengetahuan lain yang mungkin
dimiliki auditor mengenai data itu. Faktor berikut
ini mempengaruhi pertimbangan auditor terhadap keandalan data untuk mencapai
tujuan audit:
a. Apakah diperoleh dari sumber yang independen di luar entitas atau dari sumber di
dalam entitas.
b. Apakah sumber dari dalam entitas independen dari mereka yang bertanggung
jawab atas jumlah yang diaudit.
c. Apakah data dikembangkan dari sistem yang dapat diandalkan dengan
pengendalian memadai.
d. Apakah data menjadi sasaran pengujian dalam tahun berjalan atau tahun
sebelumnya.
e. Apakah harapan dikembangkan dengan memakai data dari berbagai sumber.

KETEPATAN HARAPAN
17 Harapan auditor harus cukup tepat untuk memberikan tingkat keyakinan
yang diinginkan sehingga perbedaan yang mungkin merupakan salah saji yang
material, baik secara individu atau secara kelompok, dengan salah saji lainnya, akan
teridentifikasi untuk diaudit oleh auditor (paragraf 20). Ketika harapan menjadi lebih
tepat, toleransi perbedaan yang diharapkan menjadi lebih sempit, sehingga jika terjadi
perbedaan yang signifikan antara hasil prosedur analitik dengan angka sesungguhnya,
perbedaan tersebut kemungkinan besar karena salah saji. Ketepatan harapan
tergantung pada, antara lain, identifikasi dan pertimbangan auditor terhadap
faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi jumlah yang diaudit dan tingkat
kerincian data yang digunakan untuk mengembangkan harapan.

18 Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hubungan keuangan. Sebagai
contoh, penjualan dipengaruhi oleh harga, volume dan campuran produk. Sebaliknya,
masing-masing hal itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor dan faktor yang bertentangan
dapat menutupi salah saji. Identifikasi yang lebih efektif terhadap faktor yang secara signifikan mempengaruhi hubungan umumnya dibutuhkan sejalan dengan
meningkatnya keyakinan yang diinginkan dari prosedur analitik.

19 Harapan yang dikembangkan pada tingkat yang rinci biasanya
mempunyai kemungkinan yang lebih besar dalam mendeteksi salah saji jumlah
tertentu dari pada perbandingan secara luas. Jumlah bulanan biasanya akan lebih efektif dari pada jumlah tahunan dan perbandingan berdasarkan lokasi atau jalur usaha
biasanya akan lebih efektif dari pada membandingkan perusahaan secara
keseluruhan. Tingkat kerincian yang cocok akan dipengaruhi oleh sifat klien,
besarnya dan kerumitannya. Umumnya risiko salah saji yang material menjadi kabur
akibat meningkatnya faktor yang bertentangan karena operasi klien menjadi lebih rumit
dan lebih beragam. Penguraian masalah akan membantu mengurangi risiko ini.

PENYELIDIKAN DAN EVALUASI PERBEDAAN YANG SIGNIFIKAN
20 Dalam merencanakan prosedur analitik sebagai pengujian substantif, auditor harus
mempertimbangkan jumlah perbedaan yang diharapkan yang dapat diterima tanpa
penyelidikan lebih lanjut. Pertimbangan ini dipengaruhi terutama oleh materialitas dan harus konsisten dengan tingkat keyakinan yang diinginkan dari prosedur ini. Penentuan jumlah ini melibatkan pertimbangan kemungkinan bahwa kombinasi dari salah saji dalam saldo akun tertentu, atau golongan transaksi tertentu, atau saldo atau golongan transaksi lainnya, dapat terhimpun menjadi suatu jumlah yang tidak dapat diterima.2

21 Auditor harus mengevaluasi perbedaan material yang tidak diharapkan. Dengan
mempertimbangkan kembali metode dan faktor yang digunakan dalam
mengembangkan harapan dan permintaan keterangan dari manajemen dapat membantu
auditor dalam hal ini Namun, tanggapan manajemen biasanya harus didukung dengan bukti
lain. Dalam keadaan tersebut, bila penjelasan tentang perbedaan tidak dapat diperoleh, auditor harus mendapatkan bukti yang cukup mengenai asersi yang bersangkutan dengan melakukan prosedur audit lainnya untuk meyakinkan dirinya apakah perbedaan tersebut kemungkinan merupakan salah saji ³Dalam mendesain prosedur audit lainnya itu, auditor harus mempertimbangkan perbedaan yang tidak dapat dijelaskan, yang mungkin menunjukkan risiko yang meningkat dari salah saji yang material. (Lihat SA Seksi 316 [PSA No. 70] Pertimbangan atas Kecurangan dalam Audit Laporan Keuangan.)

PROSEDUR ANALITIK YANG DIGUNAKAN DALAM REVIEW YANG MENYELURUH
22 Tujuan prosedur analitik yang diterapkan dalam tahap review menyeluruh adalah
untuk membantu auditor dalam menilai kesimpulan yang diperoleh dan dalam
mengevaluasi penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Berbagai macam prosedur
analitik mungkin bermanfaat untuk tujuan ini. Review menyeluruh umumnya meliputi
pembacaan laporan keuangan dan catatannya serta mempertimbangkan:
a. Kecukupan bukti yang terkumpul sebagai respon terhadap saldo yang tidak biasa
atau yang tidak diharapkan, yang diidentifikasi pada waktu perencanaan audit atau
dalam pelaksanaan audit, dan
b. Saldo atau hubungan yang tidak biasa atau tidak diharapkan yang sebelumnya tidak
diidentifikasi.
Hasil review menyeluruh dapat menunjukkan bahwa bukti tambahan mungkin
diperlukan.

TANGGAL BERLAKU EFEKTIF

23 Seksi ini berlaku efektif tanggal 1 Agustus 2001. Penerapan lebih awal dari
tanggal efektif berlakunya aturan dalam Seksi ini diizinkan. Masa transisi
ditetapkan mulai dari 1 Agustus 2001 sampai dengan 31 Desember 2001. Dalam masa
transisi tersebut berlaku standar yang terdapat dalam Standar Profesional Akuntan Publik per 1 Agustus 1994 dan Standar Profesional Akuntan Publik per 1 Januari 2001. Setelah tanggal 31 Desember 2001, hanya ketentuan dalam Seksi ini yang berlaku.

Komunitas Blogger Ngawi